Mimpi Boleh, Mengigau Jangan

Aug 01, 2026 - 09:47
0 13
Mimpi Boleh, Mengigau Jangan

Oleh: Sudjarwo

"Mimpi boleh, mengigau jangan" adalah ungkapan yang terasa sederhana banget, tetapi menyimpan pesan moral yang sangat mendalam bagi siapa pun yang memegang amanah kepemimpinan. Mimpi adalah harapan yang disusun dengan akal sehat, perencanaan, kerja keras, dan keberanian menghadapi kenyataan. Sebaliknya, mengigau adalah keadaan ketika seseorang mengucapkan sesuatu tanpa kesadaran penuh, terputus dari realitas, dan sering kali tidak selaras dengan fakta yang sedang dihadapi. Dalam kehidupan berbangsa, perbedaan antara keduanya menjadi sangat penting karena nasib jutaan rakyat dapat dipengaruhi oleh setiap kata, keputusan, dan sikap para pemimpin.

Seorang pemimpin memang harus memiliki mimpi besar. Tidak ada bangsa yang maju tanpa visi yang melampaui keadaan hari ini. Namun, mimpi tidak boleh berubah menjadi ilusi yang memaksa kenyataan mengikuti narasi yang dibangun. Ketika fakta di lapangan menunjukkan kesulitan ekonomi, meningkatnya beban hidup, terbatasnya kesempatan kerja, atau menurunnya kepercayaan publik, maka tugas seorang pemimpin adalah mengakui kenyataan tersebut dengan jujur, bukan menutupinya dengan pernyataan-pernyataan yang terdengar indah tetapi kehilangan pijakan pada kondisi nyata.

Belakangan ini, masyarakat semakin sering menyaksikan pernyataan-pernyataan para pemimpin yang menimbulkan kebingungan. Ucapan yang seharusnya menenangkan justru memicu kegelisahan. Pernyataan yang diharapkan menjadi solusi malah terasa seperti penyangkalan terhadap kenyataan yang dialami rakyat setiap hari. Ketika jarak antara ucapan pemimpin dan pengalaman masyarakat semakin lebar, lahirlah krisis kepercayaan. Rakyat mulai bertanya apakah para pemimpinnya benar-benar memahami apa yang sedang terjadi atau justru hidup dalam ruang yang penuh gema pujian sehingga tidak lagi mampu mendengar suara dari bawah.

Mengigau dalam konteks kepemimpinan bukanlah gangguan medis, melainkan metafora bagi hilangnya kemampuan membedakan antara fakta dan angan-angan. Seorang pemimpin dapat terlihat sibuk berbicara tentang keberhasilan, sementara sebagian masyarakat masih bergumul dengan kebutuhan dasar. Ia dapat terus mengulang optimisme tanpa disertai data yang dapat dipertanggungjawabkan. Bahkan, kritik yang datang dari masyarakat dapat dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai masukan yang perlu didengar. Dalam keadaan seperti ini, kata-kata kehilangan fungsi sebagai alat komunikasi dan berubah menjadi instrumen pembentukan citra semata. 

Padahal, kata-kata seorang pemimpin memiliki daya yang luar biasa. Satu kalimat dapat menggerakkan pasar, membangun optimisme pelaku usaha, menenangkan masyarakat, atau sebaliknya memicu kepanikan dan keresahan. Oleh karena itu, setiap ucapan seharusnya lahir dari kehati-hatian, empati, serta pemahaman yang mendalam terhadap situasi yang sedang dihadapi bangsa. Kata-kata yang tidak dipikirkan secara matang dapat menjadi racun yang perlahan menggerogoti kepercayaan publik. Racun itu tidak selalu berbentuk kebencian, tetapi juga dapat berupa harapan palsu, janji yang terus diulang tanpa realisasi, atau narasi yang memutarbalikkan kenyataan.

Lebih berbahaya lagi ketika lingkungan kekuasaan dipenuhi oleh budaya menyenangkan atasan. Informasi yang sampai kepada pemimpin menjadi tersaring sedemikian rupa sehingga hanya kabar baik yang terdengar. Kritik dianggap sebagai pembangkangan, sementara pujian menjadi ukuran loyalitas. Dalam situasi demikian, pemimpin berisiko kehilangan kemampuan melihat kenyataan secara utuh. Ia tidak lagi memimpin berdasarkan kondisi yang sebenarnya, melainkan berdasarkan gambaran semu yang diciptakan oleh orang-orang di sekelilingnya. Akibatnya, kebijakan yang lahir sering kali tidak menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.

Masyarakat pada era sekarang juga tidak lagi mudah menerima setiap pernyataan sebagai kebenaran mutlak. Akses terhadap informasi membuat rakyat mampu membandingkan ucapan para pemimpin dengan kenyataan yang mereka alami. Ketika terdapat perbedaan yang mencolok, kepercayaan akan terkikis sedikit demi sedikit. Kepercayaan adalah modal sosial yang sangat mahal. Sekali rusak, memulihkannya membutuhkan waktu yang panjang. Karena itu, pemimpin yang bijaksana akan lebih memilih berkata apa adanya daripada membangun citra yang rapuh di atas fondasi kebohongan atau pengingkaran terhadap fakta.

Demokrasi yang sehat juga membutuhkan pemimpin yang bersedia dikoreksi. Tidak ada manusia yang selalu benar. Kesediaan menerima kritik justru menunjukkan kedewasaan dan kekuatan moral. Sebaliknya, kecenderungan menganggap diri paling benar hanya akan melahirkan kebijakan yang semakin jauh dari kebutuhan rakyat. Kritik bukanlah ancaman bagi kekuasaan, melainkan mekanisme agar kekuasaan tetap berada di jalur yang benar. Pemimpin yang anti kritik sesungguhnya sedang menutup jalan menuju perbaikan.

Ungkapan "mimpi boleh, mengigau jangan" menjadi pengingat bahwa kepemimpinan bukan sekadar kemampuan berbicara, melainkan kemampuan menghadirkan kenyataan yang lebih baik melalui tindakan nyata. Rakyat tidak membutuhkan retorika yang berlebihan, tetapi kejujuran, keberanian mengakui kekurangan, serta komitmen untuk memperbaiki keadaan. Mimpi besar akan selalu mendapat tempat dalam perjalanan sebuah bangsa, selama mimpi itu dibangun di atas fakta, nalar, dan kerja nyata. Namun, ketika mimpi berubah menjadi igauan yang menafikan kenyataan, maka setiap ucapan berpotensi menjadi racun yang melemahkan harapan, memecah kepercayaan, dan menjauhkan negara dari cita-cita yang sesungguhnya. Kepemimpinan yang matang bukanlah kepemimpinan yang paling pandai merangkai kata-kata, melainkan yang mampu menjadikan setiap kata sebagai cerminan kejujuran, tanggung jawab, dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat.

Guru Besar Universitas Malahayati

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User