'Ngalah', 'Ngalih', 'Ngamuk'
Oleh: Sudjarwo
Pada khazanah budaya Jawa terdapat ungkapan yang cukup dikenal, yaitu ngalah, ngalih, ngamuk. Ungkapan ini menggambarkan tahapan respons seseorang atau kelompok ketika menghadapi tekanan, ketidakadilan, atau situasi yang dianggap tidak lagi berpihak pada kepentingan bersama. Meskipun bukan konsep baku yang mewakili seluruh masyarakat Jawa maupun seluruh rakyat Indonesia, ungkapan tersebut dapat dibaca sebagai metafora sosial mengenai batas kesabaran manusia.
Dalam konteks Indonesia kontemporer, konsep ini relevan sebagai salah satu lensa untuk memahami bagaimana pembangkangan sosial dapat muncul sebagai akumulasi dari berbagai persoalan yang tidak terselesaikan.
Tahap pertama adalah ngalah (mengalah), yaitu memilih mengalah demi menjaga harmoni. Dalam tradisi Jawa, mengalah bukan berarti lemah atau menyerah tanpa sikap. Sebaliknya, mengalah sering dipandang sebagai bentuk pengendalian diri yang didasarkan pada pertimbangan moral dan sosial. Konflik dihindari sejauh masih memungkinkan penyelesaian secara damai. Kepentingan bersama ditempatkan di atas kepentingan pribadi, sementara kesabaran menjadi modal utama dalam menjaga keseimbangan kehidupan bermasyarakat.
Sikap seperti ini masih dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Berbagai kebijakan yang menimbulkan ketidakpuasan sering kali tidak langsung memperoleh penolakan terbuka. Banyak orang memilih menunggu, memberikan kesempatan bagi keadaan untuk membaik, atau berharap adanya evaluasi dari para pengambil keputusan. Kesabaran menjadi bentuk kepercayaan bahwa setiap persoalan pada akhirnya dapat diselesaikan melalui mekanisme yang tersedia.
Namun, kesabaran memiliki batas. Ketika berbagai persoalan terus berulang tanpa perubahan yang berarti, masyarakat memasuki tahap ngalih. Kata ini dapat dimaknai sebagai berpindah atau beralih. Dalam konteks sosial-politik, ngalih bukan hanya perpindahan secara fisik, tetapi juga perubahan sikap, orientasi, dan kepercayaan. Masyarakat mulai mencari alternatif karena merasa harapan yang selama ini dipertahankan tidak lagi menemukan jawaban.
Pada era kontemporer, bentuk ngalih terlihat dalam berbagai fenomena. Masyarakat dapat beralih memberikan dukungan kepada kelompok lain, membangun gerakan sosial independen, memanfaatkan media digital sebagai ruang kritik, atau menggunakan berbagai mekanisme demokratis untuk menyampaikan ketidakpuasan. Perubahan ini sering berlangsung secara perlahan, tetapi memiliki dampak yang besar terhadap legitimasi sosial. Kepercayaan yang hilang jauh lebih sulit dipulihkan dibandingkan membangun kepercayaan sejak awal.
Perkembangan teknologi informasi mempercepat proses tersebut. Media sosial telah mengubah pola komunikasi masyarakat. Keluhan yang dahulu bersifat lokal kini dapat menjadi isu nasional dalam waktu singkat. Berbagai pengalaman individual bertemu menjadi pengalaman kolektif sehingga mempercepat terbentuknya opini publik. Dalam situasi seperti ini, ketidakpuasan tidak lagi berkembang secara diam-diam, melainkan tumbuh melalui jejaring komunikasi yang sangat luas.
Tahap terakhir adalah ngamuk. Dalam pengertian budaya, istilah ini tidak harus dipahami sebagai tindakan kekerasan, tetapi sebagai simbol meledaknya akumulasi kekecewaan yang telah lama dipendam. Ketika masyarakat merasa saluran dialog tidak lagi efektif, aspirasi tidak memperoleh tanggapan, dan kepercayaan terhadap institusi terus menurun, maka pembangkangan sosial menjadi salah satu bentuk ekspresi yang mungkin muncul.
Pembangkangan tersebut dapat berupa demonstrasi, aksi massa, pemogokan, gerakan sipil, penolakan terhadap kebijakan tertentu, atau bentuk-bentuk resistensi lain yang berlangsung dalam koridor hukum maupun di luar mekanisme formal.
Pada perspektif sosiologi kontemporer, pembangkangan sosial bukanlah peristiwa yang lahir secara spontan. Ia merupakan hasil akumulasi berbagai faktor yang saling berkaitan, seperti meningkatnya ketimpangan sosial, tekanan ekonomi, persepsi terhadap ketidakadilan, lemahnya komunikasi publik, rendahnya kepercayaan terhadap institusi, serta terbatasnya ruang partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Faktor-faktor tersebut tidak selalu langsung memicu konflik, tetapi perlahan membangun rasa frustrasi kolektif yang pada titik tertentu dapat berubah menjadi tindakan bersama.
Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi setiap kepemimpinan. Stabilitas sosial tidak cukup dijaga melalui regulasi, aparat, atau pendekatan administratif semata. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan membaca suasana batin masyarakat. Dalam budaya Jawa dikenal istilah “roso”, yaitu kepekaan terhadap perasaan, harapan, dan kegelisahan yang hidup di tengah masyarakat. Kepekaan semacam ini memungkinkan kebijakan tidak hanya benar secara prosedural, tetapi juga diterima secara sosial.
Era digital membuat dinamika tersebut semakin kompleks. Informasi bergerak jauh lebih cepat dibandingkan proses klarifikasi. Persepsi sering kali terbentuk sebelum penjelasan resmi tersedia. Akibatnya, komunikasi publik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses penyelenggaraan pemerintahan maupun kepemimpinan organisasi. Transparansi, keterbukaan, dan kesediaan mendengar kritik menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Konsep ngalah, ngalih, ngamuk mengajarkan bahwa pembangkangan sosial pada umumnya merupakan tahapan, bukan ledakan yang muncul tanpa sebab. Sebelum masyarakat menunjukkan penolakan secara terbuka, biasanya terdapat fase panjang berupa kesabaran, toleransi, dan upaya mencari jalan damai. Apabila fase-fase tersebut tidak memperoleh respons yang memadai, masyarakat akan mencari alternatif, dan dalam kondisi tertentu dapat mengekspresikan penolakannya secara lebih terbuka. Oleh karena itu, memahami dinamika sosial berarti memahami bahwa setiap gejala pembangkangan sering kali merupakan indikator adanya persoalan yang telah lama terakumulasi. Membaca tanda-tanda tersebut sejak dini jauh lebih konstruktif daripada hanya berfokus pada penanganan gejala ketika ketegangan sosial telah mencapai puncaknya.
*Guru Besar Universitas Malahayati
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0






Comments (0)