Garis Finis di Lorong Waktu

Garis Finis di Lorong Waktu

Oleh: Sudjarwo

Tulisan ini terinspirasi dari membaca banyak sumber tentang kematian dalam konsep filsafat manusia; dan oleh karena itu deskrepsi analisisnya lebih pada dialog batin. Untuk itu dalam membaca adegan dan analisis tulisan ini, mari memposisikan diri sebagai pembaca instrospektif yang naratif. Jika ada kebenaran di sana, sejatinya itu milik Sang Maha Pencipta, dan jika ada kehilafan di sana itu milik penulis, maka ampunkan atasnya. Mari kita mulai dialog imajinatif itu: 

Roh bertanya pada Badan: “Badan, kamu gemetar.”

“Aku lelah,” jawab Badan. “Setiap sendi terasa berat. Napas tidak lagi patuh.”

“Itu tanda waktunya dekat,” kata Roh pelan.

 “Jadi aku akan berhenti?” sergah Badan.

“Iya” Jawab Roh. “Kamu sudah bekerja cukup lama.”

Badan terdiam. “Aku menahan banyak hal,” katanya kemudian. “Sakit, tuntutan, dan keinginan orang lain. Aku bertahan supaya tetap kuat di mata mereka.”

“Dan aku ikut menyesuaikan,” sahut Roh. “Aku belajar diam agar kita tetap diterima.”

“Apakah itu salah?” Jawab Badan. Roh menjawab, “Tidak. Tapi itu melelahkan.”

Badan menarik napas pendek. “Aku berharap mereka yang dekat akan tinggal sampai akhir.”

“Sebagian tinggal,” kata Roh, “sebagian hanya dekat dalam jarak, bukan dalam penerimaan.”

“Aku takut dilepas,” bisik Badan.

“Kamu tidak dilepas,” jawab Roh lembut. “Kamu diselesaikan.”

“Apa yang akan kamu bawa nanti?” kata Badan kepada Roh.

“Aku membawa semua yang jujur,” kata Roh. “Yang pura-pura akan tertinggal di sini, bersamamu.”

Badan terasa lebih ringan. “Jadi aku boleh berhenti berusaha?”

“Iya,” kata Roh. “Tidak perlu lagi kuat. Tidak perlu lagi cukup bagi semua orang.”

Hening sejenak.

“Kalau aku diam selamanya,” tanya Badan, “kamu baik-baik saja?”

Roh menjawab sambil tersenyum. “Aku justru baru mulai berjalan.”

Badan menghembuskan napas terakhir.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “kita sampai di garis finis bersama.”

Dialog itu adalah gema terakhir sebelum langkah memasuki lorong yang sesungguhnya. Setelah percakapan dengan malaikat pencabut nyawa berakhir, tidak ada lagi tanya-jawab, tidak ada lagi tawar-menawar batin. Yang tersisa hanyalah kesadaran penuh bahwa manusia itu telah sampai pada garis finis di lorong kematian, sebuah ruang batin di mana hidup tidak lagi dinilai dari lamanya waktu, melainkan dari kejujuran yang akhirnya muncul.

Percakapan singkat tersebut menyingkap sesuatu yang selama hidup kerap disembunyikan: bahwa di ujung perjalanan, manusia tidak berhadapan dengan penilaian orang lain, melainkan dengan dirinya sendiri. Malaikat tidak menanyakan pencapaian, tidak menyebut nama orang-orang terdekat, dan tidak mengungkit siapa yang setia atau yang menjauh. Ia hanya berbicara tentang pelepasan. Sebab lorong kematian bukan tempat pembelaan, melainkan tempat berhenti membawa beban.

Dalam bayangan banyak orang, garis finis kematian seharusnya dipenuhi wajah-wajah akrab, tangan-tangan yang menggenggam erat, dan kalimat perpisahan yang hangat. Namun pengalaman batin manusia modern sering berbeda. Di lorong itu justru muncul kesadaran yang sunyi: bahwa kedekatan yang selama ini diyakini tidak selalu berarti kehangatan. Banyak relasi dibangun dari kebiasaan, kewajiban, dan peran, bukan dari penerimaan yang utuh. Maka ketika tubuh melemah dan perannya runtuh, maka yang tersisa hanyalah rasa; diterima atau tidak, jujur atau pura-pura.

Lorong kematian bekerja seperti cermin panjang. Setiap langkah memantulkan ulang keputusan-keputusan kecil yang diambil selama hidup: kapan memilih diam agar tidak ditolak, kapan mengalah agar tetap dianggap baik, kapan menekan diri demi menjaga kedekatan. Semua itu mungkin terlihat wajar ketika hidup masih panjang. Namun di dekat garis finis, pilihan-pilihan itu menampakkan konsekuensinya. Bukan dalam bentuk hukuman, melainkan kelelahan batin yang mendalam.

Dialog dengan malaikat menegaskan bahwa kelelahan itu bukan kegagalan. “Kamu hidup,” katanya, “itu bukan kegagalan.” Kalimat ini terasa sederhana, tetapi dalam konteks lorong kematian, ia menjadi penawar. Hidup tidak diukur dari seberapa disukai seseorang oleh yang terdekat, melainkan dari keberanian untuk hadir sebagai diri sendiri. Sayangnya, keberanian ini sering datang terlambat, ketika tubuh tak lagi memberi kesempatan untuk memperbaiki relasi atau mengulang kejujuran.

Dalam kehidupan kontemporer, relasi kerap dipoles dengan keharmonisan semu. Konflik dihindari, perbedaan disamarkan, dan kejujuran ditunda demi menjaga stabilitas. Kedekatan menjadi sesuatu yang fungsional, bukan emosional. Kita dekat karena tinggal bersama, bekerja bersama, atau terikat struktur sosial yang sama. Namun kedekatan semacam ini rapuh. Ia bertahan lama, tetapi sering meninggalkan kehampaan yang baru terasa ketika segalanya harus dilepas.

Lorong kematian mengajarkan bahwa tidak semua relasi perlu dibawa sampai garis finis. Malaikat berkata, “Kamu tidak akan membawa siapa pun.” Kalimat ini bukan ancaman, melainkan pembebasan. Manusia tidak dituntut untuk menuntaskan semua harapan orang lain sebelum pergi. Ia hanya diminta untuk membawa dirinya sendiri, tanpa peran dan tanpa topeng. Di titik ini, rasa bersalah karena tidak cukup bagi semua orang perlahan kehilangan maknanya.

Garis finis di lorong waktu adalah juga lorong kematian, dengan demikian, bukan sekadar akhir biologis, melainkan puncak refleksi eksistensial. Ia memaksa manusia mengakui bahwa hidup tidak pernah sepenuhnya tentang orang lain. Relasi penting, kedekatan bermakna, tetapi semuanya menjadi rapuh ketika tidak dibangun di atas kejujuran terhadap diri sendiri. Di ujung lorong, keheningan bukan selalu kesepian; sering kali ia adalah kelegaan karena tidak lagi harus berpura-pura.

Ketika malaikat akhirnya berkata, “Ayo, garis finis sudah di depanmu,” itu bukan ajakan menuju kegelapan, melainkan undangan menuju kejujuran terakhir. Kematian, dalam kerangka ini, bukan musuh yang harus ditakuti, tetapi cermin yang terlambat kita lihat. Ia memantulkan bagaimana kita mencintai, bagaimana kita mendekat, dan bagaimana kita perlahan menjauh dari diri sendiri demi diterima.

Garis finis itu harus dilewati sendirian, maka semoga kesendirian itu bukan dipenuhi penyesalan karena terlalu lama hidup dalam kepura-puraan. Semoga ia diisi oleh ketenangan sederhana: bahwa pada akhirnya, manusia itu berhenti berlari, berhenti menyesuaikan diri, dan tiba sebagai dirinya sendiri; utuh, jujur, dan tanpa perlu lagi disukai.