Ketika Sebuah Kampung Hilang dari Peta, Puisi Menjaganya Tetap Hidup

Sep 26, 2026 - 12:42
0 3
Ketika Sebuah Kampung Hilang dari Peta, Puisi Menjaganya Tetap Hidup

Teraslampung.com, Bandarlampung  — Ada tempat yang bisa hilang dari peta, tetapi tidak selalu bisa dihapus dari ingatan.

Pada suatu pagi pada 1933, tanah Suoh di Lampung Barat berguncang. Rumah-rumah roboh. Jalan terbelah. Orang-orang mencari keluarga mereka di antara reruntuhan. Lanskap berubah, dan sebuah kampung bernama Air Tarung seperti ditelan oleh sejarah.

Hampir satu abad kemudian, kampung itu kembali disebut. Bukan melalui peta, arsip pemerintahan, atau laporan sejarah, melainkan melalui puisi.

“Tidak ada yang memberi tahu tanah bahwa pagi itu ia akan kehilangan namanya.”

Larik pembuka puisi “Air Tarung: Suoh, 1933—Ketika Sebuah Kampung Hilang dari Peta” karya Sigit Jatmiko itu menjadi pintu masuk untuk menghidupkan kembali sebuah peristiwa yang nyaris tinggal nama.

Puisi tersebut ditetapkan sebagai Pemenang Utama Penghargaan Sastra Udo Z Karzi 2026, setelah melalui penjurian terhadap 116 karya dengan tema “Toponimi Lampung Barat: Cerita, Sejarah, Mitos, dan Legenda Nama-Nama Tempat di Bumi Sekala Brak.”

Yang menarik, kemenangan Sigit bukan terutama karena ia berhasil menjejalkan sebanyak mungkin nama tempat ke dalam puisi. Justru sebaliknya. Ia membuat nama tempat berhadapan dengan manusia.

Suoh bukan lagi sekadar wilayah geografis. Air Tarung bukan sekadar titik dalam peta. Way Laga bukan hanya nama yang menunjukkan lokasi. Nama-nama itu menjadi rumah, kehilangan, luka, dan ingatan.

Peta yang tak Mampu Menyimpan Luka

Dalam catatan penjurian, penyair dan budayawan Udo Z Karzi melihat kekuatan puisi Sigit pada kemampuannya mempertemukan tempat dan manusia, sejarah dan ingatan, serta bencana dan pengalaman kehilangan.

Puisi itu tidak mencoba menjadi laporan sejarah tentang gempa Liwa 1933. Peristiwa sejarah justru dipindahkan ke wilayah pengalaman batin.

Rumah yang runtuh menjadi kehilangan. Jalan yang terbelah menjadi keterputusan. Orang-orang yang mencari keluarganya menjadi kesunyian.

Dan sebuah kampung yang menghilang dari peta berubah menjadi pertanyaan tentang apa yang tersisa setelah sebuah tempat tidak lagi dikenali sebagaimana sebelumnya.

“Peta, dalam puisi ini, hanya mampu memberikan garis, titik, dan nama. Peta tidak mampu menggambarkan seorang ibu yang kehilangan anak. Peta tidak mempunyai warna untuk rumah yang tinggal separuh,” tulis Udo dalam catatan penjurian.

Di titik itulah puisi bekerja dengan cara yang berbeda.

Peta mencatat lokasi. Puisi mencatat pengalaman. Peta dapat menunjukkan di mana sebuah kampung berada. Puisi mencoba menjawab apa arti kampung itu bagi manusia yang pernah tinggal di dalamnya.

Sigit tidak mengubah Suoh menjadi lanskap romantik dengan gunung, sungai, kabut, dan panorama. Ia memilih melihatnya sebagai ruang yang menyimpan tragedi.

Ada rumah yang pernah berdiri. Ada keluarga yang pernah tinggal. Ada manusia yang harus pergi. Ada benda-benda sederhana yang mungkin dibawa sebagai sisa kehidupan. Dan ada nama tempat yang berusaha dipertahankan agar tidak ikut mati.

“Setelah membaca puisi ini, Suoh bukan lagi sekadar nama wilayah. Air Tarung bukan sekadar nama tempat. Way Laga bukan sekadar nama geografis. Semuanya berubah menjadi ingatan,” tulis Udo.

Dari Nama Tempat Menjadi Ingatan

Di sinilah toponimi memperoleh makna yang lebih luas. Nama tempat pada mulanya tampak sederhana. Sebuah nama di papan jalan. Sebuah nama di peta. Sebuah nama yang disebut ketika orang menunjukkan arah.

Di balik nama itu bisa tersimpan cerita tentang perpindahan manusia, perang, bencana, leluhur, kepercayaan, hubungan dengan alam, bahkan kehilangan.

Penghargaan Sastra Udo Z Karzi 2026 mencoba masuk ke wilayah tersebut.

Dari 116 puisi yang diterima, dewan juri menyaring 70 karya sebelum menetapkan 10 nomine. Kesepuluh karya itu memperlihatkan cara yang berbeda dalam membaca Bumi Sekala Brak.

Ada yang menempuh jalur atmosfer budaya. Ada yang masuk melalui mitologi dan sejarah. Ada yang membaca kolonialisme dan perubahan zaman. Ada pula yang menjadikan legenda, bahasa Lampung, silsilah, dan pengalaman pulang sebagai pintu masuk.

Sepuluh nomine itu adalah A’yat Khalili dengan “Di Antara Tiang-Tiang Kayu Pesagi, Hidup pun Bersaksi”; Bambang Widiatmoko (“Tetesan Dewa”); Christya Dewi Eka (“Tidak Ada Dunia Cepat Saji di Bumi Sekala Brak”); Husni Hamisi (“Sejak Satu Anak Tangga Dicabut dari Langit”); M. Anton Sulistyo (“Danau Ranau dan Ikhtiar Asmara Rakian Sukat”); Muhammad Sarjuli (“Kronika Tanah Paksi: Silsilah yang Ditulis Angin”); Sigit Jatmiko; Toto ST Radik (“Sekala Brak, Rusuk Empat Utusan”); Zabidi Yakub (“Gelintang jak Pesagi Lunik (Puyang Kutipok Butayuh Balak)”); dan Zaky Satria (“Sekala Brak, Nama yang Pulang dari Tiga Arah”).

A’yat, misalnya, menghadirkan Pesagi, kopi, lada, damar, tapis, rumah adat, Hahiwang, Kenali, Ranau, dan Suoh dalam atmosfer budaya yang kuat.

Bambang memilih jalan mitologis dan historis dengan Sekala Brak sebagai pusat asal-usul, tradisi, dan ingatan leluhur.

Christya mempertemukan sejarah, kolonialisme, megalitikum, Islam, kopi, dan perubahan zaman dalam puisi panjangnya. Husni menggunakan metafora anak tangga yang dicabut dari langit untuk berbicara mengenai keterputusan masyarakat dengan sejarah, keadilan, dan kekuasaan.

M. Anton mengolah legenda Rakian Sukat dan Danau Ranau melalui kisah asmara. Muhammad Sarjuli membawa pembaca menyusuri tanah Paksi dengan kekayaan nama tempat, adat, mitologi, sejarah, dan istilah budaya.

Toto ST Radik memilih bentuk yang lebih ringkas dan simbolis melalui metafora “rusuk empat utusan”. Zabidi Yakub menghadirkan cerita lokal tentang bunyi gelintang dari Pesagi Lunik dengan bahasa Lampung dan glosarium.

Sementara Zaky Satria membaca Sekala Brak melalui kemungkinan asal berupa daun, air, dan batu, kemudian menghubungkannya dengan pengalaman pulang, kehilangan, ibu, dan pencarian asal-usul.

Beragam cara membaca itu menunjukkan bahwa sebuah tempat tidak pernah hanya memiliki satu cerita.

Puisi-Puisi yang Menjaga Nama

Selain 10 nomine, dewan juri menetapkan 60 puisi pilihan.

Di antaranya “Sekala Brak” karya Alexander Robert Nainggolan, “Kulintang Pekhing: Suara yang Pulang dari Sekala Brak” karya Christian Heru Cahyo Saputro, serta “Kesedihan yang Bercabang: Pohon Belasa Kepampang” karya Listio Wulan Nur Mutaqin.

Alexander mengolah Pesagi, rumah panggung, Suku Tumi, aksara Kaganga, Belasa Kepampang, dan lamban balak melalui kepadatan citraan serta kesadaran sejarah.

Christian menjadikan bunyi sebagai pintu menuju ingatan budaya. Kulintang Pekhing tidak berhenti sebagai benda atau alat musik, tetapi menjadi metafora tentang bagaimana pengetahuan berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Listio menghadirkan Pohon Belasa Kepampang sebagai pusat ingatan mengenai Tumi, Ratu Sekerumong, kepaksian, dan konflik sejarah.

Dengan demikian, 60 puisi pilihan itu bukan sekadar daftar karya yang lolos seleksi. Masing-masing seperti potongan kecil dari sebuah peta kebudayaan yang jauh lebih besar.

Peta itu tidak hanya berisi nama gunung, sungai, kampung, dan wilayah.

Ia juga berisi suara. Cerita. Mitos. Kematian. Cinta. Perpindahan. Dan kerinduan untuk pulang.

Memilih di Antara 116 Suara

Bagi Udo Z Karzi, penjurian sastra bukanlah perkara mencari karya yang sempurna.

Setiap karya memiliki kekuatan sekaligus keterbatasan.

Tidak masuk 10 besar bukan berarti sebuah puisi buruk. Sebaliknya, menjadi nomine juga tidak berarti sebuah karya tanpa kekurangan.

Penilaian mempertimbangkan aspek estetik, tematik, kebaruan pendekatan, kedalaman penghayatan, kekuatan bahasa, dan daya tinggal karya setelah selesai dibaca.

Pada puisi Sigit, dewan juri masih menemukan sejumlah persoalan teknis, seperti konsistensi kapitalisasi dan tanda baca, salah ketik, serta beberapa bagian yang masih mungkin dipadatkan.

Namun, persoalan tersebut tidak menghapus kekuatan keseluruhan puisi. Sebab, pada akhirnya, sebuah puisi tidak hanya diuji oleh ketepatan teknisnya.

Ada pertanyaan yang lebih panjang umurnya: setelah selesai membaca, apakah pembaca melihat sebuah tempat dengan cara yang berbeda?

Pada “Air Tarung”, tempat itu adalah Suoh. Sebuah nama yang mungkin bagi banyak orang hanya terdengar seperti nama wilayah di Lampung Barat.

Tetapi setelah puisi dibaca, nama itu membawa sesuatu yang lain: rumah-rumah yang roboh, manusia yang mencari keluarga, tanah yang berubah, dan sebuah kampung yang pernah ada.

Kampung yang Tidak Jadi Hilang

Penghargaan itu akhirnya seperti mempertemukan dua jenis ingatan.

Ingatan yang disimpan sejarah dan ingatan yang disimpan puisi.

Yang pertama membutuhkan arsip, tanggal, dokumen, peta dan catatan. Yang kedua bekerja melalui imaji, bunyi, metafora dan perasaan.

Keduanya tidak harus saling menggantikan. Sebab, ada hal-hal yang mungkin dapat dijelaskan oleh sejarah, tetapi hanya bisa dirasakan melalui puisi.

Air Tarung adalah salah satunya.

Pada 24 September 2026, penetapan penghargaan dilakukan di Bandar Lampung. Sigit Jatmiko sebagai Pemenang Utama memperoleh hadiah uang Rp2,5 juta, buku digital, dan sertifikat. Sembilan nomine lainnya masing-masing memperoleh Rp250 ribu, buku digital, dan sertifikat. Sementara 60 puisi pilihan mendapatkan buku digital dan sertifikat.

Namun, mungkin hadiah terbesar puisi itu bukan berada pada angka yang tercetak di lembar penghargaan.Melainkan pada kemungkinan bahwa sebuah nama yang nyaris hilang kembali disebut.

Bahwa sebuah kampung yang tidak lagi mudah ditemukan di peta dapat kembali ditemukan dalam ingatan. Bahwa bencana yang terjadi hampir seabad lalu dapat mengetuk kesadaran generasi yang bahkan tidak pernah melihat reruntuhannya.

Dan bahwa sebuah puisi dapat melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan peta.

Ia dapat mengembalikan manusia ke tempat yang telah kehilangan namanya.

“Jika sebuah kampung dapat hilang dari peta, puisi menunjukkan bahwa kampung itu tidak harus hilang dari ingatan,” tulis Udo.

Barangkali, pada akhirnya, itulah perjalanan sesungguhnya dari “Air Tarung”.

Dari sebuah nama tempat menjadi sebuah cerita.

Dari sebuah cerita menjadi luka.

Dari luka menjadi ingatan.

Dan dari ingatan, sebuah kampung menemukan jalan pulang.

(Christian Saputro)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User