Ketika Raja Kehilangan Kantuknya

Sep 16, 2026 - 14:25
0 5
Ketika Raja Kehilangan Kantuknya

Oleh: Sudjarwo

Sore itu, setelah menempuh perjalanan panjang dari negeri jauh, sang raja akhirnya kembali ke istana. Wajahnya tampak pucat, langkahnya berat, dan matanya menyimpan kelelahan yang belum sempat disembunyikan. Lawatan berhari-hari telah menguras tenaga, sementara urusan kerajaan menunggu di depan mata, sedangkan usia sudah tidak muda lagi.

Para pengawal menyambut dengan hormat, para pejabat menundukkan kepala, dan pelayan segera menyiapkan tempat beristirahat, karena baginda tidak memiliki permaisuri. Namun sebelum sempat melepas pakaian kebesaran, beberapa orang kepercayaan datang membawa setumpuk dokumen. Mereka mengatakan ada perkara penting yang membutuhkan tanda tangannya segera. Sang raja hanya mengangguk. Dalam keadaan tubuh dan pikirannya yang letih, ia menerima berkas itu tanpa banyak bertanya.

Di antara dokumen tersebut terselip sebuah surat yang tampak biasa. Isinya ditulis dengan bahasa resmi, penuh kalimat panjang dan istilah hukum yang sulit dicerna dalam keadaan tergesa. Surat itu menyatakan bahwa seorang menteri akan diberhentikan dari jabatannya. Menteri tersebut bukan sembarang orang. Selama bertahun-tahun, dialah yang paling sering berdiri di sisi raja ketika keadaan kerajaan menghadapi persoalan. Ia dikenal berani menyampaikan pendapat, bahkan ketika pendapat itu tidak menyenangkan telinga penguasa. Karena itulah, sebagian orang yang memiliki kepentingan besar merasa keberadaannya mengganggu. Mereka membutuhkan kesempatan, dan kelelahan sang raja malam itu menjadi celah yang tidak mungkin mereka biarkan berlalu begitu saja.

Seorang pejabat membacakan bagian-bagian penting dengan suara tenang. Ia mengatakan keputusan itu diperlukan demi kelancaran pemerintahan, ketertiban administrasi, dan kepentingan kerajaan. Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada perdebatan. Tidak ada alasan bagi sang raja untuk mencurigai bahwa sebuah permainan sedang berlangsung di hadapannya. Sang raja mengambil pena. Tangannya bergerak mengikuti kebiasaan seorang penguasa yang sejak kecil telah diajarkan bahwa dokumen kerajaan harus diselesaikan dengan cepat. Tanda tangan pun tergores di atas kertas. Setelah itu, berkas ditutup dan dibawa pergi. Sang raja kemudian masuk ke ruang peraduan, berharap dapat tidur panjang setelah perjalanan melelahkan yang baru saja dilaluinya.

Pagi berikutnya datang bersama cahaya yang menyelinap melalui jendela. Setelah bangun dan menikmati sarapan, sang raja mulai menerima laporan harian. Ketika daftar agenda dibacakan, ia mendengar nama menteri yang selama ini menjadi andalannya tidak lagi tercantum. Mula-mula ia mengira ada kesalahan. Ia meminta penjelasan. Para pejabat saling berpandangan sebelum salah seorang menjawab bahwa pemberhentian itu telah disahkan melalui tanda tangan sang raja sendiri.

Seketika ingatan tentang malam sebelumnya muncul kembali. Sang raja terdiam. Ia mengingat setumpuk berkas, kalimat yang dibacakan dengan cepat, dan pena yang bergerak di tangannya. Baru saat itu ia memahami apa yang telah terjadi, tetapi keputusan sudah memiliki kekuatan hukum.

Sejak dahulu, seluruh kerajaan mengenal satu prinsip yang tidak pernah diperdebatkan: sabda raja adalah undang-undang. Ketika keputusan telah ditandatangani, tidak mudah bagi siapa pun untuk mengatakan bahwa raja sebenarnya tidak bermaksud demikian. Para pejabat menjalankan perintah sesuai dokumen, bukan sesuai dugaan tentang keadaan hati penguasa.

Sang raja pun berada dalam keadaan yang serba sulit. Ia dapat merasa tertipu, dapat menyesal, bahkan dapat mempertanyakan dirinya sendiri, tetapi seluruh perangkat pemerintahan telah bergerak mengikuti keputusan yang secara sah berasal dari tangannya. Ia kemudian memanggil beberapa penasihat, menanyakan proses pemberhentian itu, dan memperoleh jawaban bahwa semuanya berlangsung sesuai prosedur. Tidak seorang pun berani menyebut adanya siasat.

Beberapa saat kemudian, tibalah waktu pelantikan menteri baru. Aula istana dipenuhi pejabat, pengawal, dan undangan. Sang raja duduk di singgasananya dengan wajah tenang, meskipun pikirannya masih dipenuhi pertanyaan. Nama menteri baru diumumkan, lalu orang itu maju untuk menerima sumpah jabatan. Sang raja memandangnya cukup lama. Di belakang wajah-wajah resmi yang tersusun rapi, ia mulai mengenali pola yang sebelumnya luput dari perhatiannya.

Orang-orang tertentu tampak terlalu puas. Beberapa orang yang selama ini berseberangan dengan menteri lama berdiri lebih dekat ke pusat kekuasaan. Tidak ada satu pun yang secara terang-terangan mengatakan bahwa semua itu telah dirancang sejak awal, tetapi suasana aula seakan menyimpan percakapan yang tidak terucapkan. 

Setelah upacara selesai, sang raja kembali ke ruangannya. Di atas meja terdapat salinan keputusan pemberhentian yang telah ditandatanganinya sendiri. Ia membacanya perlahan, kali ini tanpa kantuk, tanpa lelah, tanpa perjalanan panjang, dan tanpa suara pejabat yang mendesak agar segera selesai. Setiap kata terasa berbeda. Ia melihat betapa mudahnya sebuah keputusan besar melewati dirinya ketika ia terlalu lelah untuk memeriksa. Ia juga menyadari bahwa orang yang paling dipercayainya kini telah kehilangan jabatan bukan karena perintah yang sengaja ia pikirkan, melainkan karena selembar surat yang ditandatanganinya dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar akan akibatnya. Di luar ruangan, persiapan pemerintahan baru terus berjalan, sementara sang raja masih memegang salinan keputusan itu dengan tangan yang perlahan menegang. 

*Guru Besar Universitas Malahayati

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User