Pakar Fotografi Layang-Layang Asal Lampung Jadi Narasumber di Jogja Kite Festival 2026

Pakar Fotografi Layang-Layang Asal Lampung Jadi Narasumber di Jogja Kite Festival 2026

Teraslampung.com, Yogyakarta — Fotografi udara berbasis layang-layang atau Kite Aerial Photography (KAP) akan menjadi salah satu agenda dalam Jogja Kite Fest 2026 yang digelar di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta, pada 7–9 Juli 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan pameran sekaligus workshop yang memperkenalkan kembali teknologi fotografi udara yang berkembang jauh sebelum era drone.

Pameran berlangsung di Atrium Agape UKDW dengan menampilkan dokumentasi foto udara, peralatan KAP, kamera khusus, serta teknologi otomatis yang digunakan untuk mengambil gambar dari ketinggian menggunakan tenaga angin.

Workshop KAP dijadwalkan pada 7 Juli 2026 pukul 13.00 WIB. Sejumlah narasumber dari Indonesia dan luar negeri akan terlibat, di antaranya peneliti Auto Kite Aerial Photography berbasis Arduino, Dr. Ir. Martinus, S.T., M.Sc.; praktisi dan pengembang Auto Kite Aerial Photography asal Lampung, Ir. Anshori Djausal, M.T.; serta Saša Iskrić Smrekar dari Slovenia yang aktif mengembangkan komunitas KAP internasional.

Anshori Djausal mengatakan teknologi KAP pernah menjadi salah satu metode penting dalam pemetaan dan dokumentasi wilayah sebelum penggunaan drone berkembang luas.

“Jauh sebelum drone populer, KAP sudah digunakan untuk membantu pemetaan kawasan pesisir, dokumentasi bentang alam, survei lingkungan, hingga penelitian lapangan. Teknologi ini relatif murah, mudah dibawa ke lokasi terpencil, dan mampu menghasilkan foto udara berkualitas baik,” kata Anshori.

KAP merupakan salah satu metode fotografi udara tertua yang berkembang sejak akhir abad ke-19. Teknologi ini dikenal setelah fotografer Prancis Arthur Batut berhasil mengambil foto udara menggunakan kamera yang digantungkan pada layang-layang. Metode tersebut kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan ilmiah, pemetaan, dan dokumentasi arkeologi.

Di Indonesia, perkembangan KAP beririsan dengan tradisi layang-layang yang telah lama berkembang di sejumlah daerah, seperti Bali, Sulawesi, dan pesisir Jawa. Memasuki era fotografi digital, teknologi ini kembali dimanfaatkan oleh peneliti dan komunitas untuk menghasilkan citra udara beresolusi tinggi dengan biaya relatif rendah.

Meski saat ini penggunaan drone lebih populer, KAP masih memiliki sejumlah keunggulan. Selain ramah lingkungan dan minim kebisingan, teknologi ini tidak bergantung pada baterai berkapasitas besar serta memungkinkan pengguna memahami karakter angin dan kondisi atmosfer secara langsung.

Perkembangan mikrokontroler seperti Arduino juga mendorong lahirnya sistem Auto Kite Aerial Photography yang memungkinkan kamera bergerak dan mengambil gambar secara otomatis saat diterbangkan. Teknologi tersebut dinilai berpotensi dimanfaatkan untuk pemetaan partisipatif, pendidikan sains, dokumentasi budaya, hingga eksplorasi seni visual.

Penyelenggara menyatakan workshop terbuka bagi fotografer, mahasiswa, pelajar, komunitas layang-layang, peneliti, pegiat lingkungan, maupun masyarakat umum yang ingin mengenal alternatif fotografi udara yang lebih berkelanjutan. Peserta akan memperoleh sertifikat, konsumsi, serta kesempatan mengikuti praktik penerbangan KAP di lapangan.

Melalui penyelenggaraan Jogja Kite Fest 2026, Yogyakarta kembali menjadi ruang pertemuan antara kreativitas, riset, dan budaya. Festival ini juga mengingatkan kembali pada peran layang-layang dalam perkembangan teknologi fotografi udara sebelum kehadiran drone modern.

 Christian Saputro