Negeri Palsu
Oleh: Sudjarwo
Menjelang Idhul Adha lalu ada seorang jurnalis profesional yang sangat mumpuni pada bidangnya, dan sangat jago buat menulis, beliau ngudoroso (bahasa Jawa yang makna bebasnya kegiatan ngobrol sama diri sendiri dalam hati); mengatakan bahwa banyak pihak yang tiba-tiba pandai menulis bagus, ternyata dibantu oleh program buatan yang sedang marak sekarang.
“Obrolan sanubari” sang jurnalis tadi ditanggapi banyak teman, termasuk penulis, bahwa hal seperti itu sedang mewabah di negeri palsu. Bahkan, kini kepalsuan justru dilakukan terang-terangan, seolah menjadi bagian normal dari kehidupan bersama. Yang dipalsukan bukan lagi sekadar tanda tangan atau dokumen kecil, melainkan hal-hal yang seharusnya menjadi fondasi moral sebuah bangsa: pendidikan, ekonomi rakyat, ibadah, bahkan ilmu pengetahuan.
Kepalsuan itu sebenarnya secara filosofis selalu lahir dari dua hal: yaitu keserakahan dan pembiaran. Keserakahan mendorong orang mencari keuntungan tanpa kerja keras, sementara pembiaran membuat kebohongan tumbuh tanpa rasa takut. Dalam keadaan seperti itu, kejujuran menjadi sesuatu yang dianggap bodoh. Orang yang bekerja sungguh-sungguh kalah cepat dibanding mereka yang memanipulasi keadaan.
Masyarakat perlahan belajar bahwa penampilan lebih penting daripada isi, simbol lebih dihargai daripada kualitas, dan citra lebih menentukan daripada integritas.
Ijazah palsu bukan hanya soal lembar kertas. Ia adalah pengkhianatan terhadap pendidikan itu sendiri. Pendidikan seharusnya menjadi jalan pembentukan karakter, disiplin, dan kemampuan berpikir. Namun ketika ijazah dapat dibeli atau direkayasa, maka ilmu kehilangan makna. Gelar tidak lagi mencerminkan kemampuan, melainkan sekadar akses terhadap kekuasaan dan pekerjaan.
Akibatnya, ruang publik dipenuhi orang-orang yang mungkin memiliki jabatan, tetapi miskin kompetensi. Mereka berbicara tentang masa depan tanpa pemahaman, mengambil keputusan tanpa kapasitas, dan memimpin tanpa keteladanan. Mereka yang paling dirugikan adalah yang belajar dengan jujur selama bertahun-tahun, sebab usaha mereka terasa tidak ada nilainya di tengah budaya manipulasi.
Di sektor ekonomi rakyat, kepalsuan juga menemukan bentuknya sendiri. Nama koperasi yang seharusnya menjadi simbol gotong royong dan kesejahteraan bersama justru dipakai untuk menipu masyarakat kecil. Bagaimana tidak, bangunan koperasi diletakkan pada tempat yang bukan tempatnya; di atas gunung, di lereng jurang, di tengah tambak, di tepi kuburan, dan masih banyak lagi keanehan.
Belum lagi rakyat yang dibiarkan berjuang sendiri, mencari modal sendiri, mencari pelanggan sendiri; begitu kelihatan sedikit bisa bernapas, datang petugas pajak untuk memalak mereka. UMKM yang seharusnya dibina malah dibinasakan.
Pada urusan ibadah kepalsuan tetap mendapat tempat. Dibeli dari anggaran negara, yang berarti itu uang rakyat, justru hewannya atas nama pejabat tertinggi negeri ini. Padahal kurban seharusnya menjadi simbol keikhlasan dan pengorbanan. Ketika ibadah dicemari penipuan, yang akan rusak adalah nilai spiritual masyarakat. Main cantiknya; ketika hari penyembelihan tiba, kawan terbang ke luar negeri atas nama tugas negara. Padahal di dalam negerinya sendiri tugas masih amat sangat berjibun.
Paling menyedihkan lagi adalah ketika kepalsuan merambah dunia akademik menyangkut riset dan ilmu pengetahuan. Ilmu seharusnya menjadi cahaya bagi kemajuan bangsa, tetapi kini ada penelitian yang dibuat dengan pola menipu, data yang dimanipulasi, dan publikasi dikejar hanya demi mendapatkan cuan. Angka-angka disusun bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk dimanipulasi. Bahkan jati diri penelitipun ikut dimanipulasi alias dipalsukan. Bagaimana mungkin sebuah negara bisa maju jika fondasi pengetahuannya dibangun di atas kebohongan ?. Secara filosofis jika hakekat ontologis sudah dipalsukan; maka tinggal menunggu saja kehancuran peradaban akademik suatu negara.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kepalsuan bukan lagi perilaku individu semata, melainkan sudah menjadi budaya yang merembes ke berbagai lini kehidupan. Kita hidup di zaman ketika banyak orang lebih sibuk terlihat hebat daripada benar-benar menjadi hebat. Media sosial memperparah keadaan dengan memberi panggung besar bagi pencitraan. Banyak orang rela memoles kehidupan agar tampak sukses, religius, pintar, dan peduli, meski kenyataannya kosong.
Masyarakat akhirnya terbiasa menilai sesuatu dari kemasan, bukan dari isi. Dalam situasi seperti itu, kebohongan menjadi mudah diterima karena orang lebih menyukai ilusi daripada kenyataan. Joged di atas panggung dua tahun lalu yang kita saksikan, ternyata hasilnya derai air mata yang kita tuai hari ini.
Kepercayaan adalah fondasi utama kehidupan berbangsa. Tanpa kepercayaan, pendidikan kehilangan wibawa, ekonomi kehilangan stabilitas, ibadah kehilangan makna, dan ilmu pengetahuan kehilangan kehormatan. Masyarakat yang saling curiga akan sulit bersatu membangun masa depan. Semua orang akan sibuk melindungi diri masing-masing karena tidak lagi yakin pada sistem maupun sesama warga.
Sebuah bangsa tidak menjadi besar karena banyaknya slogan yang diproduksi, melainkan karena keberanian mempertahankan kebenaran yang harus ditegakkan kapanpun juga. Negeri yang dipenuhi kepalsuan mungkin masih tampak megah dari luar, tetapi rapuh di dalam. Cepat atau lambat, kebohongan akan runtuh oleh beratnya sendiri. Pertanyaannya tersisa adalah: ketika semua topeng itu jatuh, apakah negeri ini masih memiliki cukup orang jujur untuk menyelamatkannya ?
Entahlah.
*Guru Besar Universitas Malahayati
S






