Macan Kertas

Sep 11, 2026 - 13:46
0 6
Macan Kertas

Oleh: Sudjarwo

Di sebuah negeri, dulu pernah santer kabar ada sosok mengagumkan yang diyakini sebagian orang akan menjadi sosok andalan penuntas banyak masalah negeri tersebut. Banyak orang menyebut sosoknya sebagai macan Asia. Bahkan mungkin macan dunia.

Pidatonya berapi-api serupa auman keras macan. Taringnya dipamerkan, cakarnya diperlihatkan, seolah-olah segala persoalan negeri ini akan diterkam tanpa ampun.

Rakyat dibuat percaya bahwa akan lahir keberanian baru, pemimpin baru, dan perubahan besar yang selama ini dinantikan. Buaian tentang kesejahteraan, keadilan, kedaulatan, pemberantasan korupsi, keberpihakan kepada rakyat kecil, serta perbaikan kehidupan menjadi senjata ampuh untuk merebut kepercayaan. Rakyat pun memberikan mandat dengan harapan yang besar.

Namun, setelah kursi kekuasaan berhasil diduduki, sesuatu yang aneh mulai terlihat. Auman yang dahulu menggelegar perlahan kehilangan suara. Macan yang katanya siap menerkam justru lebih sering berjalan mengitari kandang sendiri. Keberanian yang dipertontonkan sebelum berkuasa seperti menguap bersama tepuk tangan pelantikan. Janji-janji yang dahulu disampaikan dengan penuh keyakinan mulai terdengar seperti rekaman kusut yang semakin tidak relevan dengan kenyataan.

Di sinilah istilah “macan kertas” terasa tepat. Dari kejauhan tampak gagah dan menakutkan, tetapi ketika diuji oleh keadaan, ternyata tidak sekuat yang dibayangkan. Ia terlihat berbahaya dalam kata-kata, tetapi tidak berdaya ketika harus berhadapan dengan persoalan nyata. Rakyat yang dahulu dibuat kagum akhirnya bertanya: ke mana keberanian itu pergi?

Tentu, memimpin sebuah negeri bukan pekerjaan sederhana. Persoalan negara tidak dapat diselesaikan hanya dengan pidato atau kemauan pribadi. Ada birokrasi, anggaran, kepentingan politik, tekanan ekonomi, persoalan global, serta berbagai persoalan lama yang saling bertumpuk. Tidak adil jika setiap janji dituntut selesai dalam hitungan hari. Rakyat pun sebenarnya memahami bahwa perubahan membutuhkan proses.

Tetapi memahami proses bukan berarti menerima segala bentuk kegagalan tanpa batas. Rakyat masih bisa memaklumi keterlambatan, tetapi sulit menerima ketidakkonsistenan. Rakyat dapat memahami keterbatasan, tetapi sulit memahami mengapa janji yang dahulu begitu mudah diucapkan kini begitu mudah dilupakan. Yang paling menyakitkan bukan sekadar ketika sebuah program gagal, melainkan ketika pemimpin seolah tidak lagi merasa memiliki kewajiban moral untuk menjelaskan kepada rakyat mengapa kegagalan itu terjadi.

Lebih menyedihkan lagi ketika rakyat melihat adanya jarak yang semakin lebar antara kehidupan mereka dengan kehidupan orang-orang yang berada di lingkaran kekuasaan. Ketika masyarakat kecil harus berhitung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara perdebatan politik justru dipenuhi perebutan pengaruh dan kepentingan. Ketika rakyat diminta berkorban demi negara, tetapi mereka tidak selalu melihat pengorbanan yang sama dari para pemegang kekuasaan.

Pada saat kampanye, rakyat disebut sebagai pemilik negeri. Setelah kekuasaan diperoleh, rakyat sering hanya disebut ketika dibutuhkan. Suara rakyat dicari ketika pemilu tiba, tetapi ketika keputusan penting dibuat, suara itu terkadang terdengar terlalu jauh. Inilah yang membuat kekecewaan semakin dalam. Rakyat merasa hanya menjadi penting ketika suara mereka diperlukan, bukan ketika kebijakan harus dibuat.

Pemimpin semestinya memahami bahwa kekuasaan bukan hadiah, melainkan amanah. Jabatan bukan mahkota yang membuat seseorang lebih tinggi daripada rakyat, melainkan tanggung jawab yang membuatnya harus lebih banyak bekerja. Seorang pemimpin tidak boleh hanya pandai mengaum di hadapan kamera. Ia harus berani mengambil keputusan ketika keputusan itu tidak populer. Ia harus berani mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah, bahkan ketika menghadapi tekanan dari orang-orang di sekelilingnya.

Rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang sempurna. Mereka membutuhkan pemimpin yang nyata. Jika sebuah janji tidak dapat dipenuhi, katakan dengan jujur. Jika sebuah kebijakan keliru, akui dan perbaiki. Jika keadaan memaksa perubahan arah, jelaskan alasannya. Kejujuran mungkin tidak selalu menghasilkan tepuk tangan, tetapi jauh lebih berharga daripada retorika yang pada akhirnya melahirkan kekecewaan.

Sebab yang paling mahal dari sebuah pemerintahan bukan sekadar anggaran yang salah digunakan atau program yang gagal dilaksanakan. Yang paling mahal adalah hilangnya kepercayaan rakyat. Ketika kepercayaan itu runtuh, pidato sehebat apa pun tidak akan mudah dipercaya. Auman sekeras apa pun tidak lagi membuat rakyat gentar atau kagum. Mereka sudah belajar melihat perbedaan antara kata-kata dan kenyataan.

Maka, “ternyata macan kertas” bukan sekadar ungkapan untuk mengejek pemimpin yang tidak sesuai harapan. Ia adalah tamparan terhadap kekuasaan yang terlalu banyak menjual harapan tetapi terlalu sedikit menghadirkan bukti. Rakyat tidak membutuhkan macan yang hanya tampak ganas dalam gambar. Rakyat membutuhkan keberanian yang hadir dalam tindakan, kebijakan yang terasa dalam kehidupan, dan kepemimpinan yang tetap memegang janji meskipun sorotan kamera telah padam.

Rakyat mungkin bisa lupa pada slogan, tetapi mereka tidak akan lupa pada penderitaan. Mereka mungkin lupa pada janji kampanye, tetapi akan mengingat apakah kehidupan mereka benar-benar berubah. Seorang pemimpin boleh mengaum sekeras apa pun sebelum berkuasa, tetapi setelah memperoleh mandat, hanya tindakan yang akan membuktikan apakah ia benar-benar macan atau sekadar macan kertas.

Salam waras!

*Guru Besar Universitas Malahayati

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User