Dua Buku Sastra Dwibahasa Indonesia-Lampung Akan Diluncurkan di Taman Budaya Lampung
Teraslampung.com, Bandarlampung — Dua buku sastra dwibahasa Indonesia-Lampung akan diluncurkan di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung, Selasa, 29 September 2026. Kedua buku tersebut masing-masing berjudul Seaninongan - Batas Atas yang Dijaga Angin dan Yang Belum Selesai Menjadi Nama.
Ketua pelaksana peluncuran, Fitri Angraini, mengatakan kedua buku tersebut merupakan hasil program Kemah Sastra dan Bengkel Sastra yang digelar di Villa Kedaung, Bandarlampung, pada 2026.
“Sebanyak 20 peserta lolos kurasi untuk mengikuti Kemah Sastra dan 20 lainnya mengikuti Bengkel Sastra. Total ada 40 penulis muda yang karyanya dihimpun dalam dua buku,” kata Fitri, Senin, 21 September 2026.
Kemah Sastra didukung program Indonesiana, yang kini menjadi Indonesia Raya, melalui pendanaan perorangan. Sementara Bengkel Sastra ditaja Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS dengan dukungan Badan Bahasa untuk Komunitas Sastra 2026.
Fitri mengatakan, panitia menerima sekitar 80 naskah sebelum melakukan seleksi.
Untuk menjaga independensi proses kurasi, panitia melibatkan sastrawan asal Jakarta Nanang R. Supriyatin, serta sastrawan Lampung Djuhardi Basri dan Isbedy Stiawan ZS. Akademisi Universitas Lampung Yinda Dwi Gustira juga dilibatkan dalam proses tersebut.
Kedua buku itu pada awalnya ditulis dalam bahasa Indonesia. Karya-karya tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Lampung.
Menurut Fitri, penerjemahan tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas penggunaan bahasa Lampung sekaligus merawat bahasa ibu.
“Ini juga upaya menjaga bahasa Lampung agar tidak punah seperti yang selama ini diprediksi karena kurangnya penggunaan bahasa tersebut di masyarakat,” ujar Fitri yang juga Direktur Lamban Sastra. Ia didampingi panitia Diah Rizki Nur Khalifah.
Peluncuran buku pertama, Seaninongan - Batas Atas yang Dijaga Angin, dijadwalkan berlangsung pukul 08.00 WIB hingga selesai. Sementara Yang Belum Selesai Menjadi Nama diluncurkan pada pukul 13.00 WIB hingga selesai.
Panitia menargetkan sedikitnya 100 undangan menghadiri kedua agenda tersebut. Mereka berasal dari kalangan pelajar SMP dan SMA, mahasiswa, pegiat sastra dan literasi, serta seniman Lampung.
Untuk peluncuran Seaninongan, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Lampung dijadwalkan hadir sekaligus membacakan salah satu puisi karya peserta Kemah Sastra.
Adapun dalam peluncuran Yang Belum Selesai Menjadi Nama, sambutan dijadwalkan disampaikan Kepala Balai Bahasa Provinsi Lampung.
Program Kemah Sastra menghadirkan Ari Pahala Hutabarat, Arman AZ, Isbedy Stiawan ZS, Yinda Dwi Gustira dari Program Studi Bahasa Lampung Universitas Lampung, serta Devin Cumbuan Putri dari UIN Raden Intan Lampung sebagai pemateri.
Sementara Bengkel Sastra menghadirkan Djuhardi Basri, penyair sekaligus dosen Universitas Muhammadiyah Kotabumi; Nanang R. Supriyatin; Ari Pahala Hutabarat; Isbedy Stiawan ZS; dan Yinda Dwi Gustira sebagai narasumber dan kurator.
Antologi Seaninongan - Batas Atas yang Dijaga Angin memuat karya Aini Kamelia, Laura Masyitha Alya Nurdiono, M. Alif Al Ghifari, Salsa Alfira Vidya, Imamatu Solihah, Truly Indah Mitra Sari, Karaissa Naraya Baginda, Ara Alifa Azucena, Rina Riantina, Cykal Qv Ichiya Putri, Alisza Nasabilla Azahra, Romadhon Jaya, Siti Nurdina Fitriani, Khendra Putra Al Kausar, Sinta Nurmala Dewi, Risma Pramudita, Yuvanka Prasista, Amanda Sharfina Mahawisnu, Dian Alia Ananta, dan Muhammad Hatta.
Sedangkan antologi puisi Yang Belum Selesai Menjadi Nama menghimpun karya Arifatul Mukaromah, Alvindo Saferli, Alyaroza Nabiila Zaki, Aulia Citra Lestari, Ayu Auliya, Dwi Yulianti, Dzafirah Adeliaputri Isbedy, Erzha Anaya Nabila Hafidh, Fitri Amalia, Jessica Rahma Wati, Keyza Bunga Jaya, M. Ichsan Zulkarnain, Mutiara Nunvia, Nadia Sebrina Mutiara, Nayla Ramadhani, Nazifa Ghassani, Nesiya Chacha Amanda Aurorah, Rina Riantina, Risma Pramudita, serta Setiady Rosasi, S.H.
Fitri mengatakan penerbitan dua antologi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai dokumentasi karya. Menurut dia, penggunaan bahasa Lampung dalam karya sastra dapat menjadi salah satu cara mempertemukan generasi muda dengan bahasa daerah melalui medium yang dekat dengan mereka.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)