Kesendirian yang Mengantar pada Kepulangan
Oleh: Sudjarwo
Kontemplasi sendirian di rumah memang menyenangkan sekaligus menakutkan. Ada jeda yang panjang antara satu tarikan napas dan tarikan berikutnya, seakan waktu melunak dan membiarkan jiwa menyentuh dirinya sendiri. Di ruang yang sepi, suara detak jam menjadi zikir yang berulang, dan cahaya yang menembus jendela seperti tangan halus yang mengusap kepala. Kesendirian menghadirkan ruang untuk lebih khusyuk beribadah, untuk menundukkan hati tanpa distraksi, untuk berbicara dengan Yang Maha Mendengar tanpa perlu mengeraskan suara. Dalam sunyi, doa terasa lebih jujur. Ia tidak perlu bersaing dengan riuh dunia; ia meluncur perlahan, seperti air yang menemukan celah di antara batu-batu.
Rumah yang biasanya hanya menjadi tempat beristirahat berubah menjadi ruang tafakur. Lantai yang dingin menyerap jejak langkah yang pelan, seakan mengingatkan bahwa setiap pijakan adalah perjalanan menuju akhir. Dinding-dinding memantulkan bisikan doa, menyimpannya dalam gema yang tak terdengar. Di sana, sujud bisa berlangsung lebih lama, napas bisa diatur dengan tenang, dan air mata jatuh tanpa perlu ditahan. Tidak ada yang menyela, tidak ada yang mengetuk pintu, tidak ada percakapan yang memecah konsentrasi. Hanya ada keheningan yang menyelimuti, membiarkan hati membuka lapisan-lapisan yang selama ini tertutup oleh kesibukan dan tuntutan dunia.
Saat dalam kesendirian, seseorang bisa menimbang ulang hidupnya. Kesalahan-kesalahan lama muncul seperti bayangan di sudut ruangan, menunggu untuk diakui. Penyesalan yang selama ini ditekan perlahan mengemuka, meminta pengampunan. Ada kelegaan yang lahir ketika hati berani berkata jujur kepada dirinya sendiri dan kepada Tuhannya. Kesendirian memberi kesempatan untuk memperbaiki niat, meluruskan kembali arah yang sempat melenceng. Ia menjadi ruang penyucian, tempat jiwa dicuci dari debu-debu yang menempel sepanjang perjalanan.
Namun, kesunyian yang sama dapat berubah wajah ketika malam turun perlahan. Cahaya meredup, bayangan memanjang, dan pikiran mulai berjalan ke arah yang lebih gelap. Di sela-sela doa, terlintas pertanyaan yang tak selalu nyaman: bagaimana jika malaikat maut datang saat tak seorang pun berada di sekitar? Bagaimana jika napas berhenti di antara sajadah dan lantai, dan tubuh terbaring tanpa saksi? Rumah yang tadi terasa hangat mendadak menjadi ruang yang terlalu luas untuk satu tubuh yang tak lagi bergerak.
Ketakutan itu tidak semata tentang kematian, melainkan tentang waktu yang terulur tanpa kabar. Tentang hari-hari yang berlalu sebelum keluarga menyadari bahwa seseorang telah pergi. Pintu yang tetap terkunci, telepon yang berdering tanpa jawaban, pesan yang hanya berstatus terkirim. Bayangan paling getir adalah tubuh yang terbaring lama, perlahan membusuk dalam diam, sebelum akhirnya ditemukan oleh kecurigaan atau aroma yang tak lagi bisa disembunyikan. Betapa panjang sunyi yang demikian, betapa hampa akhir yang tak segera diketahui siapa pun.
Pikiran semacam itu seperti angin dingin yang menyelinap di sela-sela keimanan. Ia menguji keteguhan hati: apakah kesendirian ini benar-benar pilihan yang mendekatkan diri pada Tuhan, atau justru jarak yang memperbesar kemungkinan dilupakan? Manusia diajarkan bahwa kematian adalah kepastian, dan waktu kedatangannya adalah rahasia Ilahi. Tidak ada yang bisa menawar, tidak ada yang bisa menunda. Namun, sebagai makhluk yang lemah, tetap ada keinginan untuk ditemani di detik-detik terakhir, untuk ada tangan yang menggenggam atau suara yang membisikkan kalimat-kalimat penguat.
Kesendirian menyadarkan bahwa pada akhirnya setiap jiwa memang akan menghadap sendiri. Tak ada keluarga, tak ada sahabat, tak ada harta yang menyertai melewati batas antara hidup dan mati. Hanya amal dan rahmat yang menjadi bekal. Dalam perenungan itu, ketakutan perlahan bergeser makna. Ia tidak lagi sekadar takut pada tubuh yang membusuk tanpa diketahui, tetapi takut pada hati yang mungkin belum cukup bersih, pada doa yang mungkin belum sungguh-sungguh, pada waktu yang mungkin terbuang percuma. Jika kematian datang dalam sunyi, bukankah yang terpenting adalah kesiapan jiwa, bukan cepat atau lambatnya jasad ditemukan?
Tetap saja, manusia adalah makhluk yang merindukan kehadiran. Ada kehangatan dalam mengetahui bahwa seseorang akan mencari ketika kita tak memberi kabar. Ada penghiburan dalam keyakinan bahwa kehilangan kita akan disadari, bahwa keberadaan kita memiliki arti bagi orang lain. Ketakutan akan mati sendirian sejatinya adalah cerminan dari kebutuhan untuk diingat, untuk diakui pernah ada, untuk dirindukan setelah tiada. Rumah yang sunyi menjadi cermin dari pertanyaan itu: sejauh mana hidup kita terhubung dengan kehidupan orang lain?
Mungkin jawabannya bukan dengan menghindari kesendirian, melainkan dengan mengisinya secara utuh dan seimbang. Kontemplasi yang sejati bukan hanya tentang memperbanyak ibadah dalam sepi, tetapi juga menata hubungan dengan sesama selagi masih ada waktu. Mengabari keluarga, menyapa sahabat, memperbaiki hubungan yang retak, meninggalkan jejak kebaikan di hati orang lain. Dengan begitu, jika suatu hari malaikat maut benar-benar datang di antara dinding-dinding rumah yang sunyi, kepergian itu tidak sepenuhnya sepi. Ada doa yang menyusul, ada langkah yang bergegas, ada pelukan terakhir yang mungkin terlambat namun tetap tulus.
Sunyi akan selalu menjadi ruang yang ambigu; ia bisa menjadi taman yang menumbuhkan iman, sekaligus lorong yang memperbesar ketakutan. Di sanalah manusia belajar tentang makna hadir dan hilang, tentang jarak dan kedekatan, tentang hidup yang sementara dan mati yang pasti.
Di antara sajadah dan pintu yang terkunci, di antara doa dan bayangan kematian, tersimpan pelajaran tentang kefanaan. Bahwa hidup, betapapun sunyinya, tetap berharga selama ia dipenuhi kesadaran dan cinta. Dan bahwa mati, betapapun sendirinya, akan menemukan maknanya ketika jiwa telah siap kembali, dengan hati yang lapang dan harap yang tidak pernah padam.
*Guru Besar Universitas Malahayati



