Petikan Senar Kemanusiaan Irjen Helmy untuk Jurnalis Tri Purna Jaya

Petikan Senar Kemanusiaan Irjen Helmy untuk Jurnalis Tri Purna Jaya
Irjen Helmi Santika saat berkunjung ke kediaman jurnalis Tri Purna Jaya.

TERASLAMPUNG.COM, BANDAR LAMPUNG – Ruang tamu sederhana di Perumahan Griya Damai, Bandar Lampung, mendadak riuh oleh tawa renyah pada Jumat (29/5/2026) siang. Di sana, Irjen Pol Helmy Santika, Pati Itwasum Polri, menyambangi sahabat lamanya, Tri Purna Jaya, jurnalis senior Kompas.com yang tengah berjuang melawan penyakit ensefalopati hepatik.

Di antara obrolan hangat yang jauh dari kesan protokoler, Helmy memainkan melodi lagu ciptaannya sendiri, "Teman Sejati". Petikan senar itu bukan sekadar hiburan, melainkan simfoni kemanusiaan yang membuktikan bahwa persahabatan mampu melampaui sekat jabatan dan profesi.

 Harmoni yang Tak Lekang Waktu

Ikatan keduanya terjalin erat saat Helmy menjabat sebagai Kapolda Lampung periode 2023–2025. Di luar urusan dinas, mereka menemukan bahasa yang sama lewat kecintaan pada musik, khususnya dentuman gitar listrik. Kini, saat Tri terbaring lemah di atas kasur lantai, melodi itu hadir kembali sebagai penyalur kasih sayang dan penyemangat hidup.

"Jangan dulu mikirin kerjaan. Fokus sembuh saja dulu. Berita bisa dikejar nanti, tapi kesehatan itu yang paling penting," pesan Helmy lembut kepada sahabatnya.

Mantan Kapolda Lampung ini memahami betul ritme kerja jurnalis yang sering kali mengorbankan kesehatan. Jam kerja yang tak menentu, makan tak teratur, hingga istirahat yang berantakan sering menjadi musuh utama.

 "Profesi wartawan itu capek. Jadi sekarang manfaatkan waktu buat pemulihan sampai benar-benar fit lagi," tambahnya.

Lagu "Teman Sejati" yang mengalun siang itu menjadi refleksi mendalam tentang arti kehadiran seorang kawan, baik di saat suka maupun duka. Perhatian tulus ini pun mengetuk hati berbagai pihak, termasuk pemangku kebijakan di Lampung, untuk turut mengawal proses kesembuhan Tri.

Asa di Tengah Ujian

Bagi Tri, kehadiran sosok bintang dua itu bukan sekadar kunjungan kehormatan, melainkan pertemuan antarjiwa yang saling menguatkan. Ia mengaku tak menyangka masih mendapat perhatian sebesar itu di tengah kondisi tubuhnya yang sedang drop.

 "Saya benar-benar nggak nyangka beliau mau datang langsung. Senang rasanya masih diingat dan diperhatikan," ujar Tri dengan suara pelan namun penuh syukur.

 "Tadi banyak ketawa juga. Beliau memang dari dulu kalau ngobrol nggak pernah kaku. Jadi saya merasa seperti lagi ketemu teman lama, bukan sedang dijenguk pejabat," tambahnya.

 Siang itu, dentuman gitar listrik seakan kalah merdu dibandingkan harmoni kemanusiaan yang tercipta. Pertemuan singkat itu menjadi bukti nyata bahwa di atas segala aturan dan pangkat, nilai kemanusiaanlah yang tertinggi dan paling abadi. (*)