Ketika Anugerah Datang Tanpa Rencana
Oleh: Sudjarwo
Manusia kerap meyakini bahwa segala sesuatu harus diraih dengan usaha yang terukur dan direncanakan dengan matang. Sejak kecil, kita diajarkan untuk menetapkan target, mengejar impian, dan tidak berhenti sebelum tujuan tercapai. Bahkan tidak jarang ditambah dengan laku prihatin untuk meraihnya.
Pola pikir ini tidak sepenuhnya keliru, karena ikhtiar adalah bagian dari tanggung jawab manusia. Namun, seiring berjalannya waktu, pengalaman hidup perlahan mengajarkan satu hal yang jauh lebih dalam: bahwa tidak semua keindahan lahir dari sesuatu yang dikejar, dan tidak semua kebahagiaan datang dari rencana yang disusun dengan sempurna.
Ada fase dalam hidup ketika manusia merasa sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi hasil yang diharapkan tak kunjung tiba. Doa-doa seolah menggantung di langit, usaha terasa melelahkan, dan harapan mulai rapuh. Di titik inilah banyak orang mulai mempertanyakan takdir, bahkan meragukan makna kesabaran. Padahal, justru pada saat seperti itulah skenario Allah sedang bekerja dengan cara yang paling halus. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk yang spektakuler, melainkan melalui proses yang perlahan membentuk kedewasaan batin.
Skenario Allah sering kali melampaui nalar manusia. Apa yang kita anggap baik belum tentu membawa kebaikan jangka panjang, dan apa yang kita anggap buruk bisa saja menjadi jalan menuju keselamatan. Manusia melihat hidup dalam potongan waktu yang pendek, sementara Allah melihat keseluruhan perjalanan. Karena itulah, ketika seseorang tidak mendapatkan apa yang ia kejar, bukan berarti ia gagal, melainkan sedang diarahkan pada sesuatu yang lebih sesuai dengan kebutuhannya sebagai hamba.
Keindahan takdir sering kali justru muncul saat manusia tidak lagi sibuk mengejar. Ketika niat hati menjadi lebih sederhana, tidak penuh ambisi dan tuntutan, ruang untuk menerima anugerah menjadi lebih luas. Dalam keadaan tidak berisik oleh keinginan, hati menjadi lebih peka terhadap tanda-tanda kebaikan yang Allah hadirkan. Anugerah pun datang bukan sebagai hasil paksaan, melainkan sebagai hadiah yang menyapa dengan lembut.
Allah memberi bukan karena manusia telah mencapai kesempurnaan, tetapi karena kasih sayang-Nya tidak bergantung pada pencapaian hamba. Ada kemudahan yang tiba-tiba datang di tengah kesulitan, ada jalan keluar yang terbuka tanpa pernah direncanakan, dan ada pertolongan yang hadir dari arah yang sama sekali tidak terduga. Semua itu seakan mengingatkan bahwa kuasa Allah tidak dibatasi oleh logika sebab-akibat yang diyakini manusia.
Ketika seseorang tidak pernah berpikir untuk mengejar sesuatu, lalu tiba-tiba mendapatkannya, di situlah manusia belajar tentang makna percaya. Percaya bahwa apa yang ditakdirkan tidak akan tertukar, dan apa yang bukan bagian dari rezeki tidak akan pernah benar-benar menjadi milik kita, sekeras apa pun usaha yang dilakukan. Pemahaman ini bukan untuk melemahkan semangat, tetapi untuk menenangkan hati agar tidak terjebak dalam kecemasan yang berlebihan.
Sering kali manusia terjebak dalam anggapan bahwa kebahagiaan hanya ada di ujung perjuangan. Padahal, ketenangan justru lahir ketika seseorang mampu menerima proses, apa pun hasilnya. Ikhlas bukan berarti berhenti berusaha, melainkan berhenti memaksakan hasil. Ikhlas adalah saat hati tetap lapang meski realitas tidak sesuai harapan, karena yakin bahwa Allah tidak pernah salah dalam menentukan jalan hidup hamba-Nya.
Kemudahan yang diberikan Allah bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia adalah buah dari kesabaran yang panjang, doa-doa yang mungkin tidak lagi diingat, dan keikhlasan yang perlahan tumbuh. Bahkan air mata yang pernah jatuh dalam sepi pun tidak pernah sia-sia. Semua dicatat, semua dirangkai, dan semua akan kembali dalam bentuk kebaikan pada waktu yang paling tepat.
Dalam hidup, manusia membutuhkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Ikhtiar mengajarkan tanggung jawab dan kesungguhan, sementara tawakal menanamkan kesadaran bahwa hasil akhir sepenuhnya berada dalam kuasa Allah. Ketika seseorang hanya berikhtiar tanpa tawakal, ia mudah lelah dan kecewa. Sebaliknya, ketika hanya tawakal tanpa ikhtiar, ia kehilangan peran sebagai manusia yang diberi amanah untuk berusaha. Keseimbangan keduanya melahirkan ketenangan batin yang kokoh.
Pada akhirnya, memahami skenario Allah adalah proses panjang yang tidak instan. Ia tumbuh seiring pengalaman, kegagalan, dan penerimaan. Apa yang dahulu terasa menyakitkan, suatu hari akan dipahami sebagai bentuk perlindungan. Apa yang dahulu terasa sebagai penundaan, kelak disadari sebagai persiapan. Dan apa yang datang tanpa pernah diminta, akan dikenang sebagai anugerah paling indah.
Ketika manusia sampai pada titik ini, hidup tidak lagi dipenuhi keluhan tentang apa yang belum dimiliki. Hati menjadi lebih sibuk bersyukur atas apa yang ada, dan lebih tenang menanti apa yang akan datang. Ia percaya bahwa setiap takdir membawa pesan, dan setiap perjalanan memiliki tujuan. Dalam keyakinan itulah manusia menemukan kedamaian sejati: saat ia berhenti mencurigai rencana Allah, dan mulai memeluknya dengan penuh kepercayaan.***
*Guru Besar Universitas Malahayati Lampung



