Langkah yang tak Pernah Pulang
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
Sudah menjadi kebiasaan di kantor, jika sudah lebih dari dua jam duduk, maka harus tinggalkan ruangan guna mencari udara segar untuk beberapa saat. Hari itu ternyata tidak sendiri, ada beberapa teman yang juga berangin-angin mencari udara segar diteras lantai lima gedung ini. Dasar kumpulan ilmuwan, diteraspun bicaranya tetap ilmu. Ada diskusi tampak ringan, tetapi sebenarnya berat dan menarik perhatian karena salah seorang diantara kami menyimpulkan bahwa “hidup ini bukan lingkaran, akan tetapi lintasan”; karena itu kita tidak bisa kembali. Menarik pernyataan ini, dan jika dikaji dari sudut pandang filsafat uraiannya akan begitu mendalam.
Manusia kerap kali memandang hidup sebagai sebuah perjalanan. Dalam perjalanan itu, setiap langkah yang diambil membawa kita ke tempat-tempat baru, membuka pengalaman, dan mengukir makna yang tak selalu mudah dipahami. Namun, sering kali manusia tergoda untuk memandang ke belakang, mencari asal-usulnya, dan berharap bisa kembali ke titik mula di mana segalanya tampak sederhana dan murni. Tetapi kehidupan bukanlah lingkaran yang menuntut kita kembali ke awal; ia adalah lintasan yang menuntun kita untuk terus melangkah maju, melanjutkan perjalanan, meski arah yang dituju kadang tak jelas dan jalan yang ditempuh tidak selalu lurus.
Melanjutkan perjalanan berarti menerima bahwa manusia bukan makhluk yang selesai. Ia senantiasa berada dalam proses menjadi. Dalam dirinya bersemayam kerinduan untuk mencapai sesuatu yang melampaui dirinya sendiri. Keadaan ini membuat manusia tidak pernah betul-betul tuntas mengenal siapa dirinya, karena setiap saat ia berubah, bertumbuh, dan berhadapan dengan dunia yang terus bergerak. Keberadaan manusia adalah keberadaan yang dinamis, bukan statis. Ia tidak diciptakan untuk berdiam dalam keutuhan yang telah sempurna, melainkan untuk mengupayakan kesempurnaan itu melalui langkah-langkah yang tak pernah berakhir.
Ketika seseorang ingin “kembali ke asal”, sering kali yang dirindukan adalah kepastian, ketenangan, dan rasa memiliki makna yang utuh. Namun, dunia manusia tidak pernah menawarkan kepastian mutlak. Dalam kenyataan yang penuh ketidaktentuan ini, keinginan untuk kembali justru menjadi bentuk penolakan terhadap kenyataan bahwa hidup adalah pergerakan. Ketenangan sejati bukan ditemukan dalam kembalinya seseorang ke masa lalu, melainkan dalam penerimaan bahwa perubahan dan ketidakpastian adalah bagian dari keberadaannya sendiri. Melanjutkan perjalanan berarti berdamai dengan kemungkinan, dengan waktu yang terus bergulir, dan dengan diri yang selalu berproses.
Hidup manusia juga selalu diwarnai oleh pencarian makna. Setiap tindakan, setiap pilihan, adalah upaya untuk memberi arti pada keberadaan yang sementara. Dalam perjalanan ini, makna tidak menunggu di ujung jalan, melainkan dibangun dari langkah-langkah yang diambil di sepanjang jalan itu. Manusia tidak bisa menemukan makna dengan menoleh ke belakang secara terus-menerus, karena makna bukanlah sesuatu yang sudah selesai di masa lalu. Ia tumbuh bersama pengalaman, bersama perjuangan, bersama kesadaran yang terus berkembang. Melanjutkan perjalanan berarti terus menafsirkan hidup, terus menulis ulang kisah diri, dan menerima bahwa pencarian ini tidak pernah berhenti.
Dalam perjalanan manusia, waktu memainkan peran yang menentukan. Setiap detik yang berlalu tidak bisa diulang, tetapi setiap detik pula membuka kemungkinan baru. Di sinilah manusia belajar tentang tanggung jawab terhadap hidupnya sendiri. Tidak ada jalan yang bisa dilalui dua kali dengan cara yang sama. Maka melanjutkan perjalanan berarti menyadari bahwa setiap pilihan hari ini adalah benih bagi masa depan yang akan tumbuh. Kesadaran ini membuat manusia tidak hanya berjalan secara fisik, tetapi juga secara eksistensial; ia berjalan dalam pengertian, dalam kesadaran, dalam usaha memahami siapa dirinya dan apa yang ingin dicapainya.
Melanjutkan perjalanan juga berarti menolak keputusasaan. Dalam hidup yang penuh keterbatasan, mudah bagi manusia untuk berhenti, menyerah, atau merasa segala upaya tak berarti. Namun, justru dalam keberlanjutan langkah itu makna hidup ditemukan. Keberanian untuk tetap melangkah meski jalan gelap adalah bentuk pengakuan bahwa kehidupan, betapapun rapuh dan singkat, tetap layak dijalani. Harapan tidak selalu berarti mengetahui ke mana kita akan sampai; kadang harapan itu hanya berupa keyakinan bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, memiliki arti bagi keberadaan kita sebagai manusia.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang mencapai titik akhir, melainkan tentang terus bergerak. Tidak ada kepastian bahwa seseorang akan tiba di tempat yang diinginkannya, tetapi ada kepastian bahwa selama ia berjalan, ia hidup. Melanjutkan perjalanan adalah bentuk kesetiaan terhadap hidup itu sendiri, sebuah pengakuan bahwa menjadi manusia berarti terus mencari, terus bertumbuh, dan terus menghadapi misteri yang tak akan pernah selesai dijawab.
Dengan demikian, “bukan kembali ke asal, tetapi melanjutkan perjalanan” bukan sekadar ajakan untuk maju secara fisik atau sosial, melainkan pernyataan filosofis tentang hakikat keberadaan manusia. Hidup tidak meminta kita untuk menjadi sempurna, melainkan untuk setia pada proses menjadi. Dalam langkah yang berkelanjutan itu, manusia menemukan dirinya, bukan sebagai makhluk yang sudah selesai, tetapi sebagai makhluk yang sedang berproses menuju makna yang senantiasa diperbarui. Setiap langkah adalah kelahiran baru, setiap perjalanan adalah kesempatan untuk mengenal diri dan dunia dengan cara yang lebih mendalam.
Maka, biarlah perjalanan itu berlanjut. Biarlah manusia berjalan tanpa perlu menoleh untuk kembali ke asal yang telah jauh tertinggal. Sebab asal bukan tempat untuk pulang, melainkan fondasi dari mana langkah pertama diambil. Dan, selama manusia terus melangkah, selama ia tidak berhenti mencari, selama ia memelihara harapan di tengah ketidakpastian, maka hidupnya tetap menjadi perjalanan yang berarti, sebuah perjalanan yang tak pernah benar-benar berakhir.***



