Singa Podium yang Ruwet
Oleh: Sudjarwo
Negeri ini memiliki pemimpin yang tampak seperti singa ketika berdiri di atas podium. Suaranya lantang, gesturnya tegap gagah, kalimat-kalimatnya penuh keyakinan, dan setiap pidatonya seolah hendak meyakinkan publik bahwa negara berada dalam kendali. Namun, ada ironi yang semakin sulit disembunyikan: keberanian di atas podium tidak selalu berbanding lurus dengan keberhasilan menyelesaikan persoalan. Bahkan, dalam sejumlah keadaan, pidato yang dimaksudkan untuk meredakan masalah justru melahirkan masalah baru.
Di era komunikasi digital, setiap ucapan pemimpin memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar dibandingkan masa sebelumnya. Satu kalimat dapat dipotong dari konteksnya, disebarkan jutaan kali, menjadi bahan perdebatan, lalu berkembang menjadi isu politik baru. Akibatnya, podium bukan lagi sekadar tempat menyampaikan kebijakan. Podium telah berubah menjadi arena perebutan persepsi. Pemimpin berlomba menunjukkan ketegasan, sementara masyarakat menunggu sesuatu yang jauh lebih sederhana, yaitu: hasil.
Persoalan muncul ketika retorika mulai menggantikan penyelesaian. Pemerintah dapat berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, pemerataan, pemberantasan korupsi, kesejahteraan rakyat, reformasi birokrasi, atau keadilan sosial. Namun, semua kata tersebut kehilangan makna apabila kehidupan masyarakat tidak bergerak ke arah yang lebih baik. Harga kebutuhan tetap menekan, lapangan pekerjaan sulit, pelayanan publik berbelit, ketimpangan bertahan, dan rasa keadilan semakin dipertanyakan, pasar semakin sepi pembeli. Dalam kondisi seperti itu, pidato yang terlalu sering menonjolkan keberhasilan justru dapat terdengar seperti upaya mengalihkan perhatian.
Pemimpin memang membutuhkan kemampuan berbicara. Negara tidak mungkin dijalankan tanpa komunikasi. Akan tetapi, komunikasi seharusnya menjadi jembatan antara kebijakan dan masyarakat, bukan pengganti kebijakan itu sendiri. Pidato yang baik semestinya menjelaskan persoalan, mengakui kesulitan, menerangkan pilihan yang tersedia, serta memberikan ukuran yang memungkinkan publik menilai apakah janji benar-benar diwujudkan. Ketika pidato hanya menghasilkan tepuk tangan tanpa perubahan, podium berubah menjadi panggung pertunjukan kekuasaan.
Di sinilah metafora “Singa Podium” menjadi relevan. Singa identik dengan keberanian, kekuatan, dan dominasi. Tetapi dalam pengertian yang lebih ironis, singa podium adalah pemimpin yang tampak perkasa ketika berbicara, namun efektivitas kepemimpinannya justru dipertanyakan ketika harus menghadapi persoalan nyata. Ia mungkin mampu menguasai ruangan, tetapi belum tentu mampu menguasai masalah. Ia mampu memenangkan perdebatan, tetapi belum tentu mampu memenangkan kepercayaan publik.
Kondisi tersebut semakin problematis karena masyarakat kontemporer memiliki kemampuan untuk membandingkan kata dan kenyataan secara langsung. Dahulu, pidato pemimpin dapat menjadi sumber utama informasi bagi masyarakat. Sekarang, masyarakat dapat memeriksa data, membandingkan pernyataan lama dengan pernyataan baru, mencari kesaksian dari berbagai daerah, serta mendokumentasikan kenyataan melalui kamera telepon genggam. Jarak antara narasi kekuasaan dan pengalaman masyarakat menjadi semakin mudah terlihat.
Karena itu, kepemimpinan modern tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan membangun citra. Legitimasinya harus bertumpu pada konsistensi. Apa yang dikatakan harus sejalan dengan apa yang dilakukan. Apa yang dijanjikan harus dapat diukur. Dan apa yang gagal harus dapat dipertanggungjawabkan. Pemimpin yang berani mengatakan “ini belum berhasil” justru dapat memiliki kredibilitas lebih besar daripada pemimpin yang selalu mengklaim keberhasilan.
Masalah terbesar bukan ketika seorang pemimpin melakukan kesalahan. Kesalahan merupakan bagian dari proses pemerintahan. Masalah menjadi jauh lebih serius ketika kesalahan terus-menerus ditutupi oleh retorika. Setiap kritik dibalas dengan pidato baru. Setiap kegagalan dijawab dengan pencitraan baru. Setiap persoalan yang belum selesai dibungkus dengan narasi bahwa keadaan sebenarnya baik-baik saja. Akhirnya, negara terjebak dalam siklus yang melelahkan: masalah muncul, podium digunakan untuk menjelaskan, perdebatan meledak, perhatian publik teralihkan, lalu masalah berikutnya datang tanpa penyelesaian yang tuntas.
Padahal, ukuran kepemimpinan bukanlah seberapa sering seorang pemimpin muncul di hadapan rakyat, melainkan seberapa banyak persoalan yang dapat diselesaikan ketika kamera telah dimatikan. Keberanian sejati bukan hanya keberanian berbicara keras, tetapi keberanian mengambil keputusan yang sulit, menerima kritik, mengakui kegagalan, dan memperbaiki kebijakan berdasarkan kenyataan.
Negeri ini tidak kekurangan pidato; yang sering kurang adalah penyelesaian. Tidak kekurangan slogan; yang dipertanyakan adalah hasil. Tidak kekurangan keberanian di depan mikrofon; yang dibutuhkan adalah keberanian bekerja menghadapi akar persoalan.
Oleh sebab itu; seorang pemimpin tidak akan dikenang hanya karena suaranya pernah menggema di podium. Ia akan dikenang karena perubahan yang ditinggalkannya setelah suara itu berhenti. Sebab rakyat tidak hidup dari pidato. Rakyat hidup dari pekerjaan, harga yang terjangkau, pelayanan yang layak, hukum yang adil, pendidikan yang berkualitas, dan masa depan yang memiliki kepastian.
Jika setiap kali singa naik podium justru muncul masalah baru, maka sudah waktunya publik bertanya: apakah negeri ini benar-benar sedang dipimpin, atau hanya sedang dipertontonkan kepemimpinannya?
Entahlah.
*Guru Besar Universitas Malahayati
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)