Bawa Nama Lampung ke Tiga Festival, Komunitas Anak Sawah Berangkat dengan Dana Sendiri
Teraslampung.com, YOGYAKARTA — Komunitas Anak Sawah, kelompok seni asal Lampung, membawa karya tari daerah itu ke tiga festival kebudayaan di Pulau Jawa. Mereka tampil di Banyumas, Surakarta, dan Yogyakarta pada akhir Agustus hingga September 2026 tanpa dukungan biaya dari pemerintah daerah.
Tiga festival yang diikuti komunitas tersebut adalah Bisik Serayu Festival di Banyumas, Festival Payung Indonesia XIII di Surakarta, dan Asia Tri Project dalam rangkaian Asia Tri Jogja 2026 di Yogyakarta.
Koreografer sekaligus inisiator Komunitas Anak Sawah, Agus Gunawan, mengatakan seluruh biaya untuk mengikuti ketiga festival ditanggung secara mandiri. Padahal, dalam setiap pementasan mereka membawa karya dan identitas budaya Lampung.
“Semua kami lakukan dengan biaya mandiri. Tidak ada bantuan dari pemerintah daerah. Padahal ketika kami tampil, yang kami bawa bukan hanya nama komunitas, tetapi juga nama Lampung,” kata Agus melalui keterangan yang diterima.
Menurut dia, keikutsertaan dalam festival tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan budaya dan pariwisata Lampung kepada masyarakat di luar daerah.
Di Banyumas, Komunitas Anak Sawah tampil di Rianto Dance Studio pada 29-30 Agustus 2026 dalam Bisik Serayu Festival. Festival itu mempertemukan berbagai kelompok seni dengan Sungai Serayu sebagai salah satu konteks perjumpaan kebudayaan.
Dari Banyumas, mereka melanjutkan perjalanan ke Surakarta untuk mengikuti Festival Payung Indonesia XIII di Taman Balekambang. Dalam festival tersebut, Komunitas Anak Sawah membawakan Tari Bedana Payung.
Karya itu merupakan pengembangan dari tari tradisional Bedana dengan payung sebagai elemen utama pertunjukan. Payung digunakan sebagai bagian dari visual tari untuk menggambarkan kebersamaan dan kegembiraan.
Di Yogyakarta, komunitas tersebut mementaskan Cikau Sugeh di Omah Petroek, Pakem, dalam rangkaian Asia Tri Project pada Asia Tri Jogja 2026. Karya itu menjadi bagian dari perjumpaan antara seni tradisi dan ekspresi seni kontemporer.
Bagi Agus, panggung-panggung festival tersebut bukan sekadar tempat mempertontonkan karya. Pertemuan dengan seniman dari daerah lain juga menjadi ruang untuk belajar dan membangun jejaring.
“Festival adalah sarana belajar dan membangun jejaring, bukan sekadar arena unjuk gigi,” ujarnya.
Keikutsertaan Komunitas Anak Sawah dalam tiga festival itu memperlihatkan bagaimana komunitas seni dapat menjadi salah satu jalur promosi kebudayaan daerah. Mereka memperkenalkan karya Lampung melalui panggung yang mempertemukan seniman dari berbagai wilayah.
Namun, seluruh perjalanan tersebut dilakukan tanpa dukungan anggaran pemerintah daerah. Biaya transportasi, akomodasi, produksi, hingga kebutuhan pementasan ditanggung komunitas.
Kondisi itu menjadi persoalan tersendiri bagi kelompok seni yang secara aktif membawa nama daerah ke forum kebudayaan di luar Lampung. Dukungan pemerintah terhadap pelaku kebudayaan selama ini tidak hanya berkaitan dengan penyelenggaraan kegiatan di dalam daerah, tetapi juga fasilitasi ketika karya seni daerah tampil di tingkat nasional.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menempatkan pemerintah sebagai salah satu pihak yang berperan dalam pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan. Persoalannya, akses komunitas seni terhadap dukungan tersebut masih menjadi tantangan.
Agus berharap pemerintah daerah dapat membuka ruang dukungan yang lebih mudah diakses komunitas seni, terutama bagi kelompok yang mendapat undangan atau lolos kurasi festival di luar daerah.
“Kami berharap ke depan ada perhatian terhadap komunitas yang membawa nama Lampung dalam kegiatan nasional,” kata dia.
Hingga berita ini ditulis, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung belum memberikan tanggapan mengenai tidak adanya dukungan pembiayaan bagi Komunitas Anak Sawah dalam mengikuti tiga festival tersebut.
Christian Saputro
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)