Membedah Sisi Spiritual dan Otokritik Sosok 'Sri' dalam Pameran Tunggal Cak Ucup di SURVIVE!Garage

Sep 08, 2026 - 14:50
Updated: 50 minutes ago
0 13
Membedah Sisi Spiritual dan Otokritik Sosok 'Sri' dalam Pameran Tunggal Cak Ucup di SURVIVE!Garage

Teraslampung.com, YOGYAKARTA — Perupa sekaligus salah satu pendiri kolektif Taring Padi, Mohamad Yusuf yang akrab disapa Cak Ucup, resmi membuka pameran tunggalnya bertajuk "SISI SRI" pada Minggu (6/9/2026) malam pukul 19.00 WIB.

Bertempat di galeri SURVIVE!Garage, penulis pameran Katrin Bandel yang mengusung “Kenali babi dalam diri: Mencari pegangan alternatif di tengah hiruk-pikuk dunia pascakolonial” ini menarik perhatian dari para kritikus dan pencinta seni rupa.

Pameran yang akan berlangsung hingga 20 September 2026 ini menampilkan 58 karya yang merekam proses panjang Cak Ucup dalam membangun karakter ikonik bernama Sri. Kehadiran figur perempuan berias penganten Jawa ini menjadi jembatan visual yang kuat dalam memadukan kritik sosial politik yang tajam dengan kedalaman spiritualitas lokal.

Bagian dari Program 'Survive Present' ke-7

Perwakilan dari SURVIVE!Garage, Fitri DK, menjelaskan bahwa pameran tunggal ini merupakan bagian dari program Survive Present, sebuah inisiatif yang dimulai sejak tahun 2022 untuk mendukung, mempromosikan, dan memberikan ruang bagi seniman-seniman yang dekat dengan keluarga besar (familia) Survive Garage.

"Pameran ini menjadi edisi Survive Present yang ketujuh. Menggelar pameran tunggal itu cukup berat, jadi program ini tidak pasti ada setiap tahun, sangat tergantung pada kesiapan senimannya. Untuk tahun ini, Cak Ucup memamerkan sekitar 58 karya yang disesuaikan dengan ketersediaan ruang galeri kami," ujar Fitri DK.

Filosofi Rias Penganten Jawa dan Karakter 'Sri'

Karakter Sri dengan riasan khas penganten Jawa dan bermata hitam menjadi poros utama dalam seluruh dimensi penciptaan Cak Ucup. Menurut sang perupa, pemilihan rias penganten Jawa bukan sekadar dekorasi visual, melainkan sebuah simbol kematangan hidup dan fase transisi yang sakral.

"Sri itu kan perempuan. Penganten Jawa menandai bahwa ia telah matang dan sedang melewati gerbang menuju fase hidup yang baru," ungkap Cak Ucup. Ia menambahkan bahwa karakter Sri berkelindan erat dengan berbagai versi legenda lokal di Indonesia yang kerap menyinggung soal pernikahan, kerelaan, hingga narasi pengorbanan demi kehidupan.

Bagi Cak Ucup, Sri adalah medium otokritik dan ruang ekspresi yang sangat cair. Melalui figur ini, ia merangkum berbagai kegelisahan multidimensi yang berkecamuk di benaknya—mulai dari masalah teologi, ekonomi, sosial-politik, feminisme, hingga isu lingkungan. Sri dipotret berada dalam ruang dan waktu yang riil, bertindak sebagai corong opini, sindiran, maupun pertanyaan atas carut-marut dunia modern.

Antara Eksploitasi Pasar Global dan Pertahanan Batin

Penulis dan kritikus budaya, Katrin Bandel, dalam catatan pamerannya menuturkan bahwa kompleksitas sosok Sri adalah wujud pencarian nilai alternatif di tengah dominasi pasar global pascakolonial. Sri digambarkan secara aktif melakukan aktivitas dasar seperti menanam, memanen, mengandung, dan menyusui yang menyimbolkan pertumbuhan batin sekaligus analogi proses kreatif seorang seniman melahirkan karyanya. Hal ini terefleksi eksplisit dalam karya berjudul Imagination and Knowledge.

Namun, Sri tidak digambarkan terpisah dari realitas pahit. Cak Ucup dengan jeli memotret tantangan riil perempuan Indonesia, seperti menggambarkan Sri sebagai buruh jahit industri fesyen, berdesakan di dalam kendaraan umum, hingga menggenggam smartphone.

Katrin Bandel dan Mohamad Yusuf (Cak Ucup) di depan karyanya berjudul Simbok, 2020, Print On Fabric, 121 X 82 cm.

Salah satu karya terbaru yang menjadi sorotan utama berjudul "Kenali". Karya berupa drawing di atas kain keras yang ditempel pada sajadah batik ini menampilkan sosok Sri memegang sabit dan padi, didampingi seekor babi bertaring besar di antara kakinya serta tulisan “Titis Wereng”. Babi tersebut menjadi simbol dari sifat kerakusan, sebuah ajakan kuat bagi audiens untuk mengenali "hama" dan keburukan yang mengancam kualitas batin di dalam diri sendiri.

Pembukaan yang Sarat Magis dan Nilai Tradisi

Acara pembukaan pameran berlangsung meriah dan sarat akan nuansa spiritualitas dengan pementasan Wayang Beber "Matahari Rakyat" oleh kolektif Taring Padi yang berkolaborasi dengan Cak Udin. Dalam pertunjukan tersebut, Cak Udin membacakan salah satu ayat suci Al-Qur'an mengenai kerusakan di muka bumi akibat ulah tangan manusia, dikombinasikan dengan lantunan lirik-lirik Jawa kuno bermakna tolak bala (penangkal bencana).

Secara visual, karya-karya Cak Ucup memang dikenal padat, dipenuhi detail manusia, sosok misterius bercadar hitam, hiruk-pikuk kota, hingga pengaruh tasawuf yang kuat seperti pada seri kisah sufistik Rabi’ah al-Adawiyyah (When Women in Love).

Pameran "SISI SRI" ini pada akhirnya menjadi sebuah pembuktian seni yang mendalam. Seperti prinsip berkarya yang dipegang teguh oleh Cak Ucup selama hidupnya: "Seni adalah manusia untuk memanusiakan manusia dan memanusiakan keindahan ciptaannya." Melalui pameran ini, manusia pascakolonial tidak lagi diposisikan sebagai korban ketidakadilan yang tidak berdaya, melainkan subjek aktif yang membawa bekal spiritualitas dan ketahanan batin dalam menjalani pertarungan hidup sehari-hari.

 Jajang R Kawentar

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User