Pomparan Raja Silahisabungan Bandarlampung: Merawat Warisan di Tengah Tantangan Zaman
Teraslampung.com, Bandarlampung — Perkumpulan Pomparan (Keturunan) Raja Silahisabungan Bandarlampung melantik kepengurusan baru periode 2026–2029 di Gedung Sinarta, Tanjungsenang, Minggu, 23/8/2026.
Pergantian kepengurusan ini menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan sekaligus menjaga nilai-nilai yang diwariskan Raja Silahisabungan agar tetap relevan dalam kehidupan pomparan di tengah perubahan zaman.
Pelantikan dihadiri oleh para ketua Perkumpulan Pomparan Raja Silahisabungan Bandarlampung dan seluruh anggota.
Rangkaian acara berlangsung dalam suasana akrab dan kekeluargaan. Kegiatan diawali dengan kebaktian, makan bersama, kemudian pelantikan pengurus baru dan penyerahan surat keputusan kepengurusan.
Pengurus Pomparan Raja Silahisabungan Bandar Lampung periode 2026–2029 terdiri atas Freddy Sihaloho sebagai ketua, dr. Mahir Sinabutar sebagai sekretaris, dan M. Tamba sebagai bendahara. Setelah dilantik, pengurus menerima surat keputusan untuk menjalankan roda organisasi sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Dalam sambutannya, Freddy mengajak seluruh pomparan untuk bersama-sama memajukan punguan (perkumpulan) serta membangun rasa memiliki terhadap organisasi. Menurutnya, kepengurusan bukan hanya tanggung jawab mereka yang berada dalam struktur, melainkan tanggung jawab seluruh pomparan.
“Mari bersama-sama menjaga nilai-nilai luhur yang sudah diwariskan oleh Omputta Raja Silahisabungan. Kompak dan saling mengasihi,” kata Freddy melalui siaran pers, Senin (24/8/2026).
Ajakan tersebut menjadi penting karena keberadaan punguan tidak semata-mata berkaitan dengan struktur organisasi. Punguan merupakan ruang untuk merawat hubungan kekerabatan sekaligus menerjemahkan warisan leluhur dalam kehidupan yang terus berubah.
Warisan yang Mengikat Keturunan
Dalam tarombo (silsilah) yang menjadi rujukan Pomparan Raja Silahisabungan, Raja Silahisabungan memiliki dua istri, yakni Pinggan Matio boru Padang Batanghari dan boru Nailing boru Nairasaon.
Dari Pinggan Matio lahir tujuh putra dan seorang putri, sedangkan dari si boru Nailing lahir seorang putra, Tambun Raja. Dengan demikian, Raja Silahisabungan memiliki delapan putra dan satu putri.
Kedelapan putranya adalah Loho Raja, Tungkir Raja, Sondi Raja, Butar Raja, Dabariba Raja, Debang Raja, Batu Raja, dan Tambun Raja. Putri satu-satunya adalah Deang Namora.
Raja Silahisabungan dikenang bukan hanya karena menjadi leluhur dari keturunan yang kemudian berkembang dan tersebar di berbagai tempat. Ia juga meninggalkan warisan nilai yang dimaksudkan untuk menjaga hubungan di antara keturunannya.
Salah satu warisan terpenting itu adalah Poda Sagu-Sagu Marlangan. Dalam pesan tersebut, Raja Silahisabungan menekankan agar anak-anaknya dan keturunannya saling mengasihi, tak menyangkal kesatuan asal-usul, tidak memulai perselisihan, serta menyelesaikan perselisihan dengan keadilan dan tak memihak.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa bagi Raja Silahisabungan, hubungan kekerabatan bukan sekadar fakta genealogis. Hubungan itu harus dijaga melalui sikap, tanggung jawab, dan cara memperlakukan sesama.
Dari Partuturan ke Kehidupan Hari Ini
Pomparan Raja Silahisabungan kini tak hanya hidup di kampung halaman. Mereka tersebar di berbagai daerah, termasuk Bandar Lampung, dengan latar belakang profesi, pendidikan, pengalaman, dan kondisi sosial-ekonomi yang beragam.
Perubahan itu membuat tantangan kehidupan bersama juga berubah. Hubungan kekerabatan tidak lagi berlangsung dalam ruang sosial yang sama seperti masa lalu. Jarak, mobilitas, perubahan pekerjaan, perkembangan teknologi, dan kehidupan yang semakin individual dapat membuat hubungan antarsesama pomparan semakin longgar.
Dalam situasi seperti itu, pesan untuk saling mengasihi memperoleh makna baru. Persaudaraan tidak cukup hanya disebut dalam partuturan (sapaan kekerabatan), tetapi perlu diwujudkan dalam kepedulian, gotong royong, dan kesediaan untuk hadir bagi sesama.
Karena itu, punguan dapat menjadi ruang sosial untuk menjaga hubungan yang mungkin tergerus oleh perubahan zaman. Kegiatan bersama, perhatian kepada anggota yang mengalami kesulitan, hubungan antargenerasi, dan keterlibatan anak-anak muda merupakan bagian dari cara membuat nilai kekerabatan tetap hidup.
Relevansi yang sama dapat dilihat dalam kehidupan ekonomi. Kekerabatan dapat menjadi modal sosial untuk saling membuka akses, berbagi pengalaman, memperluas jaringan, mendukung usaha anggota, dan menciptakan kesempatan.
Dengan demikian, nilai _hamoraon_ tidak berhenti pada keberhasilan individual, tetapi juga dapat dibaca sebagai dorongan untuk membangun kesejahteraan yang memberi manfaat lebih luas bagi komunitas.
Dalam kehidupan sebagai warga negara, warisan Raja Silahisabungan juga memiliki makna. Perbedaan pandangan, pilihan, dan kepentingan merupakan bagian dari kehidupan bersama. Poda Sagu-Sagu Marlangan mengingatkan bahwa perbedaan tak perlu dimulai dari pertikaian, dan perselisihan tidak harus berakhir dengan perpecahan.
Penyelesaian secara adil, imparsial, dan melalui mekanisme yang diakui bersama merupakan nilai yang tetap relevan dalam kehidupan sosial maupun kehidupan publik.
Dengan demikian, warisan Raja Silahisabungan tidak berhenti sebagai pengetahuan tentang masa lalu. Ia dapat menjadi sumber nilai untuk menghadapi persoalan masa kini.
Kepengurusan sebagai Tanggung Jawab Bersama
Dalam konteks itulah periode kepengurusan 2026–2029 memperoleh maknanya.
Pergantian kepengurusan bukan sekadar peralihan nama dalam struktur organisasi. Ia merupakan bagian dari proses menjaga kesinambungan punguan, sehingga tetap mampu menjalankan fungsi sosial dan kulturalnya sekaligus menjawab kebutuhan anggota pada zamannya.
Menurut Freddy, rasa memiliki menjadi penting karena organisasi tidak akan hidup hanya melalui ketua, sekretaris, bendahara, atau struktur kepengurusan lainnya. Keberlangsungan punguan bergantung pada keterlibatan seluruh pomparan.
Bagi komunitas, keterlibatan itu berarti menjaga persaudaraan, merawat adat dan budaya, meneruskan partuturan, serta memastikan generasi berikutnya mengenal akar sejarah. Punguan juga dapat menjadi ruang untuk membangun solidaritas dan saling mendukung dalam menghadapi persoalan kehidupan.
Bagi setiap pribadi, menjadi pomparan Raja Silahisabungan bukan hanya soal mengetahui dari siapa dirinya berasal. Identitas tersebut membawa tanggung jawab untuk menjaga hubungan dengan sesama, menghormati perbedaan, membantu ketika dibutuhkan, serta meneruskan nilai kepada generasi sesudahnya.
Dengan cara itu, warisan leluhur tak menjadi sesuatu yang hanya dikenang dalam acara adat atau pertemuan keluarga. Warisan menjadi nilai yang bekerja dalam kehidupan sehari-hari.(*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)