Ketika Kesombongan Diberi Angka
Oleh: Sudjarwo
Ada kalanya sebuah pernyataan tidak sekadar terdengar berlebihan, tetapi juga memperlihatkan cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ketika seorang pemimpin negeri berani mengatakan bahwa nilai seratus adalah milik Tuhan, sedangkan sembilan puluh sembilan adalah miliknya, publik tentu patut bertanya: dari mana datangnya keberanian sebesar itu? Pernyataan semacam ini bukan hanya persoalan pilihan kata, melainkan menyangkut kesadaran tentang batas antara manusia dan Tuhan, antara kekuasaan dan kerendahan hati, serta antara kepercayaan diri dan kesombongan.
Agama-agama samawi mengatakan, manusia diajarkan bahwa sehebat apa pun kedudukannya, ia tetaplah manusia. Ada batas yang tidak layak dilampaui, terutama ketika seseorang mulai menempatkan dirinya terlalu tinggi di hadapan nilai-nilai ketuhanan. Para nabi, yang menjadi teladan utama dalam kehidupan umat manusia, justru dikenal karena ketundukan, kesabaran, dan kerendahan hati. Mereka tidak menjadikan kedudukan sebagai alasan untuk membesarkan diri. Para sahabat pun demikian. Meski memiliki pengaruh besar dan kedudukan mulia dalam sejarah, mereka tetap mengenal rasa takut kepada Tuhan dan menyadari keterbatasan diri. Para alim yang menghabiskan hidupnya untuk ilmu juga mengajarkan bahwa semakin luas pengetahuan seseorang, semestinya semakin dalam kesadarannya bahwa dirinya bukanlah pusat dari segala sesuatu.
Karena itu, angka sembilan puluh sembilan terasa bukan sekadar angka ketika digunakan untuk menggambarkan nilai diri. Ia menjadi simbol tentang bagaimana seseorang menilai dirinya sendiri. Jika manusia menempatkan dirinya hampir sejajar dengan kesempurnaan, persoalannya bukan lagi soal percaya diri. Persoalannya adalah apakah ia masih memiliki ruang untuk mengakui kesalahan, menerima kritik, dan menyadari bahwa kekuasaan tidak membuat seseorang menjadi makhluk yang sempurna.
Lebih menggelitik lagi ketika pernyataan sebesar itu keluar dari mulut seorang pemimpin negara. Jabatan adalah amanah, bukan sertifikat kesempurnaan. Kekuasaan memberikan kewenangan untuk mengambil keputusan, tetapi tidak memberikan hak untuk menganggap diri paling benar. Seorang pemimpin seharusnya memahami bahwa rakyat tidak membutuhkan sosok yang selalu merasa memiliki nilai tertinggi. Rakyat membutuhkan pemimpin yang mampu berkata, “Saya bisa salah.” Kalimat sederhana itu justru menunjukkan kematangan. Sebaliknya, orang yang merasa dirinya hampir sempurna biasanya akan kesulitan menerima koreksi, sebab kritik akan dianggap sebagai serangan terhadap kebesaran dirinya.
Di sinilah rasionalitas perlu ditempatkan. Masa lalu seseorang, latar belakang pendidikan, karier, maupun pengalaman profesional memang dapat membentuk wataknya, tetapi semua itu tidak otomatis menjadikan seseorang memiliki kebijaksanaan tanpa batas. Pernah menjadi bagian dari institusi tertentu, pernah memegang jabatan tertentu, atau pernah melewati pengalaman hidup yang keras tidak boleh dijadikan ukuran bahwa seseorang lebih tinggi daripada manusia lainnya. Apalagi jika pengalaman tersebut kemudian dipakai sebagai alasan untuk membenarkan sikap merasa paling tahu atau paling hebat, serta paling kuat.
Justru seorang pemimpin yang pernah mengalami berbagai fase kehidupan seharusnya semakin memahami bahwa manusia memiliki keterbatasan. Ia pernah berada di bawah perintah, kemudian mungkin memperoleh kewenangan untuk memerintah. Ia pernah merasakan penilaian orang lain, lalu suatu ketika menjadi orang yang menentukan arah kebijakan bagi banyak orang. Pergantian posisi semacam itu semestinya melahirkan kebijaksanaan, bukan rasa superioritas.
Kepemimpinan yang sehat dibangun dari kesadaran bahwa kekuasaan itu sementara. Kursi dapat berpindah, jabatan dapat berakhir, pujian dapat berubah menjadi kritik, dan popularitas dapat menghilang dalam waktu yang singkat. Yang tersisa bukanlah angka yang pernah diberikan seseorang kepada dirinya sendiri, melainkan jejak kebijakan, keteladanan, dan manfaat yang ditinggalkannya.
Karena itu, masalah terbesar dari pernyataan tersebut bukan sekadar apakah kalimatnya pantas atau tidak pantas. Masalah yang lebih mendasar adalah cara berpikir yang berada di belakangnya. Seorang pemimpin seharusnya tidak sibuk memberikan nilai tinggi kepada dirinya sendiri. Biarlah rakyat yang menilai, sejarah yang mencatat, dan Tuhan yang menentukan kedudukan manusia yang sebenarnya.
Manusia yang benar-benar besar biasanya tidak perlu mengumumkan kebesarannya. Ia justru semakin rendah hati ketika memiliki kekuasaan. Ia semakin berhati-hati ketika memiliki pengaruh. Ia semakin takut menyakiti ketika memiliki kewenangan. Sebab ia memahami satu hal yang sangat sederhana: manusia boleh memiliki kekuasaan besar, tetapi tidak pernah menjadi pemilik kesempurnaan. Ketika seseorang mulai memberikan nilai sembilan puluh sembilan kepada dirinya sendiri, barangkali yang perlu ditanyakan bukan seberapa tinggi nilainya, melainkan mengapa ia begitu yakin bahwa dirinya layak mendapatkannya.***
*Guru Besar Universitas Malahayati
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0






Comments (0)