Betara Kala

Sep 03, 2026 - 10:31
0 32
Betara Kala

Oleh: Sudjarwo

Pada jagat pewayangan Jawa, Betara Kala adalah sosok yang tidak pernah benar-benar jauh dari kehidupan manusia. Ia digambarkan sebagai raksasa dengan tubuh besar, wajah mengerikan, dan nafsu memangsa yang sulit dikendalikan. Dalam cerita pewayangan, Betara Kala digambarkan selalu mencari mangsa anak-anak sukerta, yaitu mereka yang lahir dengan kondisi atau ciri-ciri tertentu yang dianggap membawa kerawanan secara spiritual. Karena itu, berbagai ritual dilakukan untuk membebaskan mereka dari ancaman Betara Kala. Di balik kisah tersebut tersimpan simbol yang jauh lebih dalam: tentang manusia, ketakutan, nasib, dan upaya untuk mengendalikan kekuatan yang mengancam kehidupan.

Namun, zaman berubah. Betara Kala dalam kehidupan modern barangkali tidak lagi sibuk mencari siapa yang tergolong sukerta. Ia tidak lagi memilih-milih mangsa berdasarkan kelahiran, weton, atau ciri tertentu. Betara Kala masa kini justru menjadi semakin rakus. Apa pun yang tersedia di hadapannya bisa dimakan. Hutan bisa dimakan, laut bisa dimakan, tanah bisa dimakan, uang rakyat bisa dimakan, jabatan bisa dimakan, bahkan masa depan generasi berikutnya pun bisa dimakan.

Betara Kala modern tidak selalu berwujud raksasa. Ia bisa tampil rapi, berbicara sopan, mengenakan pakaian mahal, duduk di ruang berpendingin udara, dan berbicara tentang pembangunan serta kesejahteraan rakyat. Ia bisa bersembunyi di balik meja birokrasi, dokumen anggaran, proyek pembangunan, perizinan, konsesi, dan berbagai keputusan yang tampak sah secara administratif. Tubuhnya mungkin manusia biasa, tetapi nafsunya menyerupai raksasa yang tidak pernah merasa kenyang.

Di sinilah kisah Betara Kala menjadi sangat relevan dengan kehidupan negeri ini. Persoalan terbesar kita barangkali bukan lagi kekurangan sumber daya, melainkan ketidakmampuan manusia mengendalikan keserakahannya. Negeri yang memiliki tanah subur, laut luas, hutan, tambang, dan kekayaan alam yang melimpah seharusnya mampu menghadirkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Tetapi ketika kekuasaan bertemu dengan kerakusan, kekayaan bersama dapat berubah menjadi santapan segelintir orang.

Paling mengkhawatirkan lagi adalah ketika kerakusan itu berada di lingkungan mereka yang diberi amanat untuk mengelola kepentingan publik. Jabatan seharusnya menjadi bentuk pengabdian, tetapi dapat berubah menjadi alat memperbesar kekayaan pribadi. Anggaran yang seharusnya membangun sekolah, rumah sakit, jalan, irigasi, transportasi, dan pelayanan publik bisa kehilangan maknanya ketika dipandang sebagai kesempatan untuk mengambil keuntungan. Pada titik itu, seorang pejabat tidak lagi sekadar menjalankan kekuasaan; ia telah menjadi bagian dari mekanisme Betara Kala yang memangsa apa saja yang dapat dimakan. Yang dimakan bukan hanya uang. Korupsi, kolusi, dan penyalahgunaan kekuasaan juga memangsa kepercayaan masyarakat. Ketika rakyat melihat hukum dapat dipermainkan oleh kekuasaan dan aturan dapat dinegosiasikan demi kepentingan tertentu, yang hilang bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Yang hilang adalah keyakinan bahwa negara bekerja untuk semua orang.

Betara Kala modern bahkan mampu memangsa sesuatu yang tidak terlihat: masa depan. Ketika lingkungan dirusak demi keuntungan jangka pendek, yang dikorbankan adalah kehidupan anak-anak yang belum lahir. Ketika sumber daya alam dieksploitasi tanpa batas, generasi berikutnya mungkin hanya menerima sisa-sisa kekayaan yang telah dikuras. Ketika pendidikan dan kesehatan dikalahkan oleh kepentingan politik, yang dimakan sebenarnya adalah kesempatan manusia untuk tumbuh dan hidup lebih baik.

Pada konteks ini, sukerta masa kini bukan lagi sekadar manusia yang memiliki ciri kelahiran tertentu. Sukerta adalah mereka yang lemah di hadapan sistem yang rakus. Rakyat kecil yang kehilangan tanah, pekerja yang tidak memperoleh hak layak, masyarakat yang tinggal di wilayah kumuh, anak-anak yang kehilangan kesempatan pendidikan, serta warga yang harus berhadapan dengan ketidakadilan adalah wajah sukerta zaman sekarang. Mereka tidak dimangsa oleh raksasa dalam bentuk mitologis, melainkan oleh sistem keserakahan yang bekerja melalui manusia.

Tetapi pewayangan tidak pernah hanya berbicara tentang kejahatan. Ia juga mengingatkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk memilih. Betara Kala dapat menjadi cermin bagi siapa pun yang memegang kekuasaan: sebesar apa pun kesempatan untuk mengambil, selalu ada batas moral yang seharusnya tidak dilampaui. Kekuasaan tanpa pengendalian diri akan mengubah manusia menjadi makhluk yang tidak pernah kenyang.

Oleh karena itu, Betara Kala tetap penting untuk diceritakan pada zaman modern. Ia bukan sekadar raksasa dari masa lalu, melainkan metafora tentang kerakusan yang dapat tumbuh di dalam diri manusia. Bedanya, Betara Kala hari ini tidak perlu bertaring untuk menakutkan. Ia cukup memiliki keserakahan, kekuasaan, dan kesempatan. Dan ketika ketiganya bertemu tanpa nurani, tidak ada yang terlalu besar untuk dimakan.

Pertanyaan terpenting sekarang bukanlah siapa Betara Kala itu, melainkan di mana ia berada. Bisa jadi ia tidak bersembunyi di dalam hutan, gua, atau alam gaib. Ia mungkin berada sangat dekat dengan kita, bahkan tumbuh di dalam batin manusia sendiri. Ketika kepentingan pribadi ditempatkan di atas kepentingan rakyat, ketika jabatan dipakai untuk memperkaya diri, dan ketika keserakahan tidak lagi mengenal batas, Betara Kala telah menemukan bentuknya yang paling modern: manusia yang terus makan, tetapi tidak pernah merasa kenyang, dan makan apa saja.

*Guru Besar Universitas Malahayati

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User