Yinda: Bahasa Lampung Bisa Bertahan Jika Tetap Dituturkan

Aug 28, 2026 - 13:06
0 4
Yinda: Bahasa Lampung Bisa Bertahan Jika Tetap Dituturkan

Teraslampung.com, Bandarlampung — Bahasa Lampung terancam kehilangan penuturnya jika tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Akademisi Program Studi Bahasa Lampung FKIP Universitas Lampung, Yinda Dwi Gustira, mengatakan keberlangsungan bahasa ibu masyarakat etnis Lampung sangat bergantung pada penuturnya.

“Bahasa Lampung bisa bertahan jika ada penutur,” ujar Yinda dalam sesi alih bahasa Bengkel Sastra 2026 yang digelar Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS di Villa Dangau Kedaung, Jumat, 28 Agustus 2026.

Yinda menjadi pemateri terakhir dalam rangkaian Bengkel Sastra 2026 yang didukung Badan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Kegiatan tersebut diikuti 20 peserta dari kalangan pelajar SMA, mahasiswa, serta pegiat sastra dan komunitas dari berbagai daerah di Lampung.

Menurut Yinda, salah satu cara mempertahankan bahasa Lampung adalah memastikan bahasa tersebut tetap digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Bahasa daerah, kata dia, tidak cukup hanya dipelajari sebagai pengetahuan, tetapi harus dipraktikkan oleh masyarakat.

Dia juga berharap Program Studi Bahasa Lampung Universitas Lampung dapat terus melahirkan pengguna sekaligus pecinta bahasa Lampung. Upaya pelestarian, menurut Yinda, membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, Balai Bahasa Lampung, hingga komunitas sastra.

Dalam sesi tersebut, Yinda meminta peserta menerjemahkan puisi berbahasa Indonesia yang mereka tulis selama mengikuti Bengkel Sastra ke dalam bahasa Lampung.

Puisi hasil alih bahasa itu akan dievaluasi sebelum dihimpun menjadi buku puisi dwibahasa Indonesia-Lampung. Buku tersebut direncanakan diluncurkan pada akhir September 2026.

Ketua pelaksana Bengkel Sastra 2026 sekaligus Direktur Lamban Sastra, Fitri Angraini, mengatakan kegiatan tersebut memberikan hasil positif. Peserta telah menerima materi dari sejumlah penyair dan praktisi sastra, yakni Isbedy Stiawan ZS, Nanang R Supriyatin, Ari Pahala Hutabarat, dan Yinda Dwi Gustira.

“Hasilnya, menurut saya memuaskan,” kata Fitri.

Menurut Fitri, peserta semakin memahami bagaimana menulis puisi dengan baik. Puisi, kata dia, tidak semata-mata permainan kata atau catatan pengalaman pribadi.

“Bukan sekadar mengindah-indahkan tulisan, atau semacam catatan harian,” ujar Fitri yang juga pegiat sastra dan dosen.

Sebanyak 20 peserta mengikuti Bengkel Sastra 2026. Mereka adalah Aulia Citra Lestari, Dzafirah Adeliaputri Isbedy, Erza Anaya Nabila Hafidh, Nazifa Ghassani, Setiadi Rosasy, Fitri Amalia, Nadia Sebrina Mutiara, Keyza Bunga Jaya, Arifatul Mukaromah, Ayu Auliya, Dwi Yulianti, Mutiara Nunvia, Nesiya Chacha Amanda Auroh, Rina Riantiana, Risma Pramudita, M. Ichsan Zulkarnain, Jessica Rahma Wati, Nayla Ramadhani, dan Alvindo Saferi.

Kalau ingin lebih “Tempo” lagi, judul alternatif yang lebih kuat: “Bahasa Lampung Terancam Punah, Yinda: Kuncinya Ada pada Penutur”.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User