Proklamasi Estetis Indira Bunyamin: Merayakan Fragmen Cerita Batin Lewat ‘Fragments in Bloom’

Oct 04, 2026 - 08:30
Updated: 54 minutes ago
0 15
Proklamasi Estetis Indira Bunyamin: Merayakan Fragmen Cerita Batin Lewat ‘Fragments in Bloom’
Mami Kartika Affandi, Retno Aris (GM Gramm Hotel Ambarrukmo), Indira Bunyamin (Pelukis) dan Ratri Paramita (Direktur TMII) paling kanan.

Teraslampung.cim, YOGYAKARTA — Mengubah goresan kuas menjadi ruang kontemplasi batin, pengusaha sekaligus perupa Indira Bunyamin resmi menggelar pameran tunggal perdana (solo exhibition) bertajuk "Fragments in Bloom". Perhelatan seni yang bertempat di Gramm Hotel by Ambarrukmo, Yogyakarta ini dibuka secara resmi pada Sabtu (3/10/2026) pukul 16.30 WIB oleh Direktur Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Mrs. Ratri Paramita.

Antusiasme pencinta seni rupa dan kolektor langsung menggaung sejak menit pertama pembukaan. Terbukti, tujuh lukisan langsung terjual sesaat setelah pameran diresmikan. Ekshibisi penting yang menandai pencapaian artistik Indira ini dijadwalkan berlangsung sepanjang 1–30 Oktober 2026.

Proklamasi Keberanian dan "Merayakan Diri"

Bagi Indira Bunyamin, yang juga merupakan pemilik PT Rifani Tri Utama—perusahaan mekanikal dan elektrikal yang didirikannya sejak 1994—pameran ini adalah sebuah lompatan batin yang besar. Setelah berpartisipasi dalam 30 pameran kelompok sejak menekuni seni secara profesional pada tahun 2022, "Fragments in Bloom" menjadi panggung tunggal pertamanya.

"Ini pameran saya yang ke-31, tapi yang ke-30 itu ramai-ramai. Jadi ini baru pertama kali pameran sendirian; agak was-was, deg-degan, dan sedikit tidak percaya diri tadinya. Namun, ya sudah, dicoba. Alhamdulillah berjalan lancar," ujar Indira jujur saat ditemui di lokasi acara.

Indira menegaskan bahwa pameran tunggal yang menyajikan 14 karya dengan variasi ukuran—termasuk yang terbesar mencapai 1x2 meter—bukanlah ajang pembuktian kesombongan akademis.

"Saya pameran tunggal ini bukan berarti saya merasa sudah hebat, tapi saya merayakan diri. Karena setiap karya itu adalah penggalan dari cerita-cerita pengalaman batin. Jadi itu cara saya mengekspresikan perasaan melalui karya. Saya merasa ya ini memproklamirkan keseriusan saya dalam melukis," imbuh Indira penuh penekanan.

Latar Belakang Psikologi dan Bahasa Intuisi Kanvas

Penulis pameran, Merlin Sukmawati, menguraikan bahwa tajuk "Fragments in Bloom" berangkat dari pemahaman bahwa kehidupan manusia jarang hadir sebagai sesuatu yang utuh, melainkan tersusun atas potongan fragmen emosi: pertemuan, perpisahan, kegembiraan, dan kehilangan. Di sinilah latar belakang pendidikan Indira di bidang psikologi berkelindan erat dengan guratan acrylic on canvas miliknya.

"Latar belakang Indira dalam bidang psikologi memberikan kedekatan tertentu dengan dunia emosi dan pengalaman batin manusia. Namun, ia tidak berusaha menerjemahkan emosi melalui bentuk-bentuk yang sepenuhnya terdefinisi. Ia memilih untuk bekerja secara intuitif, membiarkan warna dan bentuk berkembang mengikuti suasana hati," urai Merlin Sukmawati dalam catatannya.

Melalui metafora bunga, karya-karya seperti Sun Flower, Beautiful Blue, Needs a Little Red, Strong Mind, dan I Call You Rose memotret ritme pertumbuhan manusia yang tidak selalu seragam. Lebih jauh, lewat karya bernuansa intim seperti Deep dan Luruh dalam Hening, Indira berani mengajak penikmatnya masuk ke wilayah jeda—saat manusia harus berhenti dan berhadapan dengan lapisan dirinya yang paling sunyi. Tak hanya ruang batin, sapuan ekspresif Indira juga merekam lanskap alam yang kontras lewat karya Kedai Kopi di Gunung Wangi, energi dinamis Jejak Lava Merapi, serta dimensi simbolik Three Temple in One Frame.

Apresiasi Atas Kekuatan dan Kasih Perempuan

Keberhasilan Indira menerjemahkan kedalaman rasa menjadi harmoni visual yang indah menuai pujian dari berbagai pihak. Direktur TMII, Mrs. Ratri Paramita, menyatakan kekagumannya terhadap keteguhan posisi Indira sebagai seorang ibu, pengusaha, sekaligus seniman.

"Pertama, yang melukis adalah perempuan yang memang sudah memulai bukan ketika beliau kecil, tapi ketika sudah mempunyai usaha dengan segala kesibukannya, memiliki anak, tapi tetap melukis. Ini luar biasa menurut saya, lukisannya punya ciri khas sendiri: kekuatan wanita. Cintanya beliau ke rumah, ke bunga, ke hewan sekitarnya—itu bentuk cinta seorang wanita dan cinta seorang ibu. Jadi, lukisannya soft, lembut, tapi penuh kekuatan," puji Ratri Paramita sesaat setelah membuka pameran.

Senada dengan hal tersebut, General Manager Gramm Hotel Ambarrukmo, Retno Aris, menjelaskan bahwa pemilihan karya Indira sangat selaras dengan konsep estetika ruang hotel yang elegan dan universal.

"Kali ini pemilihan Mbak Indira itu lebih karena dia wanita yang bukan pelukis tadinya, dia seorang pengusaha. Dari pendidikan pun psikologi, tidak ada hubungannya dengan lukisan, tapi beliau bisa menerjemahkan apa yang menjadi hatinya menjadi sebuah lukisan yang cantik-cantik. Kami butuh lukisan-lukisan yang kesannya indah di restoran dan lobi hotel, tidak serem, tidak menakutkan, dan bisa dinikmati tamu semua kalangan," pungkas Retno Aris.

"Fragments in Bloom" menjadi bukti sahih bahwa proses bertumbuh dan mekar tidak mengenal batasan usia maupun latar belakang profesi. Melalui pameran ini, publik diajak untuk menjumpai fragmen-fragmen kehidupan mereka sendiri yang barangkali tengah bersiap untuk mekar.

* Jajang R Kawentar

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User