Sayap yang tak Pernah Dihitung, Cerita tentang Taman Kupu-Kupu Gita Persada
Oleh Ferri Martin*
Di taman yang menyandang nama kupu-kupu, peneliti justru lebih banyak menemukan semut, nyamuk, dan kumbang. Apa artinya bagi cara kita mengelolanya?
Pernahkah Anda mengira taman kupu-kupu dihuni terutama oleh kupu-kupu? Saya pun begitu, sampai membaca hasil penelitian terbaru dari Taman Kupu-Kupu Gita Persada.
Pada November 2025, sepuluh peneliti Universitas Lampung menyisir tiga titik di taman itu. Hasilnya mengejutkan. Semut menguasai sekitar 31 persen dari seluruh individu yang tercatat, nyamuk Culex muncul sepuluh ekor di satu titik, dan kumbang Episcapha quadrimacula berjumlah dua puluh ekor di bawah tegakan (Azizah dkk., 2026). Kupu-kupu ada, tetapi bukan penguasa catatan lapangan.
Dari sinilah tulisan ini berangkat. Mungkin selama ini kita menilai taman ini dari “bintangnya”, padahal nilai sesungguhnya ada di panggung belakang: ekosistem utuh yang bekerja diam-diam di tengah kota.
Paling ramai manusia, paling sepi kehidupan
Taman ini ternyata sebuah mosaik. Di titik nektar yang padat bunga, kekayaan jenis mencapai 7,847 dan keanekaragaman 3,176, keduanya tergolong tinggi. Sebaliknya, di titik tepian, yaitu jalur masuk yang terbuka, terang, dan paling sering dilalui pengunjung, keanekaragaman pada perangkap jebak hanya 0,609.

Semak berbunga
Polanya ganjil tetapi masuk akal. Bagian yang paling sering diinjak manusia justru paling miskin kehidupan permukaan tanahnya, sementara bagian yang diberi bunga dan serasah menjadi yang terkaya. Kupu-kupu hanyalah wajah dari kerja bersama penyerbuk, pengurai, dan predator. Taman yang sehat akan didatangi kupu-kupu dengan sendirinya.

Bunga merah mencolok
Satu catatan kritis: sebagian spesies pada studi itu diidentifikasi lewat iNaturalist, dan sejauh pengetahuan saya ada yang sebaran alaminya di Amerika tropis, misalnya semut peluru Paraponera clavata. Daftar spesies taman sebaiknya diverifikasi taksonom sebelum dijadikan dasar kebijakan.

Bunga ungu bertangkai
Di bawah tegakan, kerja berjalan tanpa sorotan
Di tegakan, serasah daun yang tebal menjaga kelembapan dan menyediakan makanan. Itu sebabnya kumbang dan semut berkumpul di sana (Azizah dkk., 2026). Mereka mungkin tidak fotogenik, tetapi merekalah yang mengurai daun gugur menjadi hara dan menggemburkan tanah.
Taman yang sering diteliti, jarang diajak bicara

Aren berbuah lebat
Sejak setidaknya 2012, taman ini menjadi bahan kajian: habitat, vandalisme, teknologi, dan kini makrofauna. Pararinarno dkk. (2015) mencatat hanya sekitar 125 wisatawan per bulan. Dari 56 responden, delapan mengaku pernah merusak pohon, tujuh di antaranya remaja, dan 89,3 persen tidak tahu arti vandalisme.
Temuan paling menarik: pohon rusak justru lebih banyak di areal yang tidak dipakai wisata (10,91 persen) dibanding areal wisata (8,91 persen), dan bacokan hanya ditemukan di areal sepi. Seluruh responden menilai pengelola perlu bertindak. Jadi masalahnya bukan pengunjung yang terlalu banyak, melainkan pengawasan dan pemahaman yang terlalu sedikit.

Serasah yang melapuk
Lima tahun kemudian, mahasiswa Teknik Informatika membangun “kebun pintar”: sensor suhu dan kelembapan, penyiraman otomatis, dipantau lewat ponsel. Dalam 31 hari uji, 15 dari 15 fitur berhasil, meski satu tanaman asoka layu karena penyiraman tak merata (Nama dkk., 2020). Semua kajian itu rapi, tetapi tak satu pun bercerita tentang apa yang terjadi setelah laporan selesai. Taman ini kaya data, namun miskin siklus umpan balik.
Dua kisah kembar: yang berhasil dan yang jadi peringatan
Kipepeo, Kenya. Awal 1990-an, 54 sampai 59 persen warga di tepi Hutan Arabuko-Sokoke ingin hutan itu dibuka untuk permukiman. Proyek Kipepeo (1993) melatih mereka beternak kupu-kupu hutan dan membeli pupanya untuk pameran kupu-kupu hidup di luar negeri. Pendapatan warga pada 1994–2001 melampaui USD 130.000, proyek mandiri sejak 1999, dan pemantauan tidak menemukan dampak buruk pada kupu-kupu liar (Gordon & Ayiemba, 2003). Kini sekitar 500 petani terlibat dan lebih dari 50.000 pupa terjual per tahun (CBD, t.t.). Sebagian mantan penebang liar menjadi penjaga hutan (People Not Poaching, t.t.). Kondisinya mirip dengan kita: kawasan hijau di tepi permukiman, tekanan alih fungsi, dan kupu-kupu sebagai modal.
Bantimurung, Sulawesi Selatan. Inilah sisi sebaliknya. Sekitar 350 pelaku usaha menggantungkan hidup pada wisata di sana, tetapi pengunjung lebih sibuk bermain air dan berfoto di tugu kupu-kupu, sementara habitat terinjak dan rembesan mineral pengundang kupu-kupu hilang (Mongabay, 2020). Jenis yang berhasil ditangkarkan turun dari 12 menjadi 4 sejak 2013 (Brugman dkk., 2014). Pelajarannya: manfaat ekonomi tanpa batas ekologi akan memakan modalnya sendiri.
Enam langkah ke depan
1. Dari taman menjadi laboratorium hidup. Buat kemitraan tertulis dengan Universitas Lampung dan sekolah. Setiap penelitian wajib kembali ke taman dalam bentuk daftar spesies terverifikasi, papan informasi, dan data terbuka.
2. Ekonomi pupa ala Kipepeo versi Kemiling. Latih kelompok warga, dengan prioritas ibu rumah tangga yang menurut Monik dkk. (2021) kerap belum punya pekerjaan tetap, untuk menanam pakan dan tanaman inang serta merawat pupa jenis yang tidak dilindungi. Taman membeli pupa itu untuk kandang pelepasan dan edukasi, dengan izin BKSDA dan pemantauan populasi liar. Bibit tanaman nektar, madu, dan kerajinan menjadi produk turunan.

Kupu-kupu yang baru keluar dari pupa di kandang penangkaran. Inilah “produk” yang bisa dikelola bersama warga.
3. Zonasi pengunjung. Jaga tegakan sebagai zona tenang berkunjung terbatas, ramaikan titik nektar dengan jalur interpretasi, dan perbaiki titik tepian dengan tanaman pagar dan serasah agar tidak steril. Pasang patroli ringan dan papan edukasi di area sepi.
4. Ubah remaja dari “pelaku” menjadi penjaga. Beri mereka peran: Adopsi Pohon dengan penanda QR dan pemandu muda dari SMP/SMA sekitar. Orang jarang menggores pohon yang namanya tertulis di kartu adopsinya sendiri.
5. Lanjutkan teknologi tepat guna. Sensor murah dari prototipe 2020 dapat memantau kelembapan rumah kupu-kupu, dengan dasbor terbuka yang dirawat mahasiswa dan siswa SMK magang.
6. Layanan dasar dan klaster wisata. Bereskan toilet, tempat sampah, dan colokan listrik lebih dulu. Gabungkan paket dengan Taman Betung di seberang jalan dan penangkaran rusa sekitar 350 meter dari sana (Good News from Indonesia, 2025), dan tawarkan paket sekolah, karena kajian Djausal dkk. menemukan 75 persen respondennya belum pernah berkunjung. Kelola bersama lewat forum Yayasan Sahabat Alam, kelurahan, perguruan tinggi, dan dinas terkait, dengan pembagian manfaat yang transparan.
Ukuran keberhasilannya sederhana dan bisa dilaporkan tiap tahun: jumlah spesies terverifikasi, persentase pohon rusak, jumlah warga yang berpenghasilan dari taman, dan jumlah kunjungan sekolah.
Penutup
Taman kupu-kupu terbaik bukan yang kupu-kupunya paling banyak, melainkan yang warganya merasa ikut memiliki. Kipepeo dimulai dari orang-orang yang dulu ingin hutan dibuka, lalu mereka menjadi penjaganya. Gita Persada punya modal serupa: sebidang hijau di kota, koleksi lebih dari 100 spesies kupu-kupu Sumatra, dan generasi muda yang kini lebih sering datang sebagai pengunjung. Tugas kita adalah menghitung sayapnya, dan memastikan sayap itu juga mengangkat orang-orang di sekitarnya.***
*Mahasiswa Magister Kehutanan Universitas Lampung, 2026
Rujukan:
Azizah, F. H., dkk. (2026). "Kajian distribusi makrofauna berdasarkan kekayaan, keanekaragaman, dan kemerataan jenis di Taman Kupu-Kupu Gita Persada". Biospecies, 19(2), 1–17.
Brugman, P., Ginoga, L. N., & Haneda, N. F. (2014). Pengelolaan Taman Kupu-Kupu di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Repository IPB.
CBD (t.t.). Celebrating 25 years of action for biodiversity (kisah Kipepeo Project). Tudor Rose.
Djausal, G. P., dkk. "Peningkatan waktu kunjung pada wisatawan ekowisata kupu-kupu, Gunung Betung, Lampung". Jurnal SULUH, Universitas Pancasila.
Good News from Indonesia (2025). Keindahan alam dan edukasi di Taman Betung Lampung.
Gordon, I., & Ayiemba, W. (2003). Harnessing butterfly biodiversity for improving livelihoods and forest conservation: The Kipepeo Project. Journal of Environment and Development, 12(1), 82–98.
Mongabay Indonesia (2020). Ketika tutup, kesempatan wisata alam bernapas dan pengelola berbenah.
Monik, D. T., Harianto, S. P., & Setiawan, A. (2021). "Analisis persepsi pengunjung dan masyarakat dalam pengembangan objek wisata alam Air Terjun Way Lalaan". Jurnal Hutan Tropis, 9(2), 311–320.
Nama, G. F., dkk. (2020). "Prototype sistem pintar pengelolaan taman bunga berbasis Internet of Things". Gema Teknologi, 21(1), 26–33.
Pararinarno, A., Setiawan, A., & Master, J. (2015). "Vandalisme dalam kegiatan wisata hutan di Taman Kupu-Kupu Gita Persada Bandar Lampung". Jurnal Sylva Lestari, 3(3), 1–10.
People Not Poaching (t.t.). Kipepeo Butterfly Project.
What's Your Reaction?
Like
4
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)