Digendong Berat, Dilepaskan Sayang
Oleh: Sudjarwo
Ada ungkapan Jawa yang berbunyi “Digendong abot, diselehna eman.” Secara harfiah, ungkapan itu menggambarkan keadaan ketika sesuatu terasa berat untuk terus digendong, tetapi ketika hendak diletakkan justru muncul rasa sayang. Di dalamnya ada sebuah dilema yang sangat manusiawi: sadar bahwa beban sudah terlalu berat, tetapi enggan melepaskannya karena merasa sudah terlalu banyak tenaga, waktu, pikiran, dan biaya yang dicurahkan.
Ungkapan tersebut terasa begitu dekat dengan kehidupan negeri ini. Banyak hal yang semula dimulai dengan harapan, keyakinan, dan perhitungan yang mungkin dianggap masuk akal, dalam perjalanannya berubah menjadi beban. Beban itu terus digendong karena menghentikannya berarti mengakui bahwa perjalanan yang sudah ditempuh tidak seluruhnya membawa hasil seperti yang diharapkan. Sementara untuk meletakkannya, ada rasa eman terhadap sumber daya yang telah dikeluarkan. Uang sudah terlanjur dibelanjakan, waktu sudah terlanjur berlalu, tenaga sudah terlanjur terkuras, dan berbagai keputusan sudah telanjur dibuat.
Di titik itulah jebakan masa lalu bekerja. Sesuatu yang sudah menghabiskan biaya besar sering kali dianggap harus terus dipertahankan agar pengorbanan sebelumnya tidak terasa sia-sia. Padahal, biaya yang telah dikeluarkan tidak dapat dikembalikan hanya karena sebuah keputusan diteruskan. Masa lalu tidak selalu menjadi alasan yang tepat untuk menentukan langkah berikutnya. Yang seharusnya menjadi pertimbangan adalah apakah sesuatu yang sedang dijalankan masih memberikan manfaat yang sepadan dengan beban yang harus ditanggung.
Persoalan semacam ini tidak hanya terlihat dalam urusan besar negara. Ia menyebar ke hampir seluruh lini kehidupan. Dalam dunia usaha, sebuah bisnis yang terus merugi kadang dipertahankan karena pemiliknya merasa sudah terlalu banyak menanamkan modal. Dalam organisasi, sebuah program yang tidak lagi efektif tetap dijalankan karena terlalu banyak rapat, anggaran, dan tenaga yang telah dicurahkan. Dalam kehidupan pribadi, seseorang bisa bertahan dalam pilihan yang melelahkan karena merasa perjalanan yang panjang akan terasa sia-sia jika harus berhenti.
Bahkan dalam kebijakan publik, dilema itu dapat menjadi jauh lebih rumit. Sebuah program yang telah menghabiskan anggaran besar tentu menimbulkan pertanyaan ketika hasilnya tidak sesuai harapan. Menghentikannya bukan perkara sederhana karena ada kontrak, infrastruktur, tenaga kerja, kepentingan masyarakat, dan berbagai konsekuensi yang harus diperhitungkan. Namun meneruskannya juga bukan keputusan yang ringan apabila biaya tambahan semakin besar sementara manfaat yang diperoleh semakin kecil.
Di sinilah masyarakat membutuhkan keberanian untuk membedakan antara menghargai pengorbanan masa lalu dan terjebak oleh pengorbanan masa lalu. Mengakui bahwa suatu keputusan dahulu memiliki alasan bukan berarti keputusan tersebut harus dipertahankan selamanya. Kondisi dapat berubah. Data baru dapat muncul. Perhitungan dapat bergeser. Sesuatu yang dahulu dianggap tepat belum tentu tetap tepat ketika keadaan sudah berbeda.
Sayangnya, manusia sering lebih takut mengakui kerugian daripada menanggung kerugian yang lebih besar. Ada kecenderungan untuk mengatakan, “Sudah sejauh ini, masa harus berhenti?”
Kalimat semacam itu terdengar seperti keteguhan, tetapi dalam situasi tertentu justru dapat menjadi pintu menuju pemborosan yang lebih panjang. Keputusan baru dibuat bukan berdasarkan apa yang terbaik untuk masa depan, melainkan untuk membenarkan keputusan yang sudah dibuat pada masa lalu.
Karena itu, digendong abot, diselehna eman bukan sekadar ungkapan tentang rasa berat dan rasa sayang. Ia adalah cermin dari dilema ketika seseorang atau sebuah bangsa berada di persimpangan antara mempertahankan sesuatu yang membebani dan melepaskannya dengan segala konsekuensinya. Berat ketika digendong, eman ketika diletakkan.
Persoalannya bukan semata-mata memilih antara meneruskan atau menghentikan. Yang lebih penting adalah keberanian untuk menghitung kembali secara jernih. Berapa biaya yang masih harus dikeluarkan? Apa manfaat yang benar-benar dapat diperoleh? Siapa yang menanggung beban? Siapa yang mendapatkan manfaat? Apakah kerugian masa lalu harus menjadi alasan untuk menambah kerugian baru? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak nyaman, tetapi justru diperlukan agar keputusan tidak semata-mata didorong oleh rasa eman.
Sebuah bangsa tentu tidak mungkin berjalan tanpa membawa beban. Setiap pembangunan memiliki biaya, setiap kebijakan memiliki konsekuensi, dan setiap pilihan memiliki risiko. Yang perlu dihindari adalah menjadikan biaya yang sudah dikeluarkan sebagai alasan otomatis untuk terus mengeluarkan biaya berikutnya. Ada saat ketika beban harus ditata ulang, ada saat ketika cara menggendong harus diperbaiki, dan ada pula saat ketika sesuatu harus diletakkan agar tenaga dapat digunakan untuk membawa sesuatu yang lebih berguna.
Barangkali kedewasaan dalam mengelola kehidupan justru terlihat ketika kita mampu mengatakan bahwa sesuatu pernah diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, tetapi keadaan telah berubah. Melepaskan bukan selalu berarti gagal. Mengubah arah bukan selalu berarti mengkhianati perjalanan. Mengakui bahwa sebuah pilihan tidak lagi memberikan hasil yang sepadan dapat menjadi bentuk tanggung jawab terhadap masa depan.
Ungkapan Jawa itu mengingatkan bahwa rasa eman atau rasa sayang memang manusiawi, tetapi keputusan tidak boleh berhenti pada rasa eman. Sebab jika semua yang pernah menghabiskan biaya harus terus digendong hanya karena sayang untuk diletakkan, maka hidup akan dipenuhi beban dari masa lalu. Beban itu semakin berat, sementara ruang untuk membawa sesuatu yang baru semakin sempit. Negeri ini, seperti halnya setiap manusia, membutuhkan kemampuan untuk mengetahui mana yang layak terus digendong dan mana yang sudah waktunya diletakkan dengan kesadaran, perhitungan, dan keberanian.***
*Guru Besar Universitas Malahayati
What's Your Reaction?
Like
3
Dislike
0
Love
3
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)