Pesta Celeng
Oyos Saroso HN
Di Desa Randu Alas, celeng bukan lagi binatang. Ia sudah seperti musim. Datangnya tiap malam, pergi menjelang subuh, lalu meninggalkan jejak kehancuran dan bau lumpur di mana-mana.
Singkong habis. Jagung rata tanah. Padi tinggal batang. Bahkan dapur warga tak aman.
Pernah suatu malam, Mak Juwi baru saja menanak nasi pakai tungku kayu. Asapnya masih hangat. Sambal terasi baru diulek. Tiba-tiba dari belakang rumah terdengar suara: “Brrakkk! Gubrak! Kresakkk!”
Tiga celeng masuk dapur.
Yang satu nyenggol tungku. Yang satu nyosor panci. Yang paling besar malah ngunyah daun pisang pembungkus ikan asin.
Mak Juwi cuma bisa menjerit sambil bawa centong.
“Ya Allah! Celeng saiki wis ngerti menu rumahan!”
Sejak itu warga sadar, yang sedang berpesta bukan manusia, melainkan celeng.
Maka, sekelompok anak muda desa membuat acara nonton bareng film dokumenter berjudul 'Pesta Celeng'. Film itu menceritakan kondisi desa-desa yang hidupnya habis digasak celeng. Lokasi nobar dipilih di lapangan Desa Randu Alas, pakai layar tancap dan speaker pinjaman hajatan.
Namun dua jam sebelum acara dimulai, datanglah tiga hansip desa dengan wajah serius seperti hendak menggagalkan kudeta negara.
Komandan hansipnya bernama Pak Mijan. Tubuhnya kurus, tapi peluitnya besar sekali. Kalau meniup peluit, ayam bisa berhenti bertelur.
“Acara dibubarkan!” katanya tegas.
Warga bingung.
“Lho kenapa, Pak?”
“Film ini berpotensi mengganggu keamanan desa.”
“Ganggu keamanan apanya?”
Pak Mijan membuka map lusuh lalu membaca surat entah dari mana.
“Karena judulnya Pesta Celeng.”
“Ya memang tentang celeng, Pak.”
“Nah itu! Jangan-jangan ini sindiran!”
“Sindiran buat siapa?”
Pak Mijan mulai gelagapan.
“Pokoknya... pokoknya sensitif!”
Berita pembubaran nobar itu langsung tersebar du medsos. Jadi viral. Juga jadi bahan obrolan di warung kopi milik Mbak Caca Marica Hehe.
Warung itu berdiri di pinggir desa, beratap seng miring, dengan spanduk kopi saset yang warnanya sudah kalah tua dibanding penggorengannya.
Sore itu warung ramai.
Ada Tukijan si juragan beras yang kalau bicara selalu seperti pidato harga gabah.
Ada Mang Usup tukang tambal ban yang tangannya selalu hitam kena lem.
Ada Kodrat si badut keliling yang sehari-hari menghibur anak-anak ulang tahun, meski hidupnya sendiri lebih mirip acara duka.
Ada pula Karto Truwelu, lelaki yang terkenal suka beternak kelinci tapi takut wortel mahal.
Dan tentu saja, duduk paling depan dengan kemeja safari ketat: Karto Celeng. Ia anggota DPRD kabupaten, mantan pemburu dan penjual daging celeng.
Ayah Karto Celeng pemburu legendaris bernama Sukarto Wijoyo bin Suro Ngampleh. Lelaki yang konon bisa mencium bau celeng dari jarak dua sawah.
Dulu Karto Celeng dikenal rakyat sebagai pendekar hutan. Sekarang setelah jadi anggota dewan, jalannya berubah. Dulu naik motor butut sambil bawa tombak. Kini naik mobil hitam sambil bawa ajudan dan aroma minyak rambut mahal.
Mbak Caca meletakkan kopi di meja.
“Silakan, Pak Dewan. Kopinya pahit, kayak janji kampanye.”
Kodrat langsung cekikikan.
Karto Celeng mengembuskan napas berat.
“Saya setuju nobar itu dibubarkan.”
Semua terdiam.
Mang Usup sampai lupa menambal ban.
“Lho, kenapa?” tanya Tulisan.
“Karena film seperti itu bisa memecah masyarakat.”
Kodrat nyeletuk,“Yang mecah masyarakat itu celeng apa filmnya?”
Warung langsung pecah tawa.
Karto Celeng merah mukanya.
“Kalian jangan sembarangan! Kita harus menjaga stabilitas desa!”
Marpu’ah, keponakan Mbak Caca yang sedari tadi melayani pembeli gorengan, ikut nimbrung sambil tersenyum tipis.
“Pak Dewan takut sama celeng atau takut celengnya nonton?”
Tawa makin meledak.
Karto Celeng mulai panas.
“Kalian ini tidak paham politik!”
Mang Usup menyeruput kopi pelan.
“Kalau politik bikin takut sama film, berarti politiknya masuk angin.”
Kodrat menambahkan, “Padahal filmnya tentang kebun warga rusak.”
Tukijan mengangguk.
“Singkong saya tinggal batang semua.”
Karto Truwelu ikut bicara. “Celeng sekarang ganas. Minggu kemarin masuk kandang kelinci saya.”
“Terus?”
“Kelinci saya kabur semua ketakutan. Sekarang hidup liar di hutan.”
Kodrat tertawa sampai batuk.
Sementara itu, di luar warung terdengar suara kentongan hansip.
“Tuk! Tuk! Tuk!”
Pak Mijan patroli keliling desa.
Lucunya, tiap ronda ia selalu membawa senter besar dan pentungan kecil. Kalau ada suara ranting patah sedikit saja, dia lari duluan.
Pernah suatu malam ada celeng lewat depan pos ronda.
Hansip semua kabur meninggalkan sandal.
Yang tinggal cuma termos teh dan kartu remi.
Tapi anehnya, terhadap layar tancap dan film dokumenter, keberanian mereka mendadak tumbuh seperti jamur musim hujan.
Mbak Caca mengelus gelas sambil bergumam,
“Heran ya… celeng asli dibiarkan pesta tiap malam.
Tapi film tentang celeng malah ditakuti.”
Warung mendadak sunyi.
Kalimat itu menggantung di udara seperti asap kopi.
Karto Celeng berdiri pelan.
“Pokoknya saya dukung pembubaran nobar Pesta Celeng!"
“Kenapa?” tanya Marpu’ah.
Karena gugup, Karto Celeng malah keceplosan:
“Kalau warga kebanyakan nonton, nanti mereka sadar siapa sebenarnya yang bikin celeng terus berpesta!”
Semua langsung diam.
Pak Mijan yang kebetulan baru masuk warung tersedak kopi.
Kodrat melongo.
Mang Usup mengangkat alis.
Tukijan menepuk meja pelan.

