Pengaruh Nyata Influencer di Dunia Pertanian: Sawah Masuk FYP, Lalu Apa?
Oleh: Tartila Tartusi
Bayangkan saja ada dua gambar yang muncul berdampingan di layar handphone mu. Yang pertama adalah seorang pemuda berdiri di tengah kebun, memegang kamera stabilizer di tangan, merekam video "Day in My Life as a Young Farmer" yang sudah ditonton jutaan kali. Dan didalamnya terdapat kolom komentar yang penuh pujian: "Keren banget, bikin pengen jadi petani!", "Aesthetic abis!"
Dan yang kedua adalah data dari Badan Pusat Statistik yang mencatat upah nominal harian buruh tani nasional hanya sekitar Rp59.000 per hari (BPS, 2022). Dan hasil Sensus Pertanian 2023 yang menunjukkan bahwa dari 28,19 juta petani di Indonesia, mayoritas atau sekitar 15,89 juta orang hanya mengelola lahan kurang dari 0,5 hektar.
Tidak ada yang salah dari kedua hal tersebut, tapi telah tercipta sedikit celah. Sebenarnya dari kedua fenomena diatas ada pertanyaan yang layak kita ajukan, ketika sawah masuk FYP, apa yang sebenarnya berubah?
Sensus Pertanian BPS 2023 mencatat sekitar 28 juta petani tersebar di seluruh penjuru negeri, menopang ketersediaan pangan 270 juta jiwa. Yang mengejutkan justru ini dari 6,18 juta petani milenial usia 19-39 tahun, mayoritas sekitar 3,57 juta orang belum menggunakan teknologi digital sama sekali dalam aktivitas pertaniannya
Sementara itu, di sisi yang berbeda, sebuah hal baru sedang tumbuh pesat. Di TikTok, YouTube, dan Instagram, bermunculan wajah-wajah muda yang mengemas dunia pertanian menjadi konten yang segar dan edukatif. Ada yang memperkenalkan sistem irigasi tetes untuk melon premium. Ada yang live streaming dari tengah sawah. Ada yang membangun "Fakultas Pertanian Terbuka" lewat TikTok, menyajikan ulasan fungisida hingga cara mengoperasikan drone sprayer secara gratis.
Hal ini nyata dan Pengaruhnya pun nyata. Tapi seberapa jauh ia menembus ke dalam masalah pertanian yang sesungguhnya?
Mari kita jujur soal hal-hal yang memang berjalan baik.
Pertama, jika kita bisa melihat bahwa sebenarnya para influencer pertanian berhasil mengubah narasi. Selama bertahun-tahun, kita hanya melihat pertanian identik dengan kemiskinan dan jalan buntu. Generasi muda meninggalkan desa bukan hanya karena penghasilan kecil, tapi juga karena stigma. Konten yang menampilkan pertanian sebagai profesi modern dan menguntungkan pelan-pelan menggeser pandangan itu. Dan tentu saja itu bukanlah hal yang kecil.
Jujur saja selama ini saya merasakan akses pengetahuan tentang pertanian yang begitu mudah untuk diakses. Dulu, petani yang ingin belajar teknik baru harus menunggu penyuluh pertanian datang, yang jadwalnya tidak menentu. Sekarang, video tentang teknik budidaya bisa ditonton kapan saja oleh siapa saja yang punya kuota internet. Sungguh sangat mempermudah
Tapi, Kalau kita buka pandangan kita lebih jauh kesenjangan digital masih terlihat sangat nyata. Sejujurnya Manfaat dari Pengaruh influencer pertanian tidak semerata itu. Yang mayoritas menikmatinya adalah petani muda yang sudah punya akses internet stabil dan sudah melek digital. Data Sensus Pertanian 2023 menunjukkan bahwa mayoritas petani berusia di atas 39 tahun, bagaimana dengan para petani ini, kelompok yang paling jauh dari tren konten pertanian digital.
Sebenarnya terdapat jurang yang begitu besar antara konten yang viral dan konten yang akurat, Biasaya konten yang kebanyakan viral Adalah video dramatis dan memotivasi dibandingkan video yang kebanyakan narasi yang kelihatan membosankan. Dalam kondisi ini, terlihat resiko yang begitu nyata, Bisa saja produk yang direkomendasikan untuk lahan kita tidak berbasis riset atau mungkin hanya narasi sukses instan yang mengabaikan prinsip back to reality, yang sebenarnya didapatkan melalui kerja keras dan modal
Yang paling krusial adalah popularitas tidak menyelesaikan masalah struktural. Data BPS 2021 mencatat alih fungsi lahan sawah nasional berkisar antara 60.000–80.000 hektar per tahun. Luas lahan baku sawah nasional sudah menyusut dari 8,07 juta hektar pada 2009 menjadi 7,46 juta hektar pada 2019 (Kementan/ATR-BPN). Mayoritas petani hanya punya lahan kurang dari 0,5 hektar. Harga jual hasil tani tetap rendah. Tidak ada konten TikTok yang bisa menyelesaikan itu semua.
Lalu bagaimana kita seharusnya memandang fenomena ini?
Influencer pertanian paling tepat dipahami hanya sebagai jembatan bukan sebagai solusi. Mereka bisa secara efektif untuk membuka mata dan membangun kesadran bagi generasi muda sekarang yang selama ini memandang pertanian sebagai profesi masa lalu. Itu sebagai pekerjaan yang punya prospek besar dimasa depan.
Tapi jembatan hanya berguna jika ada sesuatu di seberangnya. Kalau di ujung sana tidak ada ekosistem pertanian yang mendukung, lahan yang terjangkau, harga yang adil, infrastruktur digital yang merata, maka semua antusiasme yang dipicu oleh konten viral itu akan menguap begitu generasi muda berhadapan dengan kenyataan di lapangan.
Yang dibutuhkan adalah kolaborasi yang lebih serius. Influencer pertanian yang kredibel bisa menjadi mitra penyuluhan pemerintah, menyampaikan informasi teknis yang benar dengan kemasan yang menarik. Platform digital bisa menjadi kanal distribusi benih, pupuk, dan akses pasar. Dan pemerintah perlu memastikan bahwa infrastruktur internet desa cukup kuat agar petani di pelosok bisa menjadi peserta aktif, bukan sekadar subjek konten orang kota.
Ketika satu video petani bisa ditonton jutaan orang, pertanyaannya bukan lagi apakah influencer berpengaruh di dunia pertanian. Pengaruhnya sudah terbukti ada.
Pertanyaannya Adalah influence seperti apa yang kita mau dorong? Apakah kita puas dengan pertanian yang terlihat keren di layar, tapi bagaimana kenyataan di lapangan? Atau kita mau memanfaatkan momentum ini untuk mendorong perubahan yang lebih dalam?
Sawah sudah masuk FYP. Sekarang giliran kita menentukan, lalu apa?
*Mahasiswa Program Studi Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta






