Dari ‘Paus Sastra Lampung’ ke ‘Orca’: Membaca ‘Aku Adalah Arang’ dan Vitalitas Kepenyairan Isbedy Stiawan ZS 

Jul 18, 2026 - 21:42
0 13
Dari ‘Paus Sastra Lampung’ ke ‘Orca’: Membaca ‘Aku Adalah Arang’ dan Vitalitas Kepenyairan Isbedy Stiawan ZS 

Oleh Irzi*

“…di rumah ini / aku adalah arang / sisa kayu dibakar." 

Reputasi dapat mengabadikan nama seorang penyair, tetapi hanya puisi yang membuatnya tetap hidup. Isbedy Stiawan ZS—yang akrab disapa Paman Is— memilih kehidupan yang kedua. Pengakuan tidak pernah menjadi garis akhir perjalanan kepenyairannya; justru dari sanalah ia terus memulai pekerjaan yang sama: menulis puisi. 

Di usia 68 tahun, ketika sebagian besar orang mulai mengurangi ritme kerja dan menikmati masa pensiun, Paman Is masih setia pada disiplin kreatifnya. Ia terus menulis, mengirim puisi ke berbagai media, menerbitkan buku, menghadiri forum sastra, serta merawat percakapan kebudayaan dengan semangat yang tetap terjaga. Konsistensi itu kembali ditandai oleh terbitnya buku puisi terbarunya, Puisi 68, yang diterbitkan Lampung Literature pada Juni 2026. Buku puisi ini bukan sekadar penanda usia, melainkan penegasan bahwa bagi Paman Is, kreativitas tidak mengenal masa pensiun. 

Salah satu puisi yang paling menarik perhatian saya dalam buku tersebut adalah "Aku Adalah Arang." Saya membaca puisi ini bukan sekadar sebagai puisi tentang cinta yang menyisakan luka, melainkan sebagai refleksi mengenai proses transformasi manusia setelah melewati pembakaran batin. 

Sekilas, puisinya tampak sederhana. 

aku selalu waswas untuk membuka pembungkus 

jika datang kabar darimu. kubiarkan lama 

sampai serasa makanan basi di tudung saji 

karena setiap kiriman kabar itu ada bara 

yang kuterima sebagai api yang menyala

Bait pertama memperlihatkan kecerdikan Isbedy membangun psikologi lirik. Yang ditakuti bukan sosok "kau", melainkan kabar yang dibawanya. Bahkan sebelum surat dibuka, penyair telah mengalami kecemasan. Surat dibiarkan begitu lama hingga diibaratkan "makanan basi di tudung saji". Ini metafora yang sangat domestik, sangat Indonesia, tetapi sekaligus sangat kuat. Penundaan membuka surat adalah upaya menunda luka. Namun luka tetap datang. Surat telah berubah menjadi bara bahkan sebelum sempat dibaca. 

Di sinilah Isbedy memperlihatkan kekuatan simboliknya. Puisi ini tidak bergerak melalui cerita, melainkan melalui transformasi simbol yang sangat terukur: 

surat → bara → api → tubuh → arang → humus. 

Rangkaian ini menjadi tulang punggung seluruh puisi. 

Transformasi simbol seperti ini mengingatkan saya pada cara Federico García Lorca membangun puisinya. Saya tentu tidak bermaksud menyebut Isbedy sebagai penyair yang meniru Lorca. Pengaruh sastra tidak bekerja melalui penyalinan, melainkan melalui dialog kreatif. Yang saya temukan adalah resonansi estetik: simbol tidak berhenti sebagai benda, tetapi berubah menjadi organisme makna yang terus bergerak. Sebagaimana bulan, darah, kuda, atau pisau dalam puisi Lorca, Isbedy memilih arang sebagai pusat semesta puisinya. 

Bait kedua memperkuat pembacaan tersebut. 

wajahmu selalu membayang; matahari garang 

menjelma dari amplop suratsurat itu 

tubuhku terbakar hingga hangus 

di depanmu aku hanya arang. 

Di sini amplop tidak lagi menjadi benda mati. Ia menjelma matahari. Namun matahari yang biasanya memberi kehidupan justru tampil garang dan membakar. Ada pembalikan fungsi simbol yang menarik. Cahaya bukan lagi harapan, melainkan ancaman.

Puncak emosional puisi ini terletap pada larik:

di depanmu aku hanya arang

Kata “hanya” menjadi kunci. Penyair tidak mengatakan bahwa dirinya berubah menjadi arang, tetapi mengakui bahwa seluruh identitasnya telah luluh hinggal arang. Ada kepasrahan total di hadapan kekuatan esmosional yang dimiliki sosok “kau”.

Akan tetapi, Isbedy tidak berhenti pada romantisme kehancuran.

kau bisa patahkan sekecilkecil rupa

lalu dibuang di halaman jadi humus

bagi tanaman agar subur

Di sinilah kedalaman puisinya. Arang bukan simbol kematian. Arang adalah fase baru dalam siklus kehidupan. Yang telah hangus justru berubah menjadi humus yang menyuburkan tumbuhan lain. Kehancuran ternyata melahirkan kesuburan. Luka berubah menjadi daya hidup.

Inilah yang membuat saya melihat “Aku Adalah Arang” sebagai puisi transformasi, bukan puisi keputusasaan. 

Penutupnya terasa sangat tenang. 

— di rumah ini 

aku adalah arang 

sisa kayu dibakar.

Tidak ada ratapan. Tidak ada ledakan emosi. Hanya sebuah deklarasi identitas. 

Dan justru di situlah kekuatannya. 

Arang memang sisa pembakaran. Namun arang juga masih menyimpan bara. Bahkan ketika akhirnya menyatu dengan tanah, ia menjadi unsur yang menyuburkan kehidupan. Simbol itu terasa begitu dekat dengan perjalanan kreatif Isbedy sendiri. Setelah puluhan tahun menulis puisi, ia tidak kehilangan energinya.

Pengalaman hidup yang panjang justru menjadi sumber kesuburan bagi karya-karya berikutnya. 

Di titik itulah saya membaca adanya kedekatan estetik dengan Federico García Lorca. Bukan pada bentuk luar puisinya, melainkan pada cara simbol mengalami metamorfosis dan melahirkan makna-makna baru. Lorca menyebut tenaga kreatif itu sebagai duende—daya yang lahir dari luka, kematian, cinta, dan pergulatan eksistensial. Saya merasakan denyut yang serupa dalam “Aku Adalah Arang”, meskipun Isbedy tetap berpijak sepenuhnya pada lanskap budaya dan bahasa Indonesia. 

Almarhum HB Jassin pernah menyebut Isbedy sebagai "Paus Sastra Lampung." Julukan itu lahir dari penghormatan terhadap posisi sentralnya dalam perkembangan sastra Lampung dan telah menjadi bagian dari sejarah kritik sastra Indonesia. Saya tidak melihat alasan untuk menggugat sejarah itu. 

Namun, setiap zaman melahirkan metaforanya sendiri. 

Jika saya diminta mendeskripsikan Isbedy hari ini, saya justru memilih menyebutnya "Orca Sastra Lampung." 

Penyebutan "Orca" yang saya maksud memiliki dua lapis makna. 

Pertama, ia merupakan reduksi dari L(orca)—Lorca yang kehilangan huruf "L". Reduksi ini saya gunakan sebagai penanda adanya resonansi estetik dengan Federico García Lorca. Bukan untuk mengatakan bahwa Isbedy adalah Lorca Indonesia, melainkan untuk menunjukkan bahwa dalam sejumlah puisinya terdapat dialog simbolik yang mengingatkan kita pada dunia puitik penyair Spanyol tersebut. 

Kedua, "Orca" juga merupakan metafora baru. Dalam imajinasi umum, paus sering diasosiasikan dengan tubuh besar yang bergerak lambat, tenang, dan monumental. Orca justru dikenal sebagai mamalia laut yang cerdas, adaptif, disiplin, dan memiliki naluri berburu yang tajam. Ia terus bergerak, terus menjelajah, dan tidak kehilangan instingnya.

Metafora itulah yang saya rasa lebih dekat dengan sosok Paman Is hari ini. 

Ia masih memburu ruang-ruang publikasi. Ia masih mengirim puisi ke berbagai media. Ia masih menerbitkan buku. Ia masih membangun jaringan kesusastraan. Ia masih percaya bahwa puisi harus menemukan pembacanya. Kreativitas baginya bukan aktivitas musiman, melainkan cara hidup. 

Namun, ada satu hal yang menurut saya lebih penting daripada produktivitas itu sendiri. 

Paman Is adalah seorang penyair senior citizen yang tidak pernah menjadikan status senior sebagai tembok pemisah dari generasi yang lebih muda. Ia tetap hadir dalam percakapan sastra, membaca karya-karya penyair muda, memberi apresiasi, membuka ruang dialog, dan mengikuti dinamika sastra yang kini banyak berlangsung di media sosial. 

Sikap seperti ini sesungguhnya langka. Tidak sedikit sastrawan yang, ketika memasuki usia matang, tanpa sadar membangun menara gadingnya sendiri. Ada yang mudah tersinggung ketika dikritik. Ada yang merasa tersaingi oleh penyair muda. Ada pula yang terjebak dalam nostalgia kejayaan masa lalu hingga mengalami apa yang sering disebut sebagai post power syndrome. 

Paman Is memilih jalan yang berbeda. Ia memahami bahwa setiap generasi memiliki kenakalan estetiknya sendiri. Penyair-penyair muda hari ini sering usil, gemar mendekonstruksi pakem, dan tidak jarang menggoda para senior dengan cara-cara yang tidak terbayangkan pada generasi sebelumnya. Namun Paman Is tidak pernah memperlihatkan sikap tersinggung, merasa tersaingi, apalagi menganggap dirinya harus terus berada di singgasana sebagai pusat perhatian. Sebaliknya, ia menikmati dinamika itu sebagai tanda bahwa sastra masih hidup. 

Di sinilah saya melihat makna terdalam metafora "Orca". Seekor orca bertahan bukan karena tubuhnya besar, tetapi karena kecerdasannya beradaptasi dengan perubahan. Demikian pula Isbedy. Ia mempertahankan relevansinya bukan dengan bergantung pada nama besar yang telah dimilikinya, melainkan dengan terus berkarya, terus membaca zaman, dan terus berdialog dengan generasi yang datang sesudahnya. 

Maka, “Aku Adalah Arang” pada akhirnya tidak hanya saya baca sebagai puisi tentang seseorang yang habis dibakar oleh cinta. Saya membacanya sebagai alegori perjalanan seorang penyair. Ia telah melewati begitu banyak musim, begitu banyak pembakaran batin, tetapi api itu tidak memusnahkannya. Api justru memurnikannya. Dan dari arang itulah lahir humus yang menyuburkan kehidupan baru. 

Barangkali itulah yang sedang dilakukan Paman Is hari ini. Ia tidak hanya terus menulis puisi, tetapi juga menyuburkan ekosistem sastra melalui keteladanan, keterbukaan, dan kesediaannya berdialog dengan generasi sesudahnya. 

Karena pada akhirnya seorang penyair tidak hidup oleh julukan. Ia hidup oleh karya-karyanya, oleh kemurahan hatinya kepada sesama penyair, dan oleh kesediaannya untuk terus belajar dari perubahan zaman. 

Jika dahulu HB Jassin dengan tepat menyebutnya "Paus Sastra Lampung", maka bagi saya, sebagai sebuah reinterpretasi atas fase mutakhir kepenyairannya, Isbedy Stiawan ZS layak disebut "Orca Sastra Lampung"—L(orca) yang menanggalkan huruf awalnya sebagai penanda dialog estetik dengan Federico García Lorca, sekaligus orca yang sesungguhnya: cerdas, adaptif, rendah hati, dan tetap buas memburu puisi di samudra sastra Indonesia.***

Irzi ialah nom de plume Ikhsan Risfandi, lahir di Jakarta pada 1985. Buku-buku puisinya adalah Ruang Bicara (Stiletto Book, 2019) dan Trivia Kampung Sawah (Velodrom, 2024). Ia adalah Emerging Writer Ubud Writers & Readers Festival 2026. Karya-karya puisi telah terpublikasi di Bacapetra.co, basabasi.co, kompas.id, dan lain-lain.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User