Merdeka! Tapi yang Datang Mual dan Perih
Oleh Udo Z Karzi
SAYA membaca status-status Arafat Nur beberapa hari ini dengan perasaan campur aduk: mual, perih, sekaligus ingin tertawa. Bukan karena lucu. Justru karena terlalu getir. Kadang-kadang, dalam kehidupan sastra Indonesia, kita memang harus tertawa supaya tidak ikut menangis.
Arafat menulis bahwa selain Kawi Matin di Negeri Anjing dan Dunia Kecil yang Riuh, novel-novelnya yang lain tidak akan diterbitkan lagi. Semua kontrak diputus. Ia ingin hidup tenang. Bertani, bekerja serabutan, mencukupi kebutuhan sehari-hari. Menulis, katanya, akan tetap dilakukan—untuk dirinya sendiri. Buku, rupanya, telah berubah dari sumber kebahagiaan menjadi sumber sakit kepala.
Ada kalimat yang lebih menusuk: “Lihat hidupmu sekarang membusuk bersama Lampuki dan buku-bukumu yang gak laku. Kau masih untung bisa jadi petani, Arafat!”
Waduh!
Seorang pengarang menyuruh dirinya sendiri menghukum dirinya sendiri. Dan kita, para pembaca, cuma bisa bengong sambil bertanya: sebenarnya siapa yang gagal di sini—pengarang, penerbit, pembaca, pasar, atau ekosistem sastra kita?
***
Bagi masyarakat sastra Indonesia—setidaknya yang masih membaca sastra Indonesia—rasanya keterlaluan kalau tidak mengenal Arafat Nur. Ia bukan pengarang yang tiba-tiba muncul membawa naskah lalu berharap menemukan penerbit.
Arafat Nur dikenal sebagai pengarang yang banyak mengolah pengalaman Aceh, konflik, kekerasan, politik, dan kehidupan manusia biasa ke dalam karya-karyanya. Ia menulis puisi, cerpen, dan terutama novel. Lampuki (2011) merupakan salah satu tonggak penting kepengarangannya: memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta dan kemudian Khatulistiwa Literary Award. Tanah Surga Merah (2017) juga memenangkan Sayembara Novel DKJ. Karya-karyanya antara lain Burung Terbang di Kelam Malam, Tempat Paling Sunyi, Lolong Anjing di Bulan, Kawi Matin di Negeri Anjing, dan Dunia Kecil yang Riuh.
Namun, penghargaan ternyata tidak otomatis membuat buku dibaca.
Menurut pengakuan Arafat, Lampuki pernah dicetak ulang tetapi tidak laku. Bahkan setelah diobral Rp10 ribu, buku itu tetap tidak habis. Ia merasa malu, masuk kamar, lalu menangis.
Nah, di titik ini sastra berhenti menjadi sekadar perkara estetika. Ia menjadi perkara kemanusiaan.
***
Ada ironi yang agak kurang ajar dalam kehidupan sastra kita.
Buku bisa menang sayembara. Mendapat penghargaan bergengsi. Dipuji juri. Dibicarakan dalam diskusi. Masuk daftar bacaan penting. Diteliti mahasiswa. Tetapi setelah semua tepuk tangan selesai, buku bisa teronggok di gudang.
Lalu kita masih sibuk menyelenggarakan festival literasi.
Panggung penuh. Spanduk penuh. Pembicara penuh. Foto penuh. Instagram penuh.
Buku?
Sepi.
Bulan lalu saya mengikuti sebuah festival literasi dan peluncuran buku. Anehnya, saya pulang dengan perasaan tidak bangga sebagai salah satu penulis dalam buku yang diluncurkan. Entah apa dan siapa yang sebenarnya dirayakan. Bukunya? Penulisnya? Festivalnya? Panitianya? Atau sekadar keberhasilan membuat acara?
Di negeri ini kita sering lebih pandai merayakan kegiatan daripada merayakan isi.
Buku diluncurkan, tetapi tidak sungguh-sungguh diedarkan. Pengarang diberi panggung, tetapi tidak diberi pembaca. Festival literasi digelar, tetapi setelah lampu panggung dipadamkan, buku kembali kesepian.
Mungkin inilah salah satu penyakit kronis kesusastraan kita: terlalu banyak seremoni, terlalu sedikit pembacaan.
Karena itu, keluhan Arafat Nur jangan buru-buru dibaca sebagai drama seorang pengarang yang sedang patah hati kepada dunia. Ini alarm. Alarm yang bunyinya mungkin tidak terdengar karena kita sedang sibuk tepuk tangan.
***
Tanggal 17 Agustus sebentar lagi. Kita akan kembali mengucapkan: Merdeka!
Merah putih berkibar. Lagu kebangsaan dinyanyikan. Anak-anak lomba makan kerupuk. Orang dewasa lomba joget. Pejabat memberikan sambutan tentang persatuan, pembangunan, dan masa depan bangsa.
Tapi, membaca curhat Arafat membuat saya bertanya: merdeka untuk siapa?
Seorang pengarang bisa menulis tentang kekerasan dan sejarah bangsanya, memperoleh penghargaan, lalu bertahun-tahun kemudian merasa karyanya tidak ada gunanya karena tidak menemukan pembaca.
Kabar lain juga membuat dada sesak. Saut Situmorang, penyair dan pegiat sastra, sedang berjuang di ICU Rumah Sakit Sun Yat-sen University, Shenzhen, setelah mengalami sakit parah ketika memenuhi undangan residensi sastra di China. Komunitas sastra pun bergerak mengabarkan dan menggalang dukungan.
Dua kabar ini berbeda, tetapi sama-sama mengingatkan betapa rapuhnya kehidupan sastrawan.
Yang satu berjuang melawan sakit kepala karena buku.
Yang satu berjuang melawan sakit tubuh.
Sementara kita mungkin sibuk menghitung berapa banyak festival sastra yang sudah diselenggarakan tahun ini.
Lalu saya menengok diri sendiri.
Betapa tragisnya diri ini yang masih saja ngotot menulis dan menerbitkan buku. Masih berharap ada orang membaca. Lebih naif lagi: berharap setelah membaca, orang terdorong menulis.
Apalah artinya buku sastra di tengah hiruk-pikuk ekonomi-politik negeri yang semakin tidak jelas dan kian jauh dari cita-cita Kemerdekaan sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945?
Apalah arti satu puisi ketika perhatian publik lebih mudah direbut oleh keributan daripada pemikiran?
Namun, barangkali justru karena itulah kita harus tetap menulis.
Bukan karena buku pasti laku. Bukan karena penghargaan pasti datang. Bukan karena pemerintah akan peduli. Bukan pula karena menjadi penulis otomatis membuat kita penting.
Kita menulis karena kalau tidak menulis, ada sesuatu dalam diri yang terasa kurang waras.
Arafat menyebut menulis sebagai obat sakit kepala ketika denyut perihnya kambuh. Banyak pengarang mungkin memahami itu. Menulis bukan selalu pekerjaan. Kadang ia semacam penyakit yang sengaja dipelihara karena kita tidak tahu cara lain untuk tetap menjadi manusia.
Merdeka, rupanya, bukan berarti bebas dari perih.
Merdeka mungkin berarti tetap mampu mengatakan bahwa kita sedang perih.
Dan sastra—yang sering dianggap tidak berguna itu—barangkali adalah salah satu cara paling manusiawi untuk mengatakannya.
Jadi, Merdeka!
Tapi maaf, Bung, saya masih mual.
Dan, sedikit perih.
Pesan sponsor: Tetap ikutan Penghargaan Sastra Udo Z Karzi 2026. Naskah puisi masih ditunggu hingga 31 Agustus 2026. Silakan terus menulis. Siapa tahu bukunya nanti laku. Kalau tidak laku juga, setidaknya kita sudah punya alasan untuk terus mengomel dengan elegan.
Tabik.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)