Peluncuran Buku ‘Puisi 68’ Karya Isbedy Dihadiri Presiden Penyair Indonesia

Jul 15, 2026 - 23:42
Updated: 23 minutes ago
0 8
Peluncuran Buku ‘Puisi 68’ Karya Isbedy Dihadiri Presiden Penyair Indonesia
Dari kiri ke kanan: Isbedy, Sutardji, Jose Rizal Manusia, dan Helvy Tiana Rosa

Teraslampung.com  Jakarta -- Peluncuran buku Puisi 68 karya Isbedy Stiawan ZS di Pusat Dokimenrasi Sasyra H. B. Jassin, Jakarta, Rabu 15 Juli 2026 petang, dihadiri Presiden Penyair Indoenesi, Sutardji Calzoum Bachri. Bahkan, penulis buku puisi O, Amuk, Kapak tersebut memberikan testimoni untuk kepenyairan dan karya-karya Isbedy. 

Menurut Sutardji yang pernah menulis esai tentang puisi-puisi Isbedy yang dimuat Kompas bertajuk “Isbedy dan Lain Ikhwal tentang Isbedy” mengatakan, produktivitas Isbedy dalam menulis puisi tetap menjaga kualitas. Hal itu jarang ditemui di penyair Indonesia lainnya.

 “Saya lihat Isbedy memang produktif dalam berkarya, namun kualitas dari puisi-puisinya tetap terjaga,” ujar Sutardji.

 Menurut Tarji,  kecintaan kepada puisi mengantar pada Isbedy tetap mementingkan kualitas.

"Isbedy memilih menjadi penyair adalah kesetiaan menjaga kata-kata. Bagi Isbedy hal itu sudah tak ada masalah, ia telah melewati kendala yang biasa dihadapi oleh penyair,” ungkapnya.

 Pada kesempatan itu, Sutardji mengakui kedekatannya pada puisi-puisi Isbedy sejak 1987-an. Hal itu juga diakui penyair Isbedy yang dijuluki Paus Sastra Lampung oleh HB Jassin.

Tentang hal itu, Isbedy mengaku saat Forum Penyair Indonesia 87, Sutardji menyebut penyair muda yang kuat dalam puisi-puisinya disebut sebagai “penyair masa depan”.

“Ini terbukti bahwa kami yang hadir di Forum Puisi 87 masih berkarya,” kata Isbedy.

Peluncuran buku sekaitan dengan acara bertajuk "Milad 68 Tahun dan Bincang Karya" yang menghadirkan Nanang R. Supriyatin dan Isbedy, serta dimoderatori Fitri Angraini, S.S., M.Pd. ini dihadiri sekitar 65 undangan.

Antara lain  Fatin Hamama, Riri Satria, D. Kemalawati, Fikar W Eda, Ahmad Nurullah, Kurniawan Junaidi, Adri Darmaji Woko, Jonminofri Nazir, Yon Bayu,  Remy Novaris DM, Giyanto Subagyo.

Selain Sutardji, penyair yang memberi testimoni adalah Riri Satria, Fikar W. Eda, dan Fatin Hamama.

“Isbedy adalah penyair yang bagus menulis puisi sekaligus pembaca puisi yang baik,” kata Fatin.

Sementara Riri Satria melihat Isbedy adalah penyair senior yang tidak berjarak dengan penyair di bawahnya.

“Bahkan Isbedy tidak pernah menunjukkan kesombongan sebagai penyair Isbedy,” tekan Riri dari Jagat Sastra Milenial itu.

Masih kata Riri Satria, julukan “Paus Sastra Lampung” yang lahir bukan semata-mata karena produktivitas berkaryanya, melainkan juga karena pengakuan dedikasinya yang panjang dalam membangun ekosistem sastra di Lampung,” nilai Riri yang juga dikenal penyair ini.

Kiprah Bang Is melalui Lamban Sastra di Lampung, lanjut Riri, merupakan contoh nyata bahwa seorang penyair tidak cukup hanya menghasilkan karya, tetapi juga membangun ruang agar sastra terus bertumbuh. Isbedy sudah baik menulis puisi baik pula membaca puisi, dan ia juga berhasil memotivasi orang untuk menulis puisi melalui Lamban Sastra.

 “Beliau terus mengabdikan diri sebagai pengayom bagi para penulis muda melalui berbagai komunitas literasi. Kehadiran beliau mengingatkan saya bahwa sastra tidak akan pernah hidup hanya melalui buku-buku, melainkan juga melalui orang-orang yang dengan sabar merawatnya dari hari ke hari,” katanya.

Peluncuran buku Puisi 68 dan Bincang Karya ini dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh sejumlah penyair. Antara lain Jose Rizal Manua, Helvy Tiana Rosa, Dzafira Adeliaputri Isbedy, Iin Zakaria, Erika Novolia Sani, Devi Matahari, Tri Lestari, Syaifuddin Gani, Novriaaan Ail, Nunung Noor El Niel, Nia Samsihono. Humam S. Chudori, Lily Siti Multatuliana Sutan Iskandar, Nurhayati. Acara ini dikemas apik oleh pewara Rissa Churia.*

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User