Daoed Joesoef, Sastra, dan Keteguhan pada Prinsip
Oleh Udo Z Karzi
KALAU ditanya siapa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang pernah membuat saya “kesal” sejak kecil, salah satu jawabannya adalah Daoed Joesoef (1926—2018).
Bukan karena beliau galak. Bukan pula karena saya pernah dihukum olehnya. Jangankan dihukum, bertemu pun belum pernah. Namun, gara-gara kebijakannya mengubah kalender pendidikan, saya dan teman-teman seangkatan harus mendekam di kelas dua SD selama satu setengah tahun.
Bayangkan perasaan bocah yang sudah merasa pintar perkalian dan hafal nama-nama provinsi. Januari 1978 saya naik ke kelas dua. Mestinya Januari 1979 naik ke kelas tiga. Eh, tiba-tiba datang kebijakan baru dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1978-1983) Daoed Joesoef.
Tahun ajaran yang sebelumnya mengikuti tahun kalender diubah menjadi tahun ajaran seperti sekarang: 1978/1979, 1979/1980, dan seterusnya. Akibatnya, kami tertahan di kelas dua sampai Juni 1979. Baru Juli 1979 naik ke kelas tiga.
Secara akademik mungkin tidak ada masalah. Namun, bagi anak-anak, enam bulan tambahan di kelas dua itu terasa seperti hukuman seumur hidup. Waktu itu saya tentu tidak memahami alasan perubahan tersebut. Yang saya tahu hanya satu: “Pak Menteri ini bikin kami lama naik kelas.”
Bertahun-tahun kemudian saya baru sadar bahwa kebijakan pendidikan tidak selalu bisa diukur dari kenyamanan sesaat. Kadang ada masa transisi yang membuat sebagian orang merasa dirugikan, tetapi diperlukan untuk membangun sistem yang lebih tertata.
Begitulah Daoed Joesoef.
Ia sering tidak populer, tetapi tetap berjalan dengan keyakinannya. Menariknya, jauh sebelum saya mengenal pemikiran-pemikirannya, saya lebih dahulu “memergoki” Daoed Joesoef sebagai seorang penulis sastra.
Ketika masih SD menjelang lulus pada 1983, saya membaca dua buku terbitan Himpunan Pengarang Indonesia (Aksara): Ibu: Kumpulan Cerita Para Pengarang Aksara (terbit 1982) dan Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa: Kumpulan Karangan Himpunan Pengarang Indonesia Aksara (terbit 1983).
Di sana saya menemukan sesuatu yang tidak biasa. Ada nama Daoed Joesoef. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Menulis cerpen.
Bagi saya waktu itu, menteri adalah makhluk yang kerjanya rapat, pidato, dan menandatangani surat. Ternyata ada menteri yang menulis cerita pendek.
Belakangan saya mengetahui bahwa selain Nugroho Notosusanto, Daoed Joesoef memang termasuk Mendikbud yang memiliki hubungan dekat dengan dunia kepenulisan.
Cerpennya yang berjudul “Mak” bahkan tampaknya kemudian berkembang menjadi buku memoar yang sangat terkenal, Emak Penuntunku dari Kampung Darat sampai Sorbonne (2010).
Buku itu bukan sekadar kisah seorang ibu. Ia adalah kesaksian seorang anak yang berhasil menembus dunia intelektual internasional tanpa pernah melupakan akar kampungnya. Yang mengagumkan bukan hanya kisah keberhasilan Daoed Joesoef, melainkan cara ia memandang ibunya.
Ayah dan ibunya hanyalah orang kampung yang tidak mengenyam pendidikan formal tinggi. Namun dari tangan seorang ibu yang bahkan hidup dalam keterbatasan itulah lahir seorang intelektual yang kemudian belajar hingga ke Sorbonne.
Di situlah sastra bekerja. Sastra membuat seseorang mampu melihat kebesaran dalam hal-hal yang tampak biasa. Sastra membuat seseorang tidak sekadar berpikir, tetapi juga merasakan.
Mungkin karena itulah Daoed Joesoef memiliki pandangan pendidikan yang berbeda. Ia tidak melihat pendidikan sebagai urusan angka-angka semata. Ia melihat pendidikan sebagai pembentukan manusia.
Saya baru benar-benar berkenalan dengan pemikiran Daoed Joesoef ketika menjadi mahasiswa FISIP Universitas Lampung pada 1990. Saat itu kampus masih hidup dalam bayang-bayang NKK/BKK--Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan.
Kebijakan yang lahir dari pemikiran Daoed Joesoef ini membatasi keterlibatan mahasiswa dalam politik praktis.
Sebagai mahasiswa baru yang baru belajar sedikit teori politik, saya langsung merasa ini tidak adil. Mahasiswa kok dilarang berpolitik? Saya pun protes. Dengan gagah berani—dan mungkin sedikit sok tahu—saya menulis artikel berjudul “Mahasiswa Berpolitik, Itu Tabu?” di koran kampus Teknokra.
Waktu itu saya yakin berada di pihak yang benar. Namun, usia punya kebiasaan buruk: membuat kita meninjau ulang keyakinan-keyakinan masa muda.
Setelah Reformasi, saya menyaksikan sendiri bagaimana sebagian mahasiswa yang dulu meneriakkan idealisme ternyata begitu cepat berbelok arah ketika mencium aroma kekuasaan.
Belum lulus sudah sibuk mencari posisi. Belum selesai membaca buku sudah sibuk menghitung peluang kursi. Belum matang berpikir sudah tergesa-gesa menjadi politisi.
Tentu tidak semua demikian. Namun, cukup banyak untuk membuat saya memahami kegelisahan Daoed Joesoef. Barangkali yang ingin ia jaga bukan mahasiswa dari politik, melainkan politik dari mahasiswa yang belum selesai menjadi mahasiswa.
Saya tidak mengatakan NKK/BKK tanpa masalah. Kebijakan itu tetap bisa diperdebatkan. Namun, setidaknya saya mulai mengerti bahwa di balik kebijakan tersebut ada sebuah gagasan yang lahir dari pemikiran serius, bukan sekadar celetukan spontan di depan mikrofon.
Nah, di sinilah saya semakin menghargai Daoed Joesoef. Ia boleh salah. Ia boleh diperdebatkan. Tapi, ia selalu berpikir. Dan lebih penting lagi, ia memahami bidang yang ia urusi.
Hal itu tampak ketika ia memprotes keras pemisahan pendidikan dan kebudayaan. Menurut Daoed Joesoef, pendidikan dan kebudayaan adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Pendidikan tanpa kebudayaan akan melahirkan manusia pintar tetapi kehilangan arah. Sebaliknya, kebudayaan tanpa pendidikan akan kehilangan daya transformasinya.
Karena itu ketika kementerian pendidikan dipisahkan dari kebudayaan, ia menyampaikan kritik. Ketika pendidikan tinggi dipisahkan dari pendidikan dasar dan menengah, ia juga bertanya dengan nada yang khas dan menusuk: “Memangnya setelah pendidikan tinggi, mahasiswa tidak perlu berbudaya?”
Pertanyaan sederhana. Tapi mematikan. Sebab, memang di situlah persoalannya. Kita sering memecah-mecah sesuatu yang sebenarnya satu kesatuan. Pendidikan dipisahkan dari kebudayaan. Ilmu dipisahkan dari etika. Kecerdasan dipisahkan dari kebijaksanaan. Akibatnya, lahirlah orang-orang yang sangat terdidik tetapi sering tidak bijak.
Mungkin itulah yang membedakan Daoed Joesoef dengan banyak pejabat masa kini. Ia membaca. Ia menulis. Ia berpikir. Ia merenung. Ia memiliki landasan intelektual yang jelas. Karena itu ketika berbicara, yang keluar adalah argumentasi. Bukan sekadar asbun.
Sekarang coba lihat sekeliling. Kadang kita menemukan pejabat yang berbicara lebih cepat daripada berpikir. Pernyataan berubah setiap minggu. Kebijakan berganti setiap bulan. Logika sering kalah oleh pencitraan. Yang penting viral dulu. Urusan benar atau tidak, belakangan.
Barangkali memang ada hubungan erat antara budaya membaca dan kualitas berpikir. Orang yang rajin membaca biasanya lebih hati-hati menyimpulkan. Orang yang terbiasa menulis biasanya lebih sadar bahwa setiap kata punya konsekuensi.
Sedangkan mereka yang malas membaca sering merasa semua hal bisa dijelaskan dalam satu unggahan media sosial.
Untung sekarang ada AI. Kalau tidak bisa menulis, tinggal minta AI. Kalau tidak sempat berpikir, tinggal suruh AI merangkumnya. Kalau tidak punya gagasan, tinggal minta AI mencarikannya.
Persoalannya, AI hanya bisa membantu mengolah pengetahuan. AI tidak bisa menggantikan kebijaksanaan. Ia tidak bisa menggantikan pengalaman batin. Ia tidak bisa menggantikan keteguhan prinsip.
Dan, itulah yang dimiliki Daoed Joesoef. Keteguhan pada prinsip. Ia mungkin tidak selalu disukai. Ia mungkin tidak selalu disetujui. Namun, ia tidak berubah arah hanya karena tepuk tangan atau cemoohan.
Di zaman ketika banyak orang lebih takut kehilangan popularitas daripada kehilangan prinsip, keteguhan seperti itu terasa semakin langka.
Maka ketika mengenang Daoed Joesoef hari ini, saya tidak hanya mengenang seorang mantan menteri. Saya mengenang seorang pembaca. Seorang penulis. Seorang pemikir. Seorang yang percaya bahwa pendidikan dan kebudayaan tidak boleh dipisahkan.
Dan diam-diam, saya juga mengenang bocah kelas dua SD yang pernah kesal karena harus tinggal lebih lama di bangku sekolah.
Induh kidah.
Ternyata, setelah puluhan tahun berlalu, saya justru berterima kasih kepada orang yang dulu saya salahkan itu. []
___________
Udo Z Karzi, tukang tulis, tinggal di Bandar Lampung.






