Para Pembegal Kekuasaan
Oleh: Sudjarwo*
Tidak semua orang yang lantang mengkritik pemerintah benar-benar ingin memperbaiki keadaan. Sebagian mungkin memang berdiri di atas kegelisahan yang tulus, tetapi sebagian lainnya bisa jadi sedang menghitung peluang di balik setiap kesalahan penguasa. Mereka berbicara tentang penderitaan rakyat, meneriakkan keadilan, mengutuk ketidakberesan, dan tampil seolah-olah menjadi penyelamat bangsa. Suaranya sama keras, kata-katanya sama meyakinkan, bahkan kemarahannya tampak begitu meyakinkan. Namun, di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang patut diajukan: apakah mereka sedang memperjuangkan perubahan, atau sekadar mencari jalan untuk menggantikan orang-orang yang sedang berkuasa?
Di sinilah kita perlu mengenali wajah para pembegal kekuasaan. Bukan mereka yang sekadar memiliki ambisi politik, sebab keinginan berkuasa adalah bagian dari demokrasi. Yang patut diwaspadai adalah mereka yang menjadikan kritik sebagai kedok, penderitaan rakyat sebagai komoditas, dan kekecewaan publik sebagai kendaraan untuk mencapai kepentingannya sendiri. Mereka tidak selalu datang dengan wajah garang. Terkadang, mereka hadir dengan senyum simpatik, kalimat yang menyentuh nurani, dan janji perubahan yang terdengar seperti jawaban atas seluruh persoalan bangsa.
Cara mereka bekerja pun tidak selalu mudah dikenali. Kesalahan pemerintah yang nyata dijadikan panggung untuk membangun pengaruh. Kekurangan diperbesar, keberhasilan diabaikan, dan setiap persoalan dipelintir menjadi bukti bahwa keadaan tidak lagi memiliki harapan. Mereka pandai meniup bara kemarahan, tetapi belum tentu bersedia memadamkan api ketika kepentingannya telah tercapai. Sebab, bagi mereka yang menjadikan keresahan sebagai modal politik, masyarakat yang terus marah terkadang lebih menguntungkan daripada masyarakat yang memperoleh penyelesaian.
Ironisnya, mereka sering menggunakan bahasa yang sama dengan para pejuang perubahan. Mereka bicara tentang rakyat kecil, demokrasi, keadilan, dan masa depan bangsa. Mereka mengaku muak terhadap penyalahgunaan kekuasaan, tetapi apakah mereka benar-benar menolak penyalahgunaan itu, atau hanya menolak kenyataan bahwa bukan mereka yang sedang menikmatinya? Pertanyaan ini memang tajam, bahkan terasa tidak nyaman. Namun, justru di tengah hiruk-pikuk politik, pertanyaan yang tidak nyaman sering kali lebih diperlukan daripada pujian yang meninabobokan.
Ukuran ketulusan tidak terletak pada kerasnya suara, melainkan pada konsistensi sikap. Orang yang sungguh-sungguh memperjuangkan kebenaran tidak akan kehilangan keberanian hanya karena kesalahan dilakukan oleh kelompoknya sendiri. Ia tidak akan menutup mata terhadap fakta yang menguntungkan pihak yang berseberangan. Ia juga tidak berhenti memperjuangkan perbaikan ketika pemerintah mengakomodasi sebagian tuntutannya. Sebaliknya, kritik yang semata-mata digerakkan oleh ambisi cenderung kehilangan ketajamannya ketika kepentingan telah terakomodasi, atau justru menemukan musuh baru ketika panggung politik mulai sepi.
Kita harus berhati-hati terhadap mereka yang menganggap setiap persoalan sebagai kesempatan untuk membakar kepercayaan publik. Mengkritik kebijakan yang keliru adalah kewajiban moral, tetapi mengubah setiap kekeliruan menjadi alasan untuk menebar kebencian merupakan perkara berbeda. Rakyat berhak mengetahui kebenaran secara utuh, bukan disuguhi potongan fakta yang sengaja dipilih demi membentuk kemarahan. Sebab, masyarakat yang terus-menerus diprovokasi tanpa diberi pemahaman dapat berubah menjadi alat bagi kepentingan yang bahkan tidak mereka ketahui.
Namun, kewaspadaan terhadap pembegal kekuasaan tidak boleh dijadikan tameng bagi pemerintah untuk menghindari kritik. Penguasa yang gemar melabeli setiap pengkritik sebagai musuh demokrasi juga sedang mempertaruhkan kepercayaan rakyat. Tidak semua kritik adalah konspirasi, sebagaimana tidak semua seruan perubahan lahir dari ketulusan. Keduanya harus diuji dengan ukuran yang sama: fakta, argumentasi, konsistensi, dan tanggung jawab. Jangan sampai istilah pembegal kekuasaan justru digunakan untuk membungkam suara jujur, sementara mereka yang benar-benar memanfaatkan rakyat berlindung di balik slogan perjuangan.
Persoalan sesungguhnya bukan siapa yang paling lantang berteriak, melainkan siapa yang tetap berdiri pada prinsip ketika keadaan tidak lagi menguntungkan dirinya. Sebab, memperjuangkan kebenaran membutuhkan keberanian untuk mengoreksi siapa pun, sedangkan mengejar kekuasaan dengan menunggangi kebenaran hanya membutuhkan kecakapan memainkan emosi. Yang pertama mungkin tidak selalu populer, tetapi menawarkan jalan perbaikan. Yang kedua mungkin memikat banyak orang, tetapi menyimpan risiko bahwa setelah tujuan tercapai, rakyat kembali ditinggalkan sendirian.
Bangsa ini tidak boleh terus-menerus terjebak dalam pergantian wajah tanpa perubahan watak. Kita tidak membutuhkan penyelamat yang hanya pandai menunjukkan luka, tetapi tidak memiliki kesungguhan untuk menyembuhkannya. Kita juga tidak membutuhkan penguasa yang alergi terhadap kritik. Yang diperlukan adalah masyarakat yang berani mengawasi pemerintah sekaligus cerdas menguji siapa pun yang mengaku membawa suara rakyat.
Jangan biarkan kemarahan kita menjadi tangga bagi ambisi orang lain. Jangan pula menyerahkan penilaian hanya kepada mereka yang paling pandai merangkai kata. Dengarkan kritiknya, periksa buktinya, timbang solusinya, dan amati konsistensinya. Sebab, pembegal kekuasaan yang paling berbahaya bukan selalu mereka yang terang-terangan mengaku ingin berkuasa, melainkan mereka yang membungkus ambisinya dengan nama rakyat, menyamarkan kepentingannya dengan slogan keadilan, lalu meminta masyarakat menyerahkan kepercayaan tanpa pernah menjelaskan untuk siapa sesungguhnya kekuasaan itu akan digunakan.
*Guru Besar Universitas Malahayati
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)