Kayu Ara: Menelusuri Jejak Gagasan Anshori Djausal, Merawat Akar Budaya Lampung

Oct 21, 2026 - 19:10
0 4
Kayu Ara: Menelusuri Jejak Gagasan Anshori Djausal, Merawat Akar Budaya Lampung

Teraslampung.com, Bandarlampung — Sebuah menara dapat berdiri karena perhitungan teknik. Namun, maknanya menjadi lebih dalam ketika bentuknya menyimpan ingatan tentang kebudayaan. Begitulah salah satu cara membaca perjalanan Anshori Djausal, insinyur, akademisi, sekaligus pegiat kebudayaan Lampung yang gagasan dan karyanya kini dapat ditelusuri melalui pameran Kayu Ara: Arsitektur, Teknologi dan Budaya Lampung dalam Karya dan Pemikiran Anshori Djausal.

Setelah dipamerkan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pameran tersebut hadir di Perpustakaan Daerah Provinsi Lampung, Bandar Lampung, pada 20 Oktober hingga 2 November 2026. Bertempat di Nuwa Baca Zainal Abidin Pagaralam, Jalan Z.A. Pagaralam, Labuhan Ratu, pameran ini terbuka untuk umum setiap hari pukul 09.00–16.00 WIB tanpa biaya masuk.

Bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Cabang Lampung, penyelenggaraan ini menawarkan kesempatan untuk membaca kembali perjalanan intelektual seorang tokoh yang menempatkan ilmu teknik, lingkungan, dan kebudayaan dalam satu bentang pemikiran.

Pameran di Lampung juga menghadirkan sejumlah materi berbeda dari edisi Jakarta. Materi yang tidak memungkinkan untuk dipindahkan digantikan dengan lukisan karya Anshori dan koleksi layang-layang. Dokumentasi kegiatan kebudayaannya diperluas, mencakup kain tapis, topeng sekura, Kuntara Adat Marga Bunga Mayang, kikat, hingga batu akik.

Budayawan yang juga Sekretaris Akademi Lampung, Iwan Nurdaya-Djafar, mengajak masyarakat memanfaatkan pameran tersebut sebagai ruang pembelajaran.

“Silakan kunjungi pameran edukatif ini,” ujarnya.

Tambahan materi itu memperlihatkan keluasan perhatian Anshori. Ia tidak hanya bergelut dengan gambar teknik, konstruksi, dan hitungan rekayasa, tetapi juga berusaha memahami pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman masyarakat Lampung. Benda-benda budaya, dalam pandangan semacam ini, bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan jejak kecerdasan manusia dalam membaca alam dan membangun kehidupan bersama.

Menyatukan Rekayasa dan Identitas

Lahir di Kotabumi, Lampung Utara, pada 13 Maret 1952, Anshori menempuh pendidikan Teknik Sipil di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia meraih gelar sarjana pada 1980 dan magister pada 1991. Sejak 1983 hingga purna tugas pada 2017, ia mengabdikan diri sebagai akademisi di Fakultas Teknik Universitas Lampung.

Dalam perjalanan kariernya, Anshori pernah menjabat dekan dan meraih penghargaan Dosen Teladan I Universitas Lampung serta Dosen Teladan V Nasional pada 1994.

Salah satu bidang yang digelutinya ialah teknologi ferrocement, material konstruksi berbasis mortar semen yang diperkuat jaring kawat. Teknologi ini dikembangkan untuk beragam kebutuhan masyarakat, antara lain pembuatan perahu nelayan, tangki air, sumur, dan fasilitas sanitasi.

Di sini, ilmu teknik tidak berhenti sebagai pengetahuan di ruang kuliah atau laboratorium. Ia diuji oleh kebutuhan sehari-hari: bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan, dijangkau, dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat.

Cara berpikir serupa tampak pada Menara Siger di Bakauheni, ikon Provinsi Lampung yang lekat dengan nama Anshori. Bangunan tersebut mempertemukan perhitungan rekayasa modern dengan bentuk siger, simbol yang kuat dalam identitas budaya Lampung.

Menara itu tidak sekadar menjadi penanda geografis di gerbang masuk Sumatera. Ia juga memperlihatkan bagaimana arsitektur dapat mengolah simbol lokal menjadi bahasa visual yang hadir di ruang publik.

Perjumpaan antara teknologi dan identitas tersebut menjadi salah satu benang merah dalam pameran Kayu Ara. Pembangunan, dalam perspektif ini, tidak harus menjauhkan masyarakat dari akar kebudayaannya. Sebaliknya, pengetahuan lokal dapat menjadi sumber gagasan untuk merancang masa depan.

Dari Habitat Kupu-Kupu hingga Kanvas

Perhatian Anshori tidak hanya tertuju pada bangunan dan teknologi konstruksi. Bersama istrinya, Herawati Soekardi, ia merintis Taman Kupu-Kupu Gita Persada di kaki Gunung Betung. Kawasan tersebut dikembangkan sebagai habitat kupu-kupu sekaligus ruang pendidikan dan konservasi.

Keterlibatan itu memperlihatkan perhatian terhadap hubungan manusia dengan lingkungan. Alam bukan semata-mata ruang yang dapat dimanfaatkan, melainkan ekosistem yang perlu dipahami dan dijaga keberlangsungannya.

Anshori juga menaruh perhatian pada fotografi udara, termasuk kite aerial photography, serta persoalan tata ruang, mitigasi bencana, koridor satwa, rehabilitasi lahan kritis, dan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.

Di ranah kebudayaan, ia mengkaji nilai-nilai Lampung, seperti Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, Bejuluk Beadek, dan Sakai Sambayan. Nilai-nilai itu hidup dalam tata pergaulan, penghormatan terhadap sesama, keterbukaan, serta semangat bekerja bersama.

Perhatian terhadap kebudayaan tersebut memberi dimensi lain pada kiprahnya sebagai insinyur. Pengetahuan tidak hanya diukur melalui hasil pembangunan yang kasatmata, tetapi juga melalui pemahaman terhadap masyarakat yang menjadi bagian dari lingkungan pembangunan itu sendiri.

Sementara itu, seni lukis menjadi ruang eksplorasi baru bagi Anshori ketika pandemi Covid-19 melanda pada 2020. Ia mulai bereksperimen dengan cat air di atas kertas berukuran A4 dan A3. Dalam setahun, puluhan hingga ratusan karya berukuran kecil lahir dari proses mencoba, mengamati, dan menemukan kemungkinan visual.

Pertemuannya dengan para perupa melalui kegiatan kebudayaan dan Akademi Lampung kemudian memperluas pengalaman tersebut. Ia mulai menggunakan cat akrilik dan semakin menikmati proses melukis sebagai bentuk ekspresi yang berbeda dari disiplin teknik.

Sejumlah karyanya bahkan telah terjual. Namun, arti penting kegiatan melukis itu tidak semata-mata terletak pada penerimaan pasar. Kanvas memberinya ruang untuk menjelajahi warna, bentuk, dan imajinasi, sesuatu yang berbeda dari dunia konstruksi yang menuntut ketepatan ukuran dan perhitungan.

Kehadiran lukisan dalam pameran Kayu Ara mengajak pengunjung melihat Anshori dari sudut pandang yang lebih luas. Di balik sosok akademisi yang akrab dengan angka dan struktur, ada seorang pencipta yang terus membuka diri terhadap kemungkinan baru.

Kayu Ara dan Pengetahuan yang Berakar

Nama Kayu Ara menghadirkan gambaran pohon yang tumbuh, berakar, dan menjadi bagian dari ekosistem. Metafora itu terasa selaras dengan perjalanan pemikiran Anshori, yang menghubungkan berbagai disiplin tanpa harus menghapus kekhasan masing-masing.

Teknologi berjumpa dengan kebutuhan masyarakat. Arsitektur berdialog dengan identitas lokal. Konservasi berkaitan dengan keberlanjutan lingkungan. Seni menjadi jalan lain untuk membaca pengalaman manusia dan dunia di sekitarnya.

Melalui arsip, dokumentasi, karya seni, serta rekam jejak pemikirannya, pengunjung diajak melihat bahwa pengetahuan tidak tumbuh dalam ruang yang terpisah-pisah. Seorang insinyur dapat belajar dari tradisi, seorang pegiat kebudayaan dapat berdialog dengan teknologi, dan pembangunan dapat menemukan arah melalui pemahaman terhadap lingkungan.

Kehadiran dokumentasi kain tapis, topeng sekura, kikat, hingga koleksi layang-layang memperkaya pembacaan tersebut. Tradisi tidak ditempatkan sekadar sebagai ornamen untuk mempercantik pameran, melainkan sebagai bagian dari pengetahuan yang diwariskan, dipraktikkan, dan terus mengalami penafsiran.

Setelah hadir di Jakarta, Kayu Ara kembali ke Lampung, tempat gagasan-gagasan itu memperoleh konteks sosial dan budayanya. Perpustakaan Daerah Provinsi Lampung menjadi ruang perjumpaan antara karya seorang tokoh dan masyarakat yang menjadi bagian dari lanskap pemikirannya.

Pameran ini terbuka bagi pelajar, mahasiswa, arsitek, seniman, peneliti, komunitas budaya, dan masyarakat umum hingga 2 November 2026.

Pada akhirnya, perjalanan Anshori Djausal mengingatkan bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan yang lama demi sesuatu yang baru. Ada kalanya masa depan justru ditemukan dengan membaca kembali akar, memahami lingkungan, dan menghubungkan pengetahuan yang selama ini dianggap berbeda.

Seperti pohon yang tumbuh dari tanahnya, gagasan yang bertahan bukan hanya gagasan yang menjulang tinggi, melainkan juga yang mampu memberi manfaat bagi kehidupan di sekitarnya. (*)

Ch Heru Saputro

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User