Ketika Sengkuni Tidak Pernah Pergi

Jun 22, 2026 - 06:52
Updated: 2 days ago
0 40
Ketika Sengkuni Tidak Pernah Pergi

Oleh: Sudjarwo

Dunia pewayangan Jawa mengenal Sengkuni sebagai tokoh yang cerdas, licik, dan penuh intrik politik. Ia bukan raja, bukan ksatria utama, dan bukan panglima perang yang turun langsung ke medan laga. Namun pengaruhnya sangat besar dalam menentukan arah cerita Mahabharata versi Jawa, karena ia bergerak di wilayah yang sering lebih menentukan daripada kekuatan fisik, yaitu wilayah strategi, komunikasi, dan pembentukan persepsi. Dalam banyak lakon, Sengkuni menjadi simbol dari kecerdasan yang tidak disertai kebijaksanaan.

Jika Sengkuni dipahami sebagai tamsil sosial, maka ia tidak harus dipandang sebagai individu tertentu. Ia lebih tepat dilihat sebagai cara berpikir yang bisa muncul di berbagai ruang kehidupan. Cara berpikir ini menekankan kemenangan kelompok di atas kebenaran, kepentingan jangka pendek di atas keberlanjutan, serta kelicikan strategi di atas kejujuran moral. Dalam konteks inilah Sengkuni menjadi relevan untuk membaca gejala sosial dan politik di Indonesia hari ini, tanpa menunjuk pihak tertentu secara sempit.

Pada kehidupan publik, kita sering melihat pola yang menyerupai kerja Sengkuni. Ketika sebuah masalah muncul di ruang publik, respons yang muncul sering kali berfokus pada pengelolaan citra daripada penyelesaian akar persoalan. Ketika kritik disampaikan, perhatian kadang bergeser pada siapa yang menyampaikan kritik, bukan pada isi kritik itu sendiri. Ketika krisis terjadi, diskusi publik sering terjebak pada pencarian kambing hitam, bukan pada evaluasi sist em yang menyebabkan krisis tersebut berulang.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dalam ekosistem sosial yang kompleks, termasuk media sosial, budaya politik, dan cara masyarakat mengonsumsi informasi. Di era digital, informasi bergerak sangat cepat, tetapi tidak selalu disaring berdasarkan kebenaran. Yang paling emosional lebih mudah menyebar daripada yang paling akurat. Yang memperkuat identitas kelompok lebih cepat diterima daripada yang mengajak refleksi kritis. Dalam situasi seperti ini, cara kerja “Sengkuni” menjadi semakin mudah hidup, bukan karena satu orang, tetapi karena sistem komunikasi yang mendukungnya.

Pada kisah Mahabharata, Duryudana sebenarnya tidak kekurangan nasihat. Bhisma, Durna, Widura, dan bahkan Kresna berulang kali memberikan peringatan agar ia tidak menempuh jalan yang merusak tatanan keluarga dan negara. Namun peringatan tersebut terus kalah oleh dorongan ambisi, rasa benar sendiri, dan bisikan yang memperkuat keinginan untuk mempertahankan kekuasaan dengan segala cara. Sengkuni berada di tengah proses itu sebagai penguat keputusan, bukan penyeimbangnya.

Jika kita menarik makna ini ke dalam konteks bangsa, kita dapat menemukan kesamaan pola dalam konsep budaya Jawa yang sering disebut “kapok lombok”, yaitu jera yang bersifat sementara. Banyak pengalaman kolektif menunjukkan bahwa masyarakat dapat menyadari kesalahan setelah mengalami dampaknya. Namun setelah waktu berlalu dan tekanan mereda, pola yang sama sering kembali muncul dalam bentuk yang berbeda. Kesadaran ada, tetapi perubahan struktural tidak selalu mengikuti kesadaran tersebut.

Pada titik inilah, Sengkuni menjadi simbol yang lebih luas daripada sekadar tokoh antagonis. Ia mewakili kecenderungan manusia dan kelompoknya untuk memilih narasi yang nyaman daripada kebenaran yang menuntut perubahan. Ia hidup dalam ruang ketika masyarakat lebih suka mendengar penjelasan yang membenarkan posisi mereka, daripada penjelasan yang mengoreksi kesalahan mereka. Karena itu, Sengkuni tidak hanya ada dalam cerita, tetapi juga dalam cara kita membangun konsensus sosial.

Namun pewayangan Jawa tidak pernah hanya menghadirkan satu sisi. Di balik Sengkuni, terdapat tokoh seperti Widura dan Semar yang mewakili kebijaksanaan, kesederhanaan, dan suara moral. Mereka sering tidak populer, bahkan sering diabaikan dalam pengambilan keputusan, tetapi keberadaan mereka penting sebagai penanda arah etika. Dalam banyak lakon, mereka tidak selalu menang secara langsung, tetapi mereka menjaga agar ukuran kebenaran tetap ada dalam cerita.

Pertanyaan penting yang muncul dari tamsil ini bukanlah siapa Sengkuni dalam kehidupan nyata, tetapi bagaimana masyarakat merespons kecenderungan Sengkuni dalam dirinya sendiri. Apakah kita lebih memilih narasi yang menyenangkan atau kebenaran yang mungkin tidak nyaman? Apakah kita lebih menghargai strategi yang menang cepat atau kebijakan yang membangun jangka panjang?

Kisah Sengkuni bukan hanya tentang kejahatan individu, tetapi tentang kelemahan kolektif dalam belajar dari pengalaman. Kehancuran dalam Mahabharata tidak terjadi karena kurangnya peringatan, tetapi karena peringatan tidak diubah menjadi perubahan perilaku. Di sinilah relevansi terbesar kisah tersebut bagi situasi kekinian: bahwa tantangan terbesar bukan sekadar mengetahui apa yang salah, tetapi memiliki keberanian untuk tidak mengulangnya lagi secara berulang. Dalam hal ini, belajar menjadi lebih penting daripada sekadar menyesal.

Namun sejarah mencatat juga bahwa kelalaian kolektif sering menjadi pembunuh sadis kepada pelakunya. Tampaknya Sengkuni selalu hadir disetiap jaman, peran dan fungsi pun tetap sama yang dilakukan. Hanya manusia yang tidak pernah mau belajar kepada sejarah, sehingga "kapok lombok" terus berulang seeiring dengan lahirnya sengkuni baru.

*Guru Besar Universitas Malahayati

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User