'Ngudarasa' Negeri: Berdialog dengan Batin Bangsa

Oct 12, 2026 - 05:38
Updated: 1 hour ago
0 11
'Ngudarasa' Negeri: Berdialog dengan Batin Bangsa

Oleh: Sudjarwo

Di dalam budaya Jawa, ngudarasa dapat dipahami sebagai sebuah laku batin: berbicara dengan diri sendiri, mengurai kegelisahan, menimbang perasaan, dan mendengarkan suara yang sering tenggelam oleh hiruk-pikuk kehidupan. Ia bukan sekadar berbicara dalam hati, melainkan sebuah proses kontemplatif untuk mempertemukan pikiran, perasaan, pengalaman, dan kesadaran moral. Dalam ngudarasa, seseorang tidak sedang mencari siapa yang harus disalahkan, melainkan berusaha memahami apa yang sesungguhnya sedang terjadi di dalam dirinya. Jika konsep ini diperluas dari ruang batin individual menuju ruang kebangsaan, kita dapat membayangkan sebuah laku yang menarik: ngudarasa negeri.

Ngudarasa negeri berarti mengajak sebuah bangsa berbicara dengan dirinya sendiri. Negeri ini bukan sekadar wilayah geografis, institusi pemerintahan, atau kumpulan penduduk yang memiliki kewarganegaraan yang sama. Negeri adalah sebuah pengalaman bersama yang terbentuk dari sejarah, ingatan, harapan, luka, ketimpangan, keberagaman, konflik, dan cita-cita. Karena itu, ketika sebuah bangsa melakukan ngudarasa, yang diajak berbicara bukan hanya pemerintah kepada rakyat atau rakyat kepada pemerintah, melainkan seluruh kesadaran kolektif yang membentuk kehidupan bersama.

Gagasan ini penting karena kehidupan kebangsaan sering kali terlalu ramai oleh suara, tetapi miskin percakapan yang sungguh-sungguh. Setiap persoalan segera berubah menjadi perdebatan. Kritik dengan cepat dianggap sebagai serangan, sementara pembelaan sering kali berubah menjadi pembenaran. Ruang publik dipenuhi pendapat, tetapi belum tentu menyediakan ruang yang cukup untuk mendengarkan. Kita begitu sibuk mengatakan apa yang benar menurut kita sehingga lupa bertanya mengapa masyarakat mengalami kegelisahan yang begitu dalam.

Ngudarasa negeri membutuhkan keberanian untuk berhenti sejenak dari kebisingan itu. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri sebagai bangsa: apa yang sedang kita rasakan? Mengapa sebagian masyarakat merasa tertinggal sementara sebagian lain bergerak begitu cepat? Mengapa ketidakpercayaan terhadap institusi mudah tumbuh? Mengapa perbedaan pilihan politik dapat berubah menjadi permusuhan sosial? Mengapa pembangunan yang seharusnya menghadirkan kesejahteraan kadang justru meninggalkan rasa tidak adil? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak harus segera dijawab dengan angka, kebijakan, atau slogan. Ada tahap yang lebih mendasar, yaitu kesediaan untuk mendengarkan kegelisahan yang berada di balik gejala-gejala tersebut.

Pada pengertian ini, ngudarasa negeri bukan berarti menggantikan kerja politik, ekonomi, hukum, atau pemerintahan. Ia justru dapat menjadi fondasi moral bagi semua kerja tersebut. Sebuah kebijakan yang baik membutuhkan kemampuan mendengar. Sebuah demokrasi yang sehat membutuhkan kesediaan memahami kegelisahan pihak lain. Sebuah pembangunan yang berkelanjutan membutuhkan kesadaran bahwa manusia bukan sekadar angka pertumbuhan. Ketika negara mampu mendengarkan batinnya sendiri, ukuran keberhasilan tidak berhenti pada pertumbuhan ekonomi, pembangunan fisik, atau pencapaian administratif, tetapi juga mencakup rasa keadilan, martabat, kepercayaan, dan ketenteraman sosial.

Ngudarasa juga mengandung unsur kejujuran. Dalam dialog dengan diri sendiri, seseorang tidak mudah bersembunyi di balik pencitraan. Ia harus berhadapan dengan kelemahan, kesalahan, dan kontradiksi dirinya. Demikian pula sebuah negeri perlu memiliki keberanian untuk mengakui bahwa kemajuan dapat berjalan bersamaan dengan ketimpangan, bahwa demokrasi dapat berkembang sekaligus mengalami kemunduran kualitas, bahwa teknologi dapat memperluas akses informasi sekaligus memperbesar kebisingan, dan bahwa keberagaman yang menjadi kekayaan bangsa juga dapat berubah menjadi sumber konflik ketika tidak disertai kedewasaan.

Karena itu, ngudarasa negeri seharusnya tidak dipahami sebagai kegiatan yang hanya dilakukan oleh penguasa. Masyarakat juga perlu melakukannya. Setiap warga dapat bertanya kepada dirinya sendiri: apakah saya masih melihat orang yang berbeda sebagai sesama warga negara? Apakah kritik saya lahir dari kepedulian atau sekadar kemarahan? Apakah saya ikut memperbaiki ruang publik atau justru memperkeruhnya? Pertanyaan sederhana semacam ini memiliki daya politik yang besar karena perubahan bangsa selalu berhubungan dengan kualitas batin orang-orang yang menghuninya.

Di sisi lain, negara juga perlu menyediakan ruang agar ngudarasa kolektif itu dapat berlangsung. Dialog publik tidak boleh hanya menjadi ritual formal untuk mendengarkan pendapat setelah keputusan hampir selesai dibuat. Mendengarkan harus menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan. Suara masyarakat yang lemah, kelompok yang terpinggirkan, daerah yang jauh dari pusat kekuasaan, generasi muda, pekerja, petani, nelayan, pelaku usaha kecil, dan berbagai kelompok sosial perlu dipandang bukan sebagai gangguan, melainkan sebagai bagian dari suara batin negeri.

Ngudarasa negeri adalah ajakan untuk mengubah cara kita memahami kehidupan berbangsa. Bangsa tidak hanya membutuhkan pembangunan yang bergerak ke luar, tetapi juga perenungan yang bergerak ke dalam. Kita membutuhkan jalan, gedung, teknologi, investasi, dan pertumbuhan, tetapi kita juga membutuhkan kemampuan bertanya apakah semua itu membawa kita semakin dekat kepada kehidupan yang adil dan bermartabat.

Ngudarasa negeri pada dasarnya adalah seni mendengarkan Indonesia kepada dirinya sendiri. Ia mengajak kita menurunkan volume ego, memperlambat reaksi, dan memberi tempat bagi pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam. Negeri yang mampu berdialog dengan batinnya akan lebih mampu mengenali lukanya sebelum luka itu menjadi konflik, mengenali kegelisahannya sebelum berubah menjadi kemarahan, dan mengenali kesalahannya sebelum menjadi kebiasaan. Dari sanalah percakapan kebangsaan dapat bergerak dari sekadar adu suara menuju pencarian makna bersama, dari sekadar mempertahankan posisi menuju keberanian memahami keadaan, dan dari sekadar bertanya siapa yang menang menuju pertanyaan yang jauh lebih penting: negeri macam apa yang sedang kita bangun bersama.***

*Guru Besar Universitas Malahayati

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User