Mereka Berebut Kursi, Rakyat Sibuk

Nov 05, 2026 - 15:54
Updated: 1 hour ago
0 3
Mereka Berebut Kursi, Rakyat Sibuk

Oleh: Sudjarwo

Ada sesuatu yang terasa semakin ganjil dalam kehidupan berbangsa hari ini. Di lingkar kekuasaan, suasana politik seperti sedang mendidih. Ada desas-desus tentang upaya pendongkelan kekuasaan secara senyap, ada gerakan saling membaca posisi, ada manuver yang sulit diterjemahkan secara terbuka, dan ada barisan yang sedang disusun dengan penuh perhitungan. Mereka yang berada di sekitar pusat kekuasaan tampaknya lebih sibuk memikirkan siapa berada di belakang siapa, siapa berhadapan dengan siapa, siapa harus dirangkul, dan siapa harus disingkirkan. Politik berubah menjadi arena permainan posisi, sementara kepentingan rakyat justru semakin jauh dari meja perundingan.

Sang jenderal sibuk mengatur barisan. Peta kekuatan sedang dibaca, loyalitas sedang diuji, dan kemungkinan pertarungan sedang dihitung. Setiap orang seolah memiliki agenda, setiap kelompok menyimpan kepentingan, dan setiap gerakan mengandung pesan terselubung. Di permukaan mungkin semuanya tampak tenang, tetapi di bawah permukaan, pertarungan kekuasaan bisa berlangsung jauh lebih keras. Tidak selalu melalui benturan terbuka, tidak selalu dengan pernyataan lantang, tetapi melalui pengaruh, jaringan, tekanan, dan permainan kesetiaan. Kekuasaan memang sering kali tidak gaduh di depan kamera, tetapi sangat bising di balik pintu-pintu tertutup.

Masalahnya, kegaduhan semacam itu tidak otomatis membawa perubahan bagi kehidupan rakyat. Pergantian posisi, pergeseran pengaruh, atau pertarungan antarkelompok elite tidak serta-merta membuat harga beras turun, lapangan pekerjaan bertambah, biaya pendidikan menjadi ringan, atau kebutuhan rumah tangga semakin terjangkau. Rakyat tidak mendapatkan tambahan penghasilan hanya karena sebuah barisan politik berhasil disusun. Buruh tidak otomatis memperoleh upah layak karena seseorang berhasil menguasai lingkar pengaruh. Petani tidak serta-merta mendapatkan harga panen yang adil karena elite berhasil memenangkan pertarungan politiknya.

Bagi rakyat kebanyakan, persoalan hidup jauh lebih sederhana sekaligus jauh lebih kejam: makan apa hari ini? Pertanyaan itu bukan metafora politik, bukan pula retorika untuk membangun simpati. Itu kenyataan yang harus dijawab setiap pagi oleh jutaan orang. Ada kepala keluarga yang bangun dengan kecemasan karena uang belanja semakin tipis. Ada ibu yang harus mengatur pengeluaran dengan hitungan yang menyakitkan. Ada pekerja yang berangkat sebelum matahari terbit, pulang ketika malam sudah larut, tetapi tetap kesulitan memastikan dapur mengepul esok hari. Ada anak-anak yang tumbuh dengan cita-cita besar, tetapi harus berhadapan dengan keterbatasan yang bahkan tidak pernah mereka pilih.

Di tengah kenyataan seperti itu, menyaksikan elite sibuk berebut pengaruh terasa seperti menyaksikan pertunjukan yang kehilangan rasa kemanusiaan. Mereka berbicara tentang stabilitas, kepentingan nasional, konsolidasi, dan masa depan bangsa, tetapi rakyat justru bertanya mengapa harga kebutuhan pokok terus menggerogoti pendapatan. Mereka sibuk menghitung kekuatan politik, sementara rakyat menghitung sisa uang di dompet. Mereka memperdebatkan siapa yang pantas duduk di kursi kekuasaan, sementara jutaan orang bahkan belum memiliki kepastian untuk mempertahankan tempat tinggal dan pekerjaan.

Ada jurang yang semakin kentara antara kehidupan di dalam lingkar kekuasaan dan kehidupan di luar pagar kekuasaan. Di satu sisi, segelintir orang sibuk memperebutkan kursi: jabatan, pengaruh, akses ekonomi, dan keistimewaan. Di sisi lain, sebagian besar rakyat masih harus berjuang mendapatkan sesuap nasi. Yang satu memperhitungkan bagaimana mempertahankan kemewahan, yang lain memikirkan bagaimana bertahan sampai akhir bulan. Yang satu takut kehilangan posisi, yang lain takut kehilangan pekerjaan. Yang satu mengkhawatirkan runtuhnya kekuasaan, yang lain menghadapi kenyataan bahwa hidupnya sudah lama berada dalam ketidakpastian.

Inilah ironi yang paling menyakitkan. Kekuasaan yang seharusnya menjadi instrumen untuk menyelesaikan persoalan rakyat justru berisiko berubah menjadi barang rebutan bagi mereka yang telah berada di dalamnya. Negara seolah menjadi panggung, jabatan menjadi hadiah, dan rakyat hanya menjadi penonton yang sesekali dipanggil untuk memberikan tepuk tangan. Ketika pemilu berlangsung, rakyat disebut pemegang kedaulatan. Ketika kekuasaan sudah terbentuk, suara mereka sering kali tenggelam oleh suara kepentingan yang lebih dekat dengan pusat keputusan.

Jangan sampai bangsa ini dipaksa percaya bahwa setiap kegaduhan di lingkar kekuasaan merupakan bagian dari perjuangan menyelamatkan negara. Sebab, tidak semua pertarungan politik adalah pertarungan demi kepentingan publik. Ada pertarungan yang semata-mata merupakan perebutan kendali, pembagian pengaruh, dan pengamanan kepentingan kelompok. Rakyat tidak boleh terus-menerus dijadikan alasan untuk membenarkan manuver yang sesungguhnya tidak memiliki hubungan dengan perbaikan nasib mereka.

Ukuran keberhasilan kekuasaan bukanlah seberapa rapi barisan pendukungnya, seberapa kuat jaringan pengaruhnya, atau seberapa lihai para pemainnya menyusun langkah senyap. Ukurannya adalah apakah rakyat bisa hidup lebih layak, bekerja dengan bermartabat, mendapatkan pendidikan yang baik, memperoleh pelayanan kesehatan yang terjangkau, dan menjalani hari tanpa dihantui kecemasan tentang kebutuhan paling dasar.

Sebab, ketika para penguasa sibuk berebut kursi, rakyat masih menghitung butiran nasi. Ketika para elite sibuk mengatur siapa berhadapan dengan siapa, rakyat sedang berhadapan dengan mahalnya kehidupan. Dan ketika mereka sibuk mempertahankan atau merebut kekuasaan, rakyat sesungguhnya sedang berjuang mempertahankan sesuatu yang jauh lebih mendasar: hak untuk hidup layak. Kekuasaan boleh diperebutkan, tetapi penderitaan rakyat tidak boleh terus dijadikan tumbal permainan mereka.***

*Guru Besar Universitas Malahayati

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User