Merelakan Kereta Berangkat

Oct 19, 2026 - 10:48
0 22
Merelakan Kereta Berangkat

Oleh: Sudjarwo

Seorang dosen ibarat petugas pemberangkatan kereta api. Setiap hari, gerbong datang membawa penumpang dengan tujuan, harapan, dan bekal yang berbeda. Setelah waktunya tiba, kereta diberangkatkan menuju perjalanan panjang. Tidak lama kemudian, gerbong baru kembali datang, membawa penumpang baru yang harus dipersiapkan untuk menempuh perjalanan serupa. Begitulah kehidupan seorang dosen, terus menyambut, membimbing, dan melepas generasi demi generasi tanpa pernah benar-benar berhenti.

Di stasiun kehidupan itu, dosen bukanlah pemilik kereta, bukan pula penentu seluruh perjalanan penumpangnya. Ia hanya menjalankan tugas memastikan setiap penumpang siap berangkat. Ia memberikan petunjuk, mengingatkan jadwal, membantu mereka memahami arah, serta memperingatkan berbagai kemungkinan yang dapat dijumpai sepanjang perjalanan. Setelah peluit berbunyi dan kereta bergerak meninggalkan peron, kewenangannya perlahan berakhir. Para penumpang melanjutkan perjalanan masing-masing, menghadapi persimpangan, tantangan, dan tujuan yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Begitulah hakikat pengabdian seorang pendidik. Setiap tahun, mahasiswa datang dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Sebagian membawa mimpi besar, sebagian masih mencari arah, dan sebagian lainnya bahkan belum memahami potensi yang tersimpan dalam dirinya. Di ruang kuliah, dosen berusaha membuka cakrawala, menanamkan pengetahuan, membangun keberanian berpikir, dan menumbuhkembangkan tanggung jawab. Ia tidak sekadar menyampaikan materi, tetapi juga berusaha menyiapkan manusia agar mampu menghadapi kehidupan dengan akal sehat, karakter kuat, dan hati yang lapang.

Namun, pekerjaan itu tidak selalu menghadirkan tepuk tangan. Tidak semua mahasiswa memahami kesungguhan dosennya. Teguran yang diberikan demi kebaikan terkadang dianggap sebagai beban. Tugas yang dirancang untuk melatih kemampuan kadang dipandang sebagai sesuatu yang menyulitkan. Bahkan, nasihat yang disampaikan dengan niat tulus mungkin baru dipahami bertahun-tahun setelah mahasiswa meninggalkan bangku kuliah. Seorang dosen harus berdamai dengan kenyataan bahwa benih yang ditanam hari ini tidak selalu memperlihatkan hasilnya esok pagi.

Di sinilah kesabaran menjadi bagian penting dari pengabdian. Petugas pemberangkatan kereta tidak menahan penumpang agar terus tinggal di stasiun. Ia justru memastikan mereka berangkat tepat waktu. Demikian pula dosen, keberhasilannya bukan terletak pada seberapa lama mahasiswa bergantung kepadanya, melainkan pada seberapa siap mereka berdiri sendiri setelah meninggalkan ruang belajar. Pendidikan yang baik tidak menciptakan ketergantungan, tetapi menumbuhkan kemandirian. Dosen yang berhasil bukanlah mereka yang membuat mahasiswa selalu mencari jawabannya, melainkan mereka yang menumbuhkan kemampuan mahasiswa untuk menemukan jawaban sendiri.

Ada kalanya seorang dosen menyaksikan bekas mahasiswanya tumbuh menjadi pribadi yang berhasil. Ada yang menjadi pemimpin, peneliti, pengusaha, guru, birokrat, atau penggerak perubahan di tengah masyarakat. Mereka menempati posisi yang dahulu mungkin hanya menjadi angan-angan ketika masih duduk di ruang kuliah. Sebagian masih mengingat dosennya, sebagian lain hanya mengingat pelajaran yang pernah diterima, dan tidak sedikit yang melanjutkan hidup tanpa lagi mengingat siapa yang dahulu membantu mereka bersiap menghadapi dunia.

Keadaan itu bukan alasan untuk kecewa. Ingatan manusia memiliki batas, sedangkan pengaruh pendidikan dapat melampaui batas usia dan pertemuan. Sebuah pemikiran yang ditanamkan di ruang kuliah mungkin menjadi dasar keputusan penting puluhan tahun kemudian. Sebuah nasihat sederhana bisa menyelamatkan seseorang dari kesalahan besar. Bahkan, kebiasaan menghargai waktu, menjaga kejujuran, dan menghormati sesama mungkin terus hidup dalam tindakan seseorang tanpa ia menyadari dari mana kebiasaan itu bermula.

Karena itu, pengabdian dosen tidak semestinya bergantung pada pujian, penghargaan, atau pengakuan. Semua itu menyenangkan, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Jika setiap kebaikan harus dibalas dengan ingatan, setiap pengorbanan menuntut ucapan terima kasih, dan setiap usaha mengharapkan penghormatan, pendidikan akan kehilangan kemurnian niatnya. Mengajar adalah pekerjaan yang menuntut kesungguhan, tetapi juga membutuhkan keikhlasan untuk menerima bahwa hasil kerja keras tidak selalu kembali kepada orang yang mengerjakannya.

Waktu terus bergerak. Mahasiswa yang dahulu memenuhi ruang kuliah telah meninggalkan kampus, sementara mahasiswa baru datang dengan persoalan dan cita-cita yang berbeda. Kurikulum berubah, teknologi berkembang, tantangan masyarakat berganti, tetapi tanggung jawab mendidik tetap membutuhkan hati yang teguh. Dosen harus terus belajar agar tidak tertinggal, memperbaiki cara mengajar agar tetap relevan, dan menjaga integritas agar ilmu tidak kehilangan arah moralnya.

Barangkali memang tidak semua penumpang akan mengingat siapa yang memberangkatkan mereka. Namun, kereta yang melaju dengan selamat, perjalanan yang ditempuh dengan baik, dan tujuan yang berhasil dicapai merupakan bagian dari makna pekerjaan itu sendiri. Seorang dosen tidak perlu berdiri di depan setiap gerbong untuk memastikan namanya dikenang. Cukuplah ia menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh, memberikan yang terbaik, dan merelakan setiap generasi melanjutkan perjalanan.

Kereta berikutnya akan selalu datang. Peluit akan kembali berbunyi, pintu gerbong akan terbuka, dan wajah-wajah baru akan memenuhi peron. Di sana, seorang dosen kembali bersiap menjalankan tugasnya. Tidak perlu banyak janji, tidak perlu menuntut dikenang, dan tidak perlu menghitung berapa banyak orang yang telah mengucapkan terima kasih. Kerja keras dan kerja ikhlas tetap menjadi motonya, sebab pendidikan adalah pengabdian panjang yang nilainya tidak selalu terlihat oleh mata, tetapi dapat hidup dalam perjalanan banyak manusia. Salam Satu Hati..

*Guru Besar Universitas Malahayati

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User