Pameran Seni Rempah Nusantara di Omah Seni Djayaningratan

Oct 12, 2026 - 10:24
0 9
Pameran Seni Rempah Nusantara di Omah Seni Djayaningratan
"The Power of rempah_rempah." #2 karya Oscar Matano, ukuran 70x90cm AOC,Oil,on Canvas 2026

Teraslampung.com, Yogyakarta  — Aroma sejarah berkelindan dengan kesegaran estetika visual modern di kawasan Malioboro. Pameran seni rupa monumental bertajuk "Rempah Nusantara" resmi dibuka pada Sabtu (10/10/2026) pukul 19.00 WIB bertempat di Omah Seni Djayaningratan, Jl. Dagen No. 219, Sosromenduran, Kota Yogyakarta.

Eksibisi yang bertumpu pada refleksi sejarah dan kedaulatan budaya ini dibuka langsung oleh Fendhy Eko Susanto, SM., MM., General Manager Museum Rempah dan Busana Nusantara Yogyakarta.

Eksibisi seni yang bertempat di ruang artistik komplek Ndalem Jayaningratan ini dijadwalkan berlangsung selama tiga pekan, mulai 10 hingga 31 Oktober 2026. Publik serta penikmat seni dapat mengunjungi ruang pameran setiap hari mulai pukul 10.00 WIB hingga 20.00 WIB.

Sinergi Estetika dari 16 Perupa Pilihan

Koordinator Pameran, N. Rinaldy, menjelaskan bahwa perhelatan ini merajut pemikiran mendalam serta visualisasi dari 16 seniman pilihan. Para seniman tersebut membawa interpretasi unik mengenai "rempah" ke atas kanvas dan ruang pamer mereka masing-masing. Mereka adalah Andi Hartana, Antonius Ruli, Ary Kurniawan, Bambang Puyi, Dian Farizrahman, Joko Santoso, Marsudi, Moko Jepe, N. Rinaldy, Noto Digsono, Oskar Matano, Pambudi Sulistio, Sapto Wahyu Sri Buwono, Sindu Siwikan, Suryo Wae, dan Vio Retno.

Dalam catatan kuratorialnya, Jajang R Kawentar menuliskan sebuah refleksi filosofis yang tajam mengenai konsep pameran ini. Menurutnya, Nusantara adalah sebait puisi kesuburan di mana rempah-rempah tumbuh membawa pesan rahasia alam, bukan sekadar vegetasi. Ketika kata "Rempah" bersanding dengan bahasa suci Sansekerta, "Varna" (yang berarti warna, corak, sekaligus klasifikasi orientasi spiritual), lahirlah sebuah metafora baru.

"Batas antara rempah dan seniman seketika melebur. Rempah adalah seniman yang menggubah rasa alam, dan seniman adalah rempah yang meracik rasa kehidupan," tulis Jajang. Ia menekankan bahwa setiap karya dikembangbiakkan oleh rahim pemikiran seniman melalui wilayah asal, kearifan lokal, serta pondasi lingkungan makro dan mikro yang menghidupi mereka.

Alarm Visual dan Edukasi Sejarah Generasi Muda

Ditemui usai meresmikan pembukaan pameran, General Manager Museum Rempah dan Busana Nusantara Yogyakarta, Fendhy Eko Susanto, menguraikan pentingnya memandang rempah-rempah di luar fungsi komoditas dapur. Baginya, pameran kolaboratif antara museum, seniman, dan masyarakat ini adalah fondasi penting bagi peradaban masa depan.

"Kalau orang melihatnya hanya bumbu, tapi bagi kami yang mendalami sejarah, rempah itu adalah kekayaan kita. Kita terakhir sudah kaya dengan rempah yang ada di Nusantara ini, kenapa bangsa-bangsa luar datang ke sini itu salah satunya karena kekayaan kita itu. Jadi ini tetap harus kita peringati, harus kita jaga melalui pameran-pameran seperti ini agar generasi di masa yang akan datang selalu ingat akan kekayaan negeri kita," tegas Fendhy.

Fendhy juga berharap sinergi ini dapat terus berjalan secara berkesinambungan. "Kelanjutannya mudah-mudahan kerja sama ini bisa terus dilaksanakan. Tidak cuma di Omah Seni Djayaningratan, mungkin bisa dilaksanakan di museum kami juga, di sekolah-sekolah, atau di mana pun. Tujuannya adalah mengedukasi, mengingatkan kembali pentingnya generasi muda mengingat siapa leluhur kita, apa yang kita punya lewat Nusantara kita ini," tambahnya.

Magnet Wisata Baru di Jantung Malioboro

Acara pembukaan yang dipersiapkan matang selama lebih dari satu bulan ini berlangsung dengan lancar dan dihadiri oleh banyak pengunjung, termasuk para pemerhati pariwisata. Ketua Paguyuban Seni Budaya Djayaningratan, Budi Prayitno, menyampaikan rasa syukur serta harapan besarnya atas terselenggaranya pameran ini dalam memajukan ekosistem wisata budaya di Yogyakarta.

"Harapan dari kami itu untuk Paguyuban dan juga dari para seniman bisa berkolaborasi lebih jauh lagi. Terutama ini untuk mengundang dari para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Khususnya biasanya kan mereka pada datang ke Malioboro, lainnya untuk itu kita mengadakan seni rempah ini untuk mengundang wisatawan tidak hanya berkunjung ke Malioboro tetapi juga untuk mampir ke Paguyuban Djayaningratan untuk melihat hasil karya seniman rempah dari Indonesia," urai Budi Prayitno.

Ke depan, Paguyuban Seni Budaya Djayaningratan berkomitmen untuk memboyong kolaborasi serupa ke jenjang yang lebih tinggi dengan merangkul lebih banyak seniman lintas daerah. Melalui pameran "Rempah Nusantara", seni dan budaya tidak lagi berdiri sendiri sebagai tameng kaku, melainkan bertransformasi menjadi kekuatan dinamis yang menolak lupa akan keagungan sejarah bangsa.

 Jajang R. Kawentar

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User