Gerbong Terakhir
Oleh: Sudjarwo
Ada masa ketika kehidupan terasa begitu panjang, sementara perjumpaan seolah tidak pernah kekurangan kesempatan. Ketika pertama kali datang ke Lampung, saya bertemu dengan banyak orang. Ada sahabat yang lebih tua, yang menjadi tempat belajar dan meminta nasihat, serta teman sebaya yang bersama-sama menjalani hari, berbagi cerita, gagasan, dan pengalaman. Kami dipertemukan dalam perjalanan panjang pengabdian di sebuah lembaga ilmiah bergengsi di daerah ini. Saat itu, rasanya waktu masih begitu lapang dan perjalanan hidup masih sangat panjang.
Kami bekerja, berdiskusi, bercanda, berbeda pendapat, dan membangun persahabatan. Barangkali tidak pernah terpikir bahwa suatu ketika kebersamaan itu akan menjadi kenangan. Kami menganggap perjumpaan sebagai sesuatu yang biasa, seakan-akan orang-orang yang hari ini berada di sekitar kita akan selalu ada esok hari.
Namun, waktu mempunyai cara sendiri untuk mengajarkan arti kehilangan. Tahun demi tahun berlalu. Satu per satu sahabat meninggalkan lingkungan pengabdian. Ada yang kembali ke daerah asal sebelum pensiun, ada yang mengakhiri masa pengabdiannya setelah pensiun, dan ada pula yang telah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia.
Kini kami tinggal berlima, relatif sebaya, dari semula enam orang. Bulan lalu, seorang sahabat lebih dahulu berpulang. Kepergiannya menghadirkan kesadaran yang sulit diabaikan. Dahulu kami berenam, sekarang tinggal lima. Sebuah perubahan angka yang sederhana, tetapi menyimpan makna yang begitu dalam. Seolah-olah kehidupan sedang mengingatkan bahwa perjalanan kami telah memasuki babak yang berbeda.
Mungkin istilah gerbong terakhir merupakan metafora paling tepat untuk menggambarkan keadaan ini. Kami seperti penumpang kereta kehidupan yang telah menempuh perjalanan sangat jauh. Stasiun demi stasiun telah dilewati. Banyak penumpang turun di tempat yang berbeda. Ada yang turun karena harus menjalani kehidupan baru, ada yang menyelesaikan masa pengabdian, dan ada yang dipanggil pulang oleh Sang Pemilik Kehidupan. Kereta terus bergerak, sementara jumlah penumpangnya semakin berkurang.
Sesekali muncul perasaan bahwa hidup ini sudah terlalu lama dijalani. Bukan karena kehidupan kehilangan keindahannya, melainkan karena semakin banyak orang yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan telah mendahului kita. Wajah-wajah yang dahulu akrab kini tinggal dalam ingatan. Suara yang dahulu sering terdengar tidak lagi dapat kita jumpai. Tempat-tempat yang menjadi saksi kebersamaan pun perlahan berubah.
Pada usia seperti ini, kita mulai memahami bahwa bertambahnya umur bukan sekadar pertambahan angka, melainkan juga bertambahnya pengalaman kehilangan. Dahulu kita sibuk merancang masa depan, sekarang lebih sering menengok masa lalu. Dahulu kita mengejar berbagai pencapaian, sekarang mulai menyadari bahwa tidak semua yang dikejar ternyata penting untuk kebahagiaan.
Lalu, apakah hidup yang panjang berarti hidup yang terlalu lama? Barangkali bukan demikian. Perasaan itu muncul karena kita mulai menyadari bahwa waktu yang tersisa tidak lagi seluas waktu yang telah dilewati. Kita semakin memahami betapa terbatasnya keberadaan manusia di tengah perjalanan waktu yang tidak pernah berhenti.
Agama mengajarkan bahwa kematian bukanlah urusan manusia. Sebagaimana jodoh dan rezeki, kematian berada dalam ketentuan Tuhan. Kita boleh menjaga kesehatan, merencanakan masa depan, dan berusaha memperpanjang usia, tetapi tidak pernah mengetahui kapan, di mana, dan dalam keadaan bagaimana perjalanan ini akan berakhir. Manusia diberi kesempatan menjalani kehidupan, tetapi tidak diberi kewenangan menentukan seluruh batasnya.
Kesadaran tentang kematian semestinya tidak membuat kita takut menjalani kehidupan. Justru kematian mengajarkan pentingnya hidup dengan lebih bijaksana. Apa gunanya kesombongan jika semua yang dibanggakan kelak harus ditinggalkan? Apa artinya permusuhan jika waktu kebersamaan ternyata begitu terbatas? Dan betapa berharganya persahabatan ketika kita menyadari bahwa tidak semua orang yang pernah berjalan bersama akan terus berada di samping kita.
Barangkali pada fase kehidupan ini, ukuran kebahagiaan juga berubah. Kita tidak lagi terlalu membutuhkan pengakuan, jabatan, atau penghormatan. Cukuplah masih diberi kesehatan, dapat menikmati secangkir kopi, berbincang dengan sahabat yang tersisa, menyaksikan keluarga tumbuh, dan menjalani hari dengan hati tenteram. Hal-hal sederhana yang dahulu sering terabaikan kini justru terasa begitu berharga.
Saya tidak tahu berapa lama lagi kami akan duduk bersama di gerbong ini. Tidak seorang pun mengetahuinya. Masing-masing memiliki stasiun pemberhentian yang telah ditentukan, tetapi tidak seorang pun mengetahui kapan kereta kehidupan akan membawanya ke sana. Karena itu, selagi perjalanan masih berlangsung, marilah menikmati setiap kesempatan dengan rasa syukur. Mengenang mereka yang telah pergi, menghargai mereka yang masih bersama, menjaga persahabatan, memperbaiki hubungan, dan memperbanyak kebaikan.
Gerbong terakhir bukan sekadar gambaran tentang semakin sedikitnya penumpang, melainkan pengingat bahwa setiap perjalanan memiliki batas. Kita tidak pernah tahu kapan harus turun, tetapi kita masih memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana menjalani perjalanan. Sebab, ukuran kehidupan bukanlah seberapa lama kita berada di dalam kereta, melainkan seberapa bermakna kehadiran kita bagi sesama penumpang, sebelum tiba saatnya menyerahkan perjalanan ini kepada Sang Pemilik Kehidupan.
*Guru Besar Universitas Malahayati
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)