Dari Bubur Oliver Twist ke Program Makanan Bergizi Gratis

Oct 28, 2026 - 19:43
0 7
Dari Bubur Oliver Twist ke Program Makanan Bergizi Gratis

Oleh Udo Z Karzi

SALAH satu bacaan SD saya pada 1980-an yang sampai sekarang sering saya sebut-sebut dan membekas dalam ingatan adalah Oliver Twist karya Charles Dickens. Tentu saja, yang saya baca waktu itu terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Namanya juga anak SD di zaman ketika internet belum lahir, Google belum bisa ditanya macam-macam, dan mencari bahan bacaan tidak semudah menggeser-geser layar telepon genggam. Buku adalah jendela dunia. Kalau jendelanya kebetulan menghadap ke London yang kumuh, ya, begitulah dunia yang kita intip.

Novel itu mengisahkan Oliver, anak yatim piatu yang hidup dalam kemiskinan dan kekejaman sistem sosial Inggris abad ke-19. Ada satu adegan yang gampang sekali menempel di kepala: Oliver memberanikan diri meminta tambahan bubur kepada pengelola rumah kerja (workhouse), tempat anak-anak miskin dipelihara dengan cara yang lebih mirip dihukum. “Please, Sir, I want some more.” Tolong, Tuan, saya ingin tambah lagi.

Kalimat pendek itu rupanya panjang umur. Ia melampaui usia buku, melintasi zaman, bahkan mungkin lebih awet daripada sejumlah pidato pejabat tentang kesejahteraan rakyat.

Charles Dickens pertama kali menerbitkan Oliver Twist secara berseri pada 1837, sebelum kisahnya terbit dalam bentuk buku pada 1838. Dalam bahasa Indonesia, novel ini antara lain hadir melalui Pustaka Jaya pada 1979, dengan penerjemah Sunarya P.K. Ada pula edisi dan penuturan ulang dari penerbit lain. Jadi, kalau ingatan saya tentang Oliver sudah bercampur dengan bubur, kemiskinan, dan wajah-wajah muram, itu bukan semata-mata akibat daya khayal seorang bocah. Dickens memang sengaja membuat pembacanya susah melupakan ketidakadilan.

Bubur dan Kekejaman Sistem

Latar novel ini adalah Inggris ketika Revolusi Industri mengubah wajah ekonomi dan kehidupan masyarakat. Pabrik berkembang, kota membesar, kekayaan berputar semakin kencang. Tetapi kemakmuran tidak otomatis mampir ke setiap rumah. Di satu sisi, ada kemajuan produksi dan penumpukan modal; di sisi lain, ada buruh murah, anak-anak telantar, permukiman kumuh, serta orang miskin yang diperlakukan seolah-olah kemiskinan mereka merupakan dosa pribadi.

Dickens menyentil sistem rumah kerja yang berkaitan dengan Undang-Undang Kemiskinan Baru 1834. Bantuan bagi orang miskin justru dilembagakan dalam sistem yang keras dan merendahkan martabat. Logikanya kurang lebih begini: kalau tempat penampungan dibuat cukup menyengsarakan, orang miskin akan kapok meminta bantuan. Negara pun bisa berhemat, sementara kemiskinan dianggap selesai karena kaum miskin dibuat tidak betah mengeluh.

Hebat, bukan? Kalau diterapkan sekarang, barangkali orang yang mengajukan bantuan sosial harus lebih dahulu mengikuti pelatihan ketahanan lapar. Setelah lulus, ia memperoleh sertifikat bahwa dirinya layak menjadi miskin secara mandiri.

Tentu, ini lelucon yang getir. Namun, begitulah cara Dickens bekerja: memperlihatkan kebengisan melalui tokoh-tokoh yang kadang lucu, kadang menjengkelkan, tetapi selalu menyisakan pertanyaan. Mengapa orang yang seharusnya melindungi anak-anak justru memperdagangkan nasib mereka? Mengapa lembaga yang mengurus kemiskinan malah menjadi tempat kemiskinan diproduksi ulang?

Oliver kemudian melarikan diri ke London. Di kota besar itu, ia berjumpa dengan Artful Dodger dan masuk ke lingkungan pencopet yang dikendalikan Fagin. Ia bertemu Bill Sikes, menyaksikan keberanian tragis Nancy, lalu mengalami rangkaian tuduhan, kekerasan, dan pengungkapan rahasia keluarganya. Pada akhirnya, Oliver memperoleh perlindungan dan menemukan asal-usulnya. Sebuah akhir yang memberi harapan, meskipun kehidupan jutaan anak miskin tentu tidak selalu menyediakan Tuan Brownlow yang datang tepat waktu.

Di sinilah kecerdikan Dickens: ia tidak sekadar mengajak kita menangisi nasib seorang anak. Ia mengajak kita mencurigai sebuah sistem. Oliver bukan hanya Oliver. Ia adalah pertanyaan yang ditujukan kepada masyarakat yang mengaku beradab: apa arti kemajuan kalau anak-anaknya harus meminta belas kasihan untuk memperoleh makanan?

Dari Bubur Oliver ke Piring Anak Indonesia

Lalu, apa urusannya Oliver Twist dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia hari ini? Jarak antara London abad ke-19 dan Indonesia abad ke-21 memang jauh. Dickens hidup ketika mesin uap menggerakkan Revolusi Industri, sementara kita hidup ketika mesin digital, kecerdasan buatan, dan algoritma mulai mengatur banyak urusan manusia. Oliver meminta tambahan bubur di rumah kerja; anak-anak kita memperoleh makanan di sekolah melalui program pemerintah. Zaman berubah, teknologi melompat, tetapi satu pertanyaan rupanya betah tinggal: apakah setiap anak sudah memperoleh haknya atas makanan yang layak?

Jangan salah paham. Bubur Oliver dan MBG bukan dua hal yang persis sama. Oliver hidup dalam sistem yang sengaja merendahkan orang miskin, sedangkan program makanan bergizi di Indonesia dirancang untuk membantu pemenuhan gizi anak. Namun, keduanya bertemu pada persoalan mendasar: bagaimana masyarakat dan negara memperlakukan anak-anak, terutama mereka yang paling rentan?

Inilah jembatan yang menghubungkan Dickens dengan kita. Oliver Twist bukan sekadar cerita tentang anak yatim yang kelaparan, melainkan kritik terhadap masyarakat yang merayakan kemakmuran sambil membiarkan sebagian warganya hidup tanpa martabat. Revolusi Industri menghasilkan kekayaan, tetapi kekayaan itu tidak otomatis membebaskan kaum miskin dari penderitaan. Indonesia tentu memiliki sejarah, struktur ekonomi, dan persoalan politik yang berbeda. Namun, kita menghadapi pertanyaan serupa ketika pertumbuhan ekonomi diumumkan sebagai kabar baik, sementara sebagian masyarakat masih bergulat dengan pekerjaan tidak pasti, biaya hidup, akses pendidikan, dan layanan kesehatan.

Angka pertumbuhan ekonomi penting, tetapi ia bukan keseluruhan cerita. Produk domestik bruto bisa naik tanpa berarti setiap keluarga mengalami perbaikan hidup dengan kecepatan yang sama. Investasi bisa bertambah tanpa otomatis menciptakan pekerjaan yang layak. Proyek pembangunan bisa berdiri megah, tetapi manfaatnya belum tentu terdistribusi secara adil. Statistik dapat menjelaskan keadaan sebuah negeri; ia tidak selalu sanggup menceritakan bagaimana rasanya menjadi orang yang hidup di dalamnya.

Di sinilah kita memerlukan Dickens: bukan untuk menyamakan Indonesia dengan Inggris era Victoria, melainkan untuk menguji klaim kemajuan dengan pertanyaan moral. Apakah pembangunan memperluas kesempatan hidup atau hanya memperbesar angka? Apakah kebijakan sosial memperkuat kemandirian warga atau sekadar membuat mereka menjadi penerima bantuan? Apakah anak-anak diperlakukan sebagai warga negara yang memiliki hak, atau sebagai objek program yang sesekali dipamerkan dalam laporan keberhasilan?

Gagasan memastikan anak-anak memperoleh makanan bergizi tentu patut didukung. Anak sekolah tidak semestinya belajar sambil menahan lapar, sebagaimana Oliver tidak semestinya dihukum hanya karena meminta tambahan bubur. Namun, justru karena menyangkut kebutuhan dasar anak, MBG harus diukur melalui hasil nyata: mutu makanan, keamanan pangan, ketepatan sasaran, dampak terhadap gizi, serta keterbukaan penggunaan anggaran.

Jangan sampai keberhasilan program lebih sibuk dihitung dari jumlah porsi yang dibagikan daripada perubahan yang sungguh-sungguh dirasakan anak-anak. Jangan pula sampai niat mulia menyediakan makanan bergizi berubah menjadi kesempatan baru bagi pemburu proyek. Negara tidak cukup hadir dengan sendok dan piring; negara harus hadir dengan tanggung jawab.

Anak-anak tidak membutuhkan makanan sekadar untuk difoto, dilaporkan, atau dijadikan angka keberhasilan. Mereka membutuhkan makanan yang aman dan bergizi agar tumbuh sehat, belajar dengan baik, dan memiliki kesempatan hidup yang lebih baik. Program pemerintah semestinya menjadi jalan untuk memenuhi hak itu, bukan panggung untuk merayakan kemurahan hati penguasa.

Oliver meminta tambahan bubur karena lapar. Ia tidak sedang meminta belas kasihan sebagai hadiah, apalagi menjadi bahan promosi keberhasilan penguasa. Ia sedang memperlihatkan kegagalan sebuah sistem yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar manusia. Di situlah satire Dickens menyeberangi zaman dan sampai ke meja makan anak-anak Indonesia.

Sastra Menggugat, Negara Bertanggung Jawab

Di sinilah sastra bekerja. Dickens menulis Oliver Twist bukan sebagai laporan statistik, melainkan sebagai gugatan moral. Ia membuat pembaca melihat manusia di balik angka kemiskinan. Ia memperlihatkan bahwa kejahatan tidak bisa dilepaskan begitu saja dari lingkungan sosial yang memeliharanya. Anak-anak yang masuk jaringan Fagin bukan sekadar kumpulan calon penjahat; mereka juga korban masyarakat yang gagal menyediakan perlindungan dan kesempatan hidup yang layak.

Tentu, kemiskinan tidak otomatis membuat seseorang menjadi kriminal. Namun, menutup mata terhadap ketidakadilan sambil sibuk menghukum akibatnya adalah kemunafikan yang tak kalah berbahaya.

Sastra tidak serta-merta menjatuhkan pemerintahan atau menggerakkan revolusi hanya dengan satu novel. Pengaruhnya bekerja lebih rumit. Sastra mengubah cara orang melihat, merasakan, mempertanyakan, dan akhirnya menilai dunia. Perubahan kesadaran itu dapat ikut menyuburkan tuntutan reformasi sosial dan politik. Dickens bukan satu-satunya penyebab perubahan sosial Inggris, tetapi karyanya membantu membuat penderitaan kaum miskin mustahil dianggap sekadar urusan orang miskin.

Maka, setelah sekian puluh tahun sejak saya membaca Oliver Twist ketika SD, saya merasa novel itu belum selesai dibaca. Barangkali justru sekarang kita perlu membacanya lagi, ketika jargon pembangunan bertebaran, angka pertumbuhan diumumkan, dan program kesejahteraan dipromosikan dengan kemasan yang semakin canggih.

Sebab, pertanyaan Oliver masih relevan: bolehkah orang miskin meminta lebih?

Bukan semata-mata tambahan bubur, melainkan tambahan keadilan, kesempatan, pendidikan yang bermutu, pekerjaan yang layak, pelayanan kesehatan, dan perlindungan dari kesewenang-wenangan.

Program makanan bergizi merupakan langkah penting jika benar-benar memenuhi kebutuhan anak-anak. Namun, ukuran keberhasilannya bukan sekadar berapa banyak piring terisi, melainkan berapa banyak anak yang tumbuh lebih sehat dan memperoleh kesempatan hidup lebih baik. Dan tanggung jawab negara tidak selesai ketika makanan dibagikan; ia baru bermakna ketika kesejahteraan anak-anak sungguh menjadi kenyataan.

Kalau permintaan sesederhana itu masih dianggap beban anggaran, mungkin yang perlu diperiksa bukan nafsu makan Oliver, melainkan selera para pengelola negeri.

Dan kalau suatu hari kelak anak-anak kita membaca Oliver Twist sebagai novel sejarah yang tak lagi mencerminkan kehidupan mereka, barulah kita boleh tersenyum lega. Untuk sementara, jangan buru-buru menutup buku. Bisa jadi, di halaman berikutnya, kita sedang membaca kisah kita sendiri. []

-----------

Udo Z Karzi, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User