Tradisi Khataman di Pekon Negeri Kelumbayan

Khataman: anak-anak membaca Quran. TANGGAMUS, Teraslampung.com — Minggu pagi , 22 Februari 2015,  kemeriahan terlihat di hampir setiap sudut  Pekon (Desa) Negeri Kelumbayan, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus. Anak-a...

Tradisi Khataman di Pekon Negeri Kelumbayan
Khataman: anak-anak membaca Quran.

TANGGAMUS, Teraslampung.com — Minggu pagi , 22 Februari 2015,  kemeriahan terlihat di hampir setiap sudut
 Pekon (Desa) Negeri Kelumbayan, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten
Tanggamus. Anak-anak dan orang dewasa tampak mengenakan baju bagus. Para
perempuan bergamis dan berkerudung, sementara laki-laki mengenakan baju koko
kopiah. 

Pagi itu, suasana Pekon Negeri Kelumbayan serupa dengan Hari Raya
Idul Fitri. Bedanya, hari ini itu para warga masih melakukan aktivitas
sehari-hari dan tidak ada acara saling memaafkan. Para bapak dan remaja pria
tampak sibuk menggotong kembang telur. Yaitu telur rebus yang dihias, diikat dengan
tali, dan dikaitkan dengan sebuah bilah. Sedangkan para ibu membawa tinung,
 semacam kuali,  di atas kepala bertutupkan kain penuh hiasaan.
Pagi itu warga Kelumbayan menggelar perayaan “Hataman
Qur’an”. Itu adalah tradisi ‘upacara formal’ untuk menandai seseorang
sudah bisa membaca Quran sebanyak 30 juz. Tradisi itu sudah berlangsung selama
bertahun-tahun. Yang akan khataman pada hari itu adalah para siswa Tempat
Pendidikan Al-Quran (TPA). 
Di pedukuhan induk Pekon Negeri Kelumbayan terdapat satu buah TPA,
yaitu TPA Nurul Huda. Di sana anak-anak belajar mengaji 6 hari dalam seminggu,
mulai  pukul 14.00 hingga 16.30 WIB.TPA ini setiap tahunnya mempunyai
tahun ajaran, dengan guru mengaji yang ditunjuk setiap tahunnya oleh warga
lewat musyawarah.
Setelah satu tahun ajaran selesai, biasanya ada beberapa anak yang
hatam alqur’an. dan atas hataman Al-Quran inilah di buatkan acara hataman quran
sebagai bentuk rasa syukur. untuk tahun ini,  dari 70an anak ada 19 anak
yang hatam.
Kembang telur pada acara khataman di Pekon Negeri Kelumbayan.

Untuk khatam di TPA ini cukup sulit. Seorang anak yang belum fasih
membaca satu ayat, guru mengajinya belum membolehkan beranjak ke ayat
selanjutnya. Terkadang untuk satu ayat saja memakan waktu berhari- hari agar
bisa lulus ke ayat selanjutnya.

Di TPA ini pula, anak-anak diajarkan menjadi qori/qoriah. Beberapa
anak diantaranya pernah menjuarai hingga tingkat Provinsi, selain itu diajarkan
pula bersanji dan setiap hari jumat mereka diajarkan membaca kitab gundul.
Sebelum acara dimulai, anak- anak perempuan  yang sudah berdandan dengan jilbab berwarna
cerah dan para anak laki-laki yang bersorban berkumpul di rumah guru mengaji
mereka. Mereka kemudian berjalan beramai-ramai menuju rumah adat.
Tepat di depan rumah adat yang berbentuk rumah panggung sebagian
di antara mereka berpisah. Sebanyak,19 anak yang akan khatam masuk rumah
panggung, sedangkan anak-anak yang belum khatam akan menunggu di depan rumah
panggung bersama para anak-anak dan remajaa lainnya yang beriringan menabuh reabana.
Ke-19 anak yang akan khatam itu bertemu Ratu Agung dan Sultan, yakni ketua adat
di pekon tersebut. Ratu Agung dan Sultan kemudian memberikan ucapan selamat
atas keberhasilan anak-anak itu mendaras Quran 30 juz.
Selepas itu mereka berjalan keluar dan di sambut murid lainnya dan
berjalan menuju balai pekon. Mereka berjalan diiringi rebana yang dimainkan oleh
muli mekhanai. di pintu balai. Orang-orang sudah berkumpul bersiap menyaksikan
yalil atau salam penyambutan. salam penyambutan dibacakan dengan bahasa arab
dan bersanji atau dinyanyikan.
Di dalam balai pekon sudah berjajar banyak kembang telur milik
para murid yang khatam. Ya, para orang tua anak-anak yang khatam Quran memang
membuatkan anak-anak mereka kembang telur yang penuh hiasan. Di antara kembang
telur itu juga terdapat lauk ayam yang masih lengkap. Ada pula ketan kuning.
Setelah aneka sambutan, dimulailah acara khatam Quran pagi itu.
Maka, satu per satu para anak yang khatam itu mulai mengaji dengan suara yang
merdu, membaca kitab huruf gundul, bersanji, dan dakwah.
Ketika menyaksikan menunjukkan kemampuan membaca Quran, tidak
sedikit orang tua yang meneteskan air matanya.Mereka terharu karena anaknya
mampu membaca Quran dengan baik setelah belajar selama setahun.
Setelah acara, kuali-kuali yang ditutupi kain penuh hiasan yang dibawa
para ibu-ibu disajikan. Ini adalah sajian dari masing-masing keluarga murid
TPA. Suasana ini sekaligus mempererat silahturahmi, untuk satu kuali dinikmati bersamaan
dengan lima orang.
Roby, salah satu guru mengaji, menuturkan suatu kebanggan sendiri
bisa mengantarkan murid TPA nya hingga hatam. “Alhamdulillah 19 anak khatam.
Mereka sudah mulai mengerti cara membaca Quran dengan baik. Tinggal mengasah
untuk seninya dan meningkatkan mental jika ingin mengikuti perlombaan. yang
penting ilmunya bermanfaat,” katanya.
Rizki Anugrah mahasiswa KKN Fakultas Hukum Unila yang juga
merupakan penggiat di Lampung Heritage mengungkapkan adat istiadat yang masih
terjaga di Pekon Negeri Kelumbayan bisa menjadi potensi wisata.
“Tradisi yang masih terjaga dan alam yang indah di Pekon
Negeri Kelumbayan bisa menjadi modal utama untuk menarik wisatawan berkunjung.
Karna kebudayaan juga adalah salah satu faktor penunjang wisata”. ungkap
Rizki.
Rizki menambahkan, sesuai tema KKN Kelumbayan tahun ini tentang
wisata maka mahasiswa KKN Pekon Negeri Kelumbayan menggandeng akun-akun media
sosial untuk mempromosikan keindahan alam Kelumbayan diantaranya akun twitter
@infoLampung @kelilinglampung dan akun instagram @LampungInsta, sedangkan untuk
mengangkat adat istiadatnya akan mengajak komunitas @LampungHeritage.
*Foto: Eltsyin Eko/ Mahasiswa KKN Unila Pekon Negeri Kelumbayan