Sumpah Jadi Sampah, Mikrofon Lalu Marah
Oleh Udo Z Karzi
TADINYA, saya ingin membaca Mikrofon yang Murka semata-mata sebagai teks. Saya ingin mengabaikan sejenak siapa penulisnya. Tapi itu rupanya mustahil. Nama Djadjat Sudradjat telanjur membawa jejak panjang dunia pers, kebudayaan, dan politik. Membaca puisinya tanpa mengingat perjalanan hidupnya sama sulitnya membaca berita politik tanpa mengetahui siapa pemilik medianya.
Ini memang antologi puisi pertama Djadjat. Dan justru karena itu menarik. Sebab ia datang bukan dari ruang sunyi sastra, melainkan dari hiruk-pikuk ruang redaksi dan gaduh politik praktis. Sejak 2002 ia menjadi Pemimpin Redaksi Lampung Post. Sebelum itu, ia redaktur budaya Media Indonesia, yang salah satu kerjanya memilih dan memuat puisi penyair dari berbagai pelosok negeri. Ia hidup dalam dunia kata-kata, tetapi juga dalam dunia kekuasaan.
Lalu datang fase politik. Pada 2019–2024 ia menjadi anggota DPRD Banyumas. Di sanalah tampaknya ia menemukan kembali “kenikmatan” menulis puisi. Politik rupanya bukan memberinya ketenteraman, melainkan memperbesar kegelisahan. Ia menyaksikan banalitas kekuasaan, rapat-rapat kosong, sumpah palsu, dan legislator yang sibuk kunjungan kerja tanpa agenda jelas. Dari kegelisahan itulah lahir 86 puisi dalam Mikrofon yang Murka.
Dan memang, inti buku ini adalah kemuakan terhadap politik yang terlalu gampang mengucapkan janji, terlalu ringan bersumpah, tetapi terlalu cepat pula mengingkarinya. Di negeri ini, sumpah sering kali hanya seremoni. Kitab suci diletakkan di atas kepala, pidato dikumandangkan dengan suara menggelegar, lalu beberapa jam kemudian janji itu mulai dilupakan. Sumpah berubah menjadi sampah.
Barangkali karena itulah mikrofon akhirnya marah.
Setelah membaca buku ini—dan sedikit mencoba mengabaikan pengantar Hilmar Farid maupun ulasan Maman S. Mahayana—saya mencoba memusatkan pembacaan pada tiga hal: bagaimana Djadjat memandang puisi, bagaimana ia memotret kekuasaan, dan bagaimana ia tetap menyisakan kemanusiaan di tengah politik yang banal.
Dalam beberapa puisi awal, Djadjat memandang puisi sebagai makhluk hidup yang bisa membangkang kepada penyairnya sendiri. Dalam “Persalinan Sebuah Sajak”, ia menulis:
Setelah melahirkan sajak
Ia tak peduli
Berlari meninggalkan kami
Puisi di sini bukan benda mati. Ia seperti anak yang lahir lalu meninggalkan orang tuanya. Penyair hanya rahim sementara. Setelah lahir, sajak menjadi milik semesta. Bahkan ketika penyair ingin memperbaiki puisinya, sajak itu menjawab “dari jauh, angkuh”.
Kegelisahan serupa muncul dalam “Berseteru dengan Sajak” ketika ia menulis:
Puisi ternyata seribu kali lebih Brutus
Puisi bisa mengkhianati penyairnya sendiri. Djadjat tidak sedang membangun mitologi penyair sebagai nabi. Ia justru memperlihatkan penyair sebagai manusia yang kalah oleh kata-katanya sendiri.
Karena itu, ia juga menolak puisi yang terlalu steril. Dalam “Jika Sajak Terlalu Dimanjakan”, ia menulis:
Jika sajak terlalu dimanjakan
Penyair jadi kehilangan denyut nadi darahnya sendiri
Puisi baginya harus bersentuhan dengan kenyataan sosial. Ia tidak boleh sekadar menjadi hiasan bahasa. Mungkin karena itulah definisi puisi paling tepat dalam buku ini terdapat pada larik:
Puisi serupa magma
Yang menjebol perut gunung
Puisi adalah ledakan tekanan batin yang terlalu lama dipendam.
Dan tekanan batin itu terutama datang dari pengalaman menyaksikan kekuasaan.
Sejak dahulu, sastra memang selalu memiliki hubungan rumit dengan kekuasaan. Kadang sastra dipakai memuliakan penguasa, kadang justru menjadi alat pembangkangan. Di tangan Djadjat, puisi menjadi ruang kesaksian moral. Ia tidak sedang membangun slogan revolusioner, tetapi memperlihatkan bagaimana kekuasaan perlahan kehilangan rasa malu.
Puncaknya tentu puisi “Mikrofon yang Murka”. Di sana Djadjat menggambarkan seremoni politik: jas, kebaya, kitab suci, dan sumpah jabatan. Tetapi tiba-tiba mikrofon memberontak:
Mereka tak mau lagi menjadi alat pengeras suara
Mereka tak lagi mau menjadi saksi dusta
Lalu datang larik paling tajam dalam buku ini:
Sebab berpuluh kali sumpah berubah jadi sampah
Luar biasa. Bahkan benda mati pun akhirnya muak pada kebohongan politik. Mikrofon tidak lagi sekadar alat pengeras suara, melainkan simbol nurani publik yang letih mendengar janji.
Kritik sosial Djadjat juga terasa satiris dalam “Berjoget”:
Politik itu berjoget.
Begitu sederhana, tetapi menampar. Politik berubah menjadi panggung hiburan: yang penting ramai, viral, penuh gerak, sementara substansi ditinggalkan.
Satire serupa muncul dalam “Agenda yang Tak Teragenda”:
Hari ini pansus bersiap
Hari ini panja bersiap
Tak punya agenda
Tapi harus ada kunjungan kerja
Ini potret birokrasi politik yang akrab sekali di negeri ini: rapat demi rapat tanpa isi, perjalanan dinas tanpa arah, kesibukan administratif tanpa manfaat nyata bagi rakyat.
Dalam "Dialog Buku", ia menulis:
Orang-orang penuh bahaya
Menjadikan buku jadi pajangan
Bukan pengetahuan
Buku-buku itu bahkan meminta "ditanggalkan huruf-hurufnya". Benda mati memiliki kesadaran moral. Mikrofon marah, buku kecewa. Jangan-jangan yang mati rasa justru manusianya.
Namun yang menarik, Mikrofon yang Murka tidak melulu bicara politik. Di tengah kemuakan terhadap kekuasaan, Djadjat masih menyimpan ruang bagi ibu, padi, kenangan, dan cinta.
Puisi-puisi tentang ibu justru menghadirkan sisi paling lirih dalam buku ini. Dalam “Di Pembaringan”, ia menulis:
Di pembaringan dingin
Meski ada matahari di epitafnya
Ini kubawakan koran kesukaanmu
Agar bercerita lagi dengan bahasa yang berdegup
Menggerakkan jiwa-jiwa yang mati
Larik-larik ini sangat menyentuh. Ada hubungan intim antara ibu, koran, dan kehidupan batin penyair. Koran di sini bukan sekadar bacaan, melainkan penanda percakapan yang pernah hidup. Bahkan setelah sang ibu tiada, penyair masih ingin membawakan koran kesukaannya, seolah berita dan kata-kata bisa menghidupkan kembali kenangan.
Dan menariknya, frasa “menggerakkan jiwa-jiwa yang mati” terasa seperti kritik sosial juga. Jangan-jangan yang mati bukan ibunya, tetapi nurani masyarakat yang terlalu lama hidup dalam kebisingan politik.
Hal serupa tampak dalam puisi untuk Surono Danu, ilmuwan penemu padi unggul dari Lampung. Dalam “Berbincang dengan Sebulir Padi”, Djadjat menulis:
Tak ada yang lebih tega
dari siapa pun yang makan nasi
Separuhnya dicampakkan jadi sampah
Sebulir padi tak berdaya
Melawan nasibnya
Dialog pagi itu pun
Tak menyelesaikan apa-apa
Puisi-puisi ini memperlihatkan kepekaan sosial Djadjat terhadap hal yang tampaknya sederhana: nasi dan padi. Di tengah politik yang gemar bicara pembangunan, ia justru melihat ironi paling mendasar: manusia begitu mudah menyia-nyiakan makanan. Padi yang ditanam dengan susah payah akhirnya dibuang begitu saja.
Sementara dalam “Kenangan Pancamanis”, ia mengingatkan:
Sudah waktunya peristiwa lama dikenang
Agar jarum jam tak rusak percuma
Dan, di antara sela semua kegelisahan itu, masih ada cinta:
Pantai dan camar selalu bercinta dalam sunyi
Syukurlah. Sebab tanpa cinta, suasana terlalu muram.
Di sini sastra bekerja bukan sebagai propaganda, melainkan pengingat nurani. Puisi mengajak kita berhenti sejenak dan melihat hal-hal kecil yang sering diabaikan kekuasaan: ibu, nasi, kenangan.
Karena itu, kekuatan Mikrofon yang Murka sebenarnya bukan hanya pada kritik politiknya, tetapi pada kemampuannya menjaga sisi manusiawi di tengah dunia yang makin sinis. Djadjat tidak percaya seni yang netral. Tetapi ia juga tidak menjadikan puisi sekadar pamflet politik.
Puisi memang tidak bisa menangkap koruptor atau membubarkan mafia anggaran. Tetapi puisi bisa menjaga rasa malu tetap hidup. Dan bangsa yang kehilangan rasa malu adalah bangsa yang tamat.
Maka ketika saya menutup Mikrofon yang Murka, saya merasa bukan sekadar selesai membaca kumpulan puisi. Saya merasa baru mendengar suara seseorang yang terlalu lama hidup di tengah pidato, janji, dan sumpah yang berubah jadi sampah.
Dan ketika sumpah sudah menjadi sampah, barangkali memang tinggal mikrofon yang masih punya keberanian untuk marah.
Asyik.
---
Data buku
Judul: Mikrofon yang Murka
Penulis: Djadjat Sudradjat
Penerbit: Yayasan Pustakika Obor Indonesia
Cetakan: I, November 2025
Tebal: xxxiv + 131 hlm
_________
Udo Z Karzi, pembaca sastra yang sesekali jadi tukang tulis, tinggal di Bandar Lampung.

