SMPN 4 Baradatu Kampanyekan Kembali Permainan Tradisional Egrang dan Layang-layang
Para siswa SMPN 4 Baradatu, Way Kanan, mempopulerkan kembali ermainan tradisional egrang di sela-sela acara MTQ tingkat kecamtan Baradatu. BARADATU, Teraslampung.com– Para siswa SMPN 4 Baradatu Kabupaten Waykanan mengajak masyarakat un...
| Para siswa SMPN 4 Baradatu, Way Kanan, mempopulerkan kembali ermainan tradisional egrang di sela-sela acara MTQ tingkat kecamtan Baradatu. |
BARADATU, Teraslampung.com– Para siswa SMPN 4 Baradatu Kabupaten Waykanan mengajak masyarakat untuk mempopulerkan permainan tradisional egrang dan layang-layang.
Kegiatan tersebut dilakukan para siswa SMPN 4 Baradatu dengan memamerkan hasil karya pembuatan layang-layang dan egrang di ajang Pameran Pembangunan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Kecamatan Baradatu Kabupaten Way Kanan yang resmi dibuka oleh Bupati Waykanan, Bustami Zainudin pada hari ini (Senin,23/2) di Lapangan Sriwijaya Kecamatan Baradatu hingga sampai 25 Februari di lapangan Sriwijaya Baradatu.
Pada kesempatan itu para siswa melakukan berbagai atraksi berjalan dengan mengunakan engrang di stan pameran SMPN 4 Baradatu.
Margo Subiyanto, S.Pd, Wakil Kepala Sekolah SMPN 4 Baradatu, mengatakan pada ajang pameran MTQ di Baradatu pihaknya sengaja memikat para pengunjung dan peserta MTQ dengan permainan tradisonal egrang dan layang-layang.
“Kami mengajak masyarakat untuk kembali membiasakan betapa banyaknya permainan tradisional yang dilupakan masyarakat khususnya para anak-anak. Pembuatanya yang mudah dibuat,sehat dan bercirikan budaya bangsa kita,” kata Margo.
Ditambahkan Margo pula bahwa gempuran pengruh zaman teknologi saat ini membuahkan berbagai jenis permainan yang memberikan dampak negative diantara banyaknya game elektronik maupun game di dunia maya yang mudah didapatkan oleh anak kita via internet yang itu justru membunuh kreativitas anak.
| Layang-layang yang dipamerkan para siswa SMPN 4 Baradatu |
Hal tersebut juga diamini Andi Sasmawadi S.Pd, guru pendamping di ajang pameran tersebut.
Andi berharap permainan tradisional yang ada di masyarakat itu lebih berkembang, terutama permainan tradisional yang selama ini kita semua belum antusias mengenalnya,
”Melalui¬ kegiatan MTQ Tingkat Kecamatan Baradatu betapa pentingnya membangun karakter anak yang religius dan berbudaya dengan menjunjung tinggi nilai budaya bangsa yang bercirikan kearifan lokal sehingga anak tak ada kesempatan untuk melakukan kegiatan yang negatif walau ketika mereka bermain diluar jam belajar, bahkan permainan tradisional diharapkan berkembang di masyarakat untuk membangun semangat keolahragaan dengan pondasi yang kokoh, yakni berbudaya olahraga tumbuh dan kuat serta hidup sehat dan bugar dalam aktivitas keseharian ,” papar guru Pkn di SMPN 4 Baradatu itu.
Layang-layang, layangan, atau wau (di sebagian wilayah Semenanjung Malaya) merupakan lembaran bahan tipis berkerangka yang diterbangkan ke udara dan terhubungkan dengan tali atau benang ke daratan atau pengendali. Layang-layang memanfaatkan kekuatat hembusan angin sebagai alat pengangkatnya.
Permainan tersebut diikenal luas di seluruh dunia sebagai alat permainan, layang-layang diketahui juga memiliki fungsi ritual, alat bantu memancing atau menjerat, menjadi alat bantu penelitian ilmiah, serta media energi alternatif.
Di beberapa daerah Nusantara layang-layang dimainkan sebagai bagian dari ritual tertentu, biasanya terkait dengan proses budidaya pertanian. Layang-layang paling sederhana terbuat dari helai daun yang diberi kerangka dari bambu dan diikat dengan serat rotan. Layang-layang semacam ini masih dapat dijumpai di Sulawesi.
Diduga pula, beberapa bentuk layang-layang tradisional Bali berkembang dari layang-layang daun karena bentuk ovalnya yang menyerupai daun. Di Jawa Barat, Lampung, dan beberapa tempat di Indonesia ditemukan layang-layang yang dipakai sebagai alat bantu memancing. Layang-layang ini terbuat dari anyaman daun sejenis anggrek tertentu, dan dihubungkan dengan mata kail.
Di Pangandaran dan beberapa tempat lain, layang-layang dipasangi jerat untuk menangkap kalong atau kelelawar.
Sementara permainan tradisional egrang atau jangkungan adalah galah atau tongkat yang digunakan seseorang agar bisa berdiri dalam jarak tertentu di atas tanah. Egrang berjalan adalah egrang yang diperlengkapi dengan tangga sebagai tempat berdiri, atau tali pengikat untuk diikatkan ke kaki, untuk tujuan berjalan selama naik di atas ketinggian normal.
Di dataran banjir maupun pantai atau tanah labil, bangunan sering dibuat di atas jangkungan untuk melindungi agar tidak rusak oleh air, gelombang, atau tanah yang bergeser. Jangkungan telah dibuat selama ratusan tahun. Terdapat beberapa jenis egrang, yakni; egrang pegangan, egrang pasak, Egrang drywall, Egrang pegas. Egrang di Indonesia biasa dimainkan ataupun dilombakan saat peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus. Egrang dengan versi lain juga dimainkan pada saat upacara sunatan.
Pada stan pameran SMPN 4 Baradatu dipanjang puluhan layang-layang dan engrang hasil karya siswa ditambah berbagai jenis ketrampilan produk kerajinan tangan diantaranya pot,bunga,tempat lilin dll yang dibuat dari daur ulang sampah disekolah tersebut.
Aan Frimadona Rosa





