Pameran Kayu Ara Angkat Pemikiran Anshori Djausal tentang Arsitektur dan Budaya Lampung
Teraslampung.com, Bandarlampung — Pemerintah Provinsi Lampung mendukung pameran Kayu Ara: Arsitektur, Teknologi, dan Budaya Lampung dalam Karya dan Pemikiran Anshori Djausal untuk memperkenalkan warisan pengetahuan dan budaya daerah kepada generasi muda.
Dukungan tersebut disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal melalui sambutan tertulis yang dibacakan Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan saat pembukaan pameran di Anjungan Lampung dan Contemporary Art Gallery, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu, 12 September 2026.
Pameran yang dikuratori Angga Wijaya itu berlangsung hingga 12 Oktober 2026. Materi yang ditampilkan mencakup foto, arsip, kliping koran, buku, gambar teknik, rancangan induk atau masterplan, video, serta dokumentasi perjalanan Anshori sebagai insinyur, arsitek, akademisi, dan budayawan.
Mirzani mengatakan pameran tersebut bukan sekadar penghormatan kepada seorang tokoh, melainkan upaya menghidupkan kembali gagasan dan pengetahuan yang telah berkembang selama lebih dari empat dekade.
“Perjalanan tersebut tidak berhenti pada karya yang telah dihasilkan, tetapi terus menjadi ruang untuk melahirkan gagasan, merawat pengetahuan dan memperkenalkan kekayaan arsitektur serta budaya Lampung kepada generasi berikutnya,” ujar Mirzani dalam sambutan tertulisnya.
Pameran ini mengangkat tiga tema utama, yakni arsitektur dan masyarakat, teknologi dan lingkungan, serta budaya Lampung. Ketiganya dirangkai melalui pendekatan seni kontemporer agar dokumentasi perjalanan Anshori dapat dibaca kembali oleh generasi sekarang.
Mirzani mengapresiasi keterlibatan Angga Wijaya bersama Hafiz Maha, Hartinis Permatasari, Arif Rahman, dan tim kreatif yang sebagian besar merupakan anak muda asal Lampung yang berkarya di Jakarta.
Menurut dia, keterlibatan generasi muda tersebut menunjukkan bahwa warisan intelektual tidak harus berhenti sebagai catatan sejarah. Arsip, cetak biru, publikasi, dan catatan penelitian dapat diolah menjadi karya baru yang membuka ruang dialog antargenerasi.
Teknologi dan identitas daerah
Pemikiran Anshori Djausal berkembang sejak dekade 1970-an, ketika modernisasi dan pendekatan teknokratis semakin kuat. Dalam kiprahnya, ia dikenal mengembangkan teknologi tepat guna dengan mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan, termasuk melalui teknik ferosemen.
Bagi Anshori, teknologi bukan semata-mata produk rekayasa, tetapi harus menjawab kebutuhan masyarakat dan sesuai dengan karakter lingkungan tempat teknologi itu diterapkan.
Pemikirannya juga berkembang selama berkiprah di Universitas Lampung. Ia terlibat dalam gagasan mengenai peningkatan kualitas perguruan tinggi serta berbagai persoalan pembangunan daerah, mulai dari infrastruktur, sosial budaya, ekonomi, lingkungan, hingga pemberdayaan kampung-kampung tua.
Salah satu karya yang lekat dengan identitas Lampung adalah Tugu Siger di kawasan Pelabuhan Bakauheni. Bangunan tersebut menjadi penanda visual bagi masyarakat yang memasuki Lampung melalui jalur penyeberangan dari Pulau Jawa.
Gagasan Anshori juga tercermin dalam penggunaan ornamen dan ragam hias Lampung pada sejumlah bangunan perkantoran, hotel, dan fasilitas publik. Karya-karya tersebut memperlihatkan upaya mempertemukan modernitas dengan identitas budaya lokal.
Mirzani menilai pendekatan semacam itu relevan bagi pembangunan Lampung ke depan. Kemajuan teknologi dan arsitektur, menurut dia, dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya serta penguatan karakter daerah.
“Kayu Ara menjadi simbol bahwa karya dan pemikiran tidak mengenal batas usia. Yang paling penting bukan hanya seberapa tinggi seseorang tumbuh, tetapi seberapa kuat akar pengetahuan yang ditanam dan seberapa luas martabat yang diberikan bagi masyarakat dan generasi mendatang,” kata Mirzani.
Ruang dialog lintas generasi
Pelaksana Tugas Direktur Operasional TMII Jaya Chandranegara mengatakan Contemporary Art Gallery dirancang bukan hanya sebagai tempat memajang karya, tetapi juga sebagai ruang pertemuan gagasan dan pertukaran perspektif.
Sejak diresmikan pada 28 Oktober 2023, galeri tersebut telah bekerja sama dengan 11 ekshibitor dan menyelenggarakan 14 pameran. Pameran Kayu Ara bersama Rimpang Digital menjadi bagian dari perjalanan galeri menuju penyelenggaraan pameran ke-15.
Jaya menilai kekuatan pameran Kayu Ara terletak pada upayanya mempertemukan arsitektur, teknologi, lingkungan, dan budaya Lampung dalam satu ruang. Budaya, menurut dia, tidak semestinya hanya diperlakukan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi perlu terus ditafsirkan agar tetap relevan dengan kehidupan masyarakat.
Pemerintah Provinsi Lampung berharap pameran tersebut dapat mendorong lahirnya gagasan dan karya baru dari generasi muda. Pengenalan terhadap akar pengetahuan daerah dinilai penting agar perkembangan teknologi dan kreativitas tidak menghilangkan identitas budaya.
Melalui pameran ini, perjalanan intelektual Anshori Djausal diperkenalkan kepada publik sebagai bagian dari upaya merawat pengetahuan lokal sekaligus memperluas pembicaraan tentang hubungan antara pembangunan, teknologi, lingkungan, dan kebudayaan.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)