Nanang R  Supriyatin: Puisi Bukan Sekadar Mengindah-indahkan Tulisan

Aug 27, 2026 - 08:00
0 10
Nanang R  Supriyatin: Puisi Bukan Sekadar Mengindah-indahkan Tulisan

Teraslampung.com, Bandarlampung — Penyair Nanang R Supriyatin mengatakan puisi bukan sekadar permainan kata untuk menghasilkan tulisan yang indah. Menurut dia, puisi merupakan cara penyair mengabarkan pengalaman dan kehidupan kepada khalayak.

“Puisi adalah cara kita menyentuh kehidupan dengan kaya dan membangunkan jiwa yang tertidur,” kata Nanang dalam Bengkel Sastra 2026 di Villa Dangau Kedaung, Kemiling, Bandarlampung, Rabu, 26 Agustus 2026.

Penyair asal Jakarta itu mengatakan ide puisi dapat berangkat dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan penulis. Pengalaman pribadi, kata dia, dapat diolah menjadi gagasan yang kemudian disampaikan melalui puisi.

Menurut Nanang, puisi modern memberi kebebasan kepada penyair untuk mengembangkan gagasan dan bentuk. Puisi dibangun melalui kekuatan makna, kejujuran, keunikan metafora, serta pilihan kata atau diksi.

Dalam sesi tersebut, Nanang mengenalkan sejumlah unsur pembangun puisi, antara lain diksi, metafora, simile, dan berbagai perangkat bahasa lainnya.

Materi kemudian dilanjutkan penyair Lampung Isbedy Stiawan ZS dengan tema “Puisi: Ide dan Proses”. Isbedy menguraikan proses kreatif penulisan puisi, mulai dari menemukan ide, menentukan sudut pandang, hingga memilih kata.

Penyair yang dijuluki Paus Sastra Lampung itu mengajak peserta membuat puisi dari kata-kata yang dikumpulkan bersama. Ia meminta setiap peserta menyumbangkan dua kata yang berkaitan dengan lokalitas pantai, dengan suasana senja dan malam. Kata yang sudah disebut peserta lain tidak boleh digunakan kembali.

Dari proses tersebut terkumpul sekitar 40 kata, di antaranya sampan, layar, pantai, dan ombak. Peserta kemudian diminta merangkai kata-kata itu menjadi puisi sekurang-kurangnya satu bait.

“Hasilnya sangat membahagiakan, puisi-puisinya bagus!” ujar Isbedy.

Setelah puisi selesai, peserta diminta merapikan dan mengembangkannya menjadi maksimal lima bait sebelum memberikan judul.

Selain Nanang dan Isbedy, Bengkel Sastra 2026 menghadirkan Ari Pahala Hutabarat, pemenang Kusala 2026 untuk buku puisi Nusantara, Amnesia, serta Yinda Dwi Gustiara, akademisi Program Studi Bahasa Lampung Universitas Lampung.

Bengkel Sastra 2026 mendapat dukungan Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Balai Bahasa Provinsi Lampung. Kegiatan berlangsung hingga 28 Agustus 2026.

Para peserta diwajibkan menyerahkan dua atau tiga puisi bertema bebas sebagai hasil bengkel. Puisi tersebut selanjutnya akan dialihbahasakan ke bahasa Lampung dan diterbitkan dalam bentuk buku dwibahasa.

Sesi hari kedua berlangsung hingga pukul 21.00. Kegiatan ditutup dengan evaluasi puisi karya peserta oleh Nanang R Supriyatin dan Isbedy Stiawan ZS.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User