Drs. Suyadi ‘Pak Raden’, Perginya Pengabdi Dunia Pendidikan Anak-anak Indonesia

Drs. Suyadi, maestro dan tokoh Pak Raden dalam serial film boneka “Si Unyil” (Foto: bintang.com) TERASLAMPUNG.COM–Dunia pendidikan Indonesia berduka ketika  Drs. Suyadi,  tokoh Pak Raden dalam serial “Si Uny...

Drs. Suyadi ‘Pak Raden’, Perginya Pengabdi Dunia Pendidikan Anak-anak Indonesia
Drs. Suyadi, maestro dan tokoh Pak Raden dalam serial film boneka “Si Unyil” (Foto: bintang.com)

TERASLAMPUNG.COM–Dunia pendidikan Indonesia berduka ketika  Drs. Suyadi,  tokoh Pak Raden dalam serial “Si Unyil” meninggal. Jumat malam (30/10/2015). Sosok yang sangat akrab dengan dunia anak-anak pada tahun 1980-an lewat film “Si Unyil” ini  wafat di RS Palni, Petamburan,Jakarta Barat, dalam usia usia 82 tahun.

Di Indonesia, sosok Drs. Suyadi sangat langka. Ia mencintai dan menghayati dunia pendidikan anak seperti menghayati hidupnya sendiri. Hingga akhir hayatnya, Drs. Suyadi tetap mengabdikan diri pada dunia anak-anak dan jauh dari gemerlap dunia pop yang mendatangkan harta dan kekayaan.

Pada masa tuanya, Pak Suyadi bisa dibilang miskin. Ia pernah beberapa kali sakit dan harus dirawat di rumah sakit,tetapi kesulitan untuk membayar biaya rumah sakit. Kondisi rumahnya pun di bilangan Jakarta Barat sangat memprihatinkan untuk ukuran seorang tokoh pendidikan yang mengabdikan diri untuk dunia anak.

Warga negara Indonesia yang mengalami masa kecil pada era tahun 1980-an dan kini berusia 40-50-an tahun pastilah mengenal dengan baik Pak Raden alias Pak Suyadi. Ia menjadi tokoh sentral film “Si Unyil” yang kala itu jadi tontonan favorit anak-anak dan disiarkan setiap hari Minggu di stasiun TVRI.

Film “Si Unyil” dengan tokoh Pak Raden, Bu Raden, Unyil, Usro, Cuplis, dan Pak Ogah adalah sebuah film boneka yang mengandung unsur didaktis yang kuat. Tema yang disuguhkan adalah peristiwa sehari-hari yang dekat dengan dunia anak-anak. Unyil sendiri berarti kecil. Tokoh Unyil digambarkan sebagai tokoh anak-anak seusia anak Sekolah Dasar yang memiliki kecerdasan bagus. Ia menjadi sentral cerita dan kisah petualangan film ini.

Boneka Unyil,  Pak Raden, Pak Lurah, dan Bu Lurah dalam serial “Si Unyil”. (Foto: wikipedia.org)

Kala itu, banyak kalangan bisa memanfaatkan tokoh Unyil untuk bisnis kaos. Unyil pun menjadi idola anak-anak pada masa itu,

Drs. Suyadi adalah tokoh di balik suksesnya serial “Si Unyil”. Ia membangun karakter tokoh Unyil tidak sembarangan, tetapi melalui riset dan pendalaman. Karakter Si Unyil didapatkan Pak Suyadi setelah dia pulang dari Prancis.

Pak Suyadi memang pernah belajar di Prancis untuk menekuni ilmu animasi pada 1961-1963. Alumni jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) ini kemudian memanfaatkan dirinya sendiri sebagai tokoh Pak Raden dengan ciri-ciri fisik berusia 60-tahun, berbadan agak gempal, berkumis tebal, alis tebal, dan agak feodal.

Serial “Si Unyil”  pertama kali ditayangkan di stasiun TVRI pada tanggal 5 April 1981. Meskipun film anak-anak, film ini pada kala itu juga menjadi favorit orang dewasa. Karakter kontras tokoh Pak Ogah yang selalu minta uang cepek (Rp 100) untuk tiap jasanya, misalnya, kemudian sangat terkenal dalam tata sosial masyarakat. Masyarakat di Indonesia pun kemudian menjuluki tukang pengatur lalu lintas swasta yang ada di perempatan jalan sebagai “Pak Ogah”. Itu karena mereka minta imbalan Rp 100 (mungkin sekarang berubah jadi Rp 1.000).

Karakter Pak Raden yang feodal dalam film “Si Unyil” agaknya memang mirip dengan latar belakang Drs. Suyadi yang terlahir dari keluarga ningrat Jawa. Ya, Drs. Suyadi adalah putra seorang Patih di Surabaya yang bernama Subekti Wirjokoesoemo. Ketika kecil, Suyadi dilarang menggambar oleh ayahnya. Namun, Suyadi bandel. Ia tetap hobi menggambar, bahkan kemudian kuliah di jurusan Seni Rupa ITB.

Pendidikan yang ditempuh Pak Suyadi tergolong sangat bagus pada eranya. Sebagai anak seorang priyayi, Suyadi bisa sekolah di sekolah untuk anak-anak orang Belanda. Antara lain di di  ELS (Europese Lagere School), sekolah setingkat Sekolah Dasar khusus untuk anak kulit putih dan anak pribumi dari golongan tertentu, pada 1940-an.

Suyadi lalu melanjutkan ke VHO (Voorbereindend Hoger Onderwijs) dan Geneskundige Hoge School (sekarang SMA 2), Surabaya, Jawa Timur. Kuliah di jurusan Seni Rupa ITB ditempuh pada 1952.

Pada  1961-1964 Suyadi ikut program beasiswa Pemerintah Prancis ke Paris. Di Prancis, Suyadi pernah  bekerja sebagai tenaga animator di Les Cineast Associest dan pelukis animasi Les Film Martin Boschet di Paris, Prancis.

Kecintaannya kepada Indonesia membuat Suyadi pulang ke Tanah Air.  Ia awalnya menekuni pekerjaan sebagai ilustrator. Namun, kecintaannya kepada dunia anak-anak dan pendidikan kemudian membawanya sebagai tokoh pendidikan lewat karya masternya: Film “Si Unyil”.

Setelah berhenti tayang di TVRI, “Si Unyil” sempat tayang di sejumlah stasiun TV. Namun, hal itu tidak membuat kesejahteraan Drs. Suyadi bertambah baik.

Kini “Si Unyil” juga ditayangkan di Trans TV dengan berubah bentuk menjadi serial pendidikan ilmu pengetahuan. Produser acara ini adalah Pracoyo Wiryo Utamo, alumni Universitas Negeri Jakarta yang juga menjadi pengagum Drs. Suyadi.

Boneka-boneka yang dulu dipakai dalam film “Si Unyil” kini menjadi koleksi Musium Wayang di Jakarta.

Pak Raden sudah pergi meninggalkan kita dan dunia pendidikan anak-anak Indonesia. Yang masih belum jelas hingga saat ini adalah: apakah Pak Suyadi mendapatkan royalti untuk karya maestronya dan sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan di Indonesia? Berapakah nilai royalti yang diterima Pak Suyadi?

Pertanyaan ini penting karena publik melihat ketekunan, jerih payah, dan pengabdian Pak Suyadi sangat kontras dengan kehidupan pada masa tuanya.

Dewi Ria Angela/Bambang Satriaji