Dagangan Diborong Bupati Lampura saat Pengajian Akbar, Para Pedagang Justru Rugi Besar

Feaby/Teraslampung.com Pedagang tampak lesu ketiga menagih hasil ‘borongan dagangan’ yang dilakukan Bupati Lampung Utara Agung Ilmu Mangkunegara pada acara pengajian akbar, Senin lalu (16/3). Dagangan para pedagang habis, tetapi mer...

Dagangan Diborong Bupati Lampura saat Pengajian Akbar, Para Pedagang Justru Rugi Besar

Feaby/Teraslampung.com

Pedagang tampak lesu ketiga menagih hasil ‘borongan dagangan’ yang dilakukan Bupati Lampung Utara Agung Ilmu Mangkunegara pada acara pengajian akbar, Senin lalu (16/3). Dagangan para pedagang habis, tetapi mereka rugi besar . 

Kotabumi–Berharap untung cepat karena dagangannya ‘laris manis’, tapi yang terjadi ‘tekor bandar’ alias rugi besar. Itulah yang dialami  para pedagang makanan dan buah-buahan yang dagangannya diborong Bupati Lampung Utara Agung Ilmu Mangkenegara untuk para peserta pengajian akbar, di Kompleks Islamic Center, Kotabumi, Senin (16/3) lalu.

Selasa (17/3), para pedagang itu mengeluh karena selain dibuat repot karena harus harus mondar – mandir sana – sini dan menunggu hingga siang hari demi mendapatkan haknya, para pedagang kecewa nilai barang dagangan mereka yang habis diborong oleh para peserta pengajian tidak sesuai dengan harga dagangan mereka.

“Nilai dagangan saya itu seharga Rp.750 ribu. Tapi Bagian Kesejahteraan Sosial hanya mau bayar Rp.300 ribu. Saya rugi banyak kalau cuma segitu bayarannya,” kata Lasmi, pedagang buah duku yang digratiskan kepada para peserta pengajian akbar, Selasa (17/3).

Tak sesuainya nilai pembayaran dengan harga barang dagangannya ini membuat dirinya nekad untuk bertemu dengan Bupati Agung Ilmu Mangkunegara. Beruntung, Bupati termuda di propinsi Lampung itu berhasil ditemuinya.

Ia mengaku sampai bercucuran air mata mengadukan nilai pembayaran yang akan dilakukan karena tidak sesuai dengan nilai barang dagangan yang ia jual. Bupati pun langsung merespon positif keluhannya dan mengarahkannya untuk kembali menemui Bagian Kesejahteraan Sosial (Kesos) terkait persoalan itu.

“Saya dari pagi ke sini (kantor Pemkab) mau nemui pak Agung (Bupati. Pak Agung memerintahkan ke sini (bagian Kesos) untuk menyelesaikan pembayarannya,” tutur perempuan muda ini.

Sementara Amsari, penjual roti yang dagangannya juga digratiskan oleh Bupati, mengaku kecewa karena harus menunggu siang hari untuk mendapatkan haknya. Sedangkan baik ia dan Lasmi sedari pagi telah tiba di kantor Pemkab. “Sejak pagi saya sudah ke sini untuk meminta hak saya.  Tapi harus menunggu sampai siang dulu baru dibayar,” katanya dengan nada kecewa.

Beruntung, setelah sempat melalui perundingan yang alot dengan sejumlah staf Bagian Kesos Pemkab, kedua pedagang ini berhasil mendapatkan haknya sesuai dengan yang diinginkan.

Di lain sisi, Kepala Bagian Kesos Pemkab, Sinar Barkah berkelit bahwa perkara ini hanya karena salah perhitungan dari pihaknya. Selain itu, pihaknya juga tak menginginkan adanya kemungkinan pedagang yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mengeruk keuntungan sebanyak – banyaknya.

“Persoalan ini hanya miskomunikasi saja,” dalih dia.

Kendati demikian, ia mengatakan telah menyelesaikan semua pembayaran tersebut sesuai dengan keinginan para pedagang. Saat menemui dirinya, pedagang yang bernama Lasmi sempat menangis tersedu – sedu terkait pembayaran yang tidak sesuai tersebut.

“Dia (Lasmi) nangis – nangis. Jadi saya percaya kalau dia memang benar,” katanya.