Tahun Baru Punya Siapa?
Oleh: Sudjarwo
Di suatu perempatan jalan dua orang sedang berbicara; “Bang, hari sudah ganti tahun lagi,” kata pengamen itu sambil menggesek senar gitarnya pelan, suaranya kalah oleh bising kendaraan. Pengemis tua di sebelahnya tersenyum tipis seraya menjawab: “Iya, tapi perut kita tetap sama. Lapar tak kenal kalender.”
Pengamen berhenti bermain dan berkata. “Orang-orang bilang tahun baru itu awal yang baik. Abang percaya?”. “Percaya atau tidak, kaki ini tetap melangkah ke sini tiap pagi,” jawab si pengemis sekenanya, sambil mengangkat kaleng receh. “Kalau aku libur, siapa yang akan kasih makan?”
Pengamen tertawa kecil, pahit. “Tadi malam aku main di perempatan sana. Kembang api ramai sekali. Tapi tak satu pun pengunjunga singgah mendengar lagu ku.”
“Mereka sibuk merayakan hidupnya,” sahut pengemis. “Kita cuma latar belakang. Kayak bangunan tua di foto pesta.” Pengamen menunduk. “Kadang aku iri. Mereka hitung detik menuju tahun baru, aku hitung receh buat beli nasi kucing.”
“Jangan iri,” kata pengemis pelan. “Iri itu terlalu mewah. Kita cukup bertahan saja.”
“Abang tidak capek?” tanya pengamen. “Capek itu pasti,” jawabnya. “Tapi berhenti lebih menakutkan. Berhenti berarti tak ada cerita besok.”
Pengamen kembali memetik gitar. Nadanya sendu. “Kalau suatu hari keadaan berubah, abang mau apa?”. Pengemis menatap jalan. “Aku mau duduk tanpa harus minta. Minum kopi tanpa dihitung receh.” Pengamen tersenyum tipis. “Aku mau main lagu tanpa dikejar satpol pp.”
Mereka terdiam sejenak.
“Tahun baru itu punya siapa, Bang?” tanya pengamen. Pengemis menghela napas. “Mungkin punya mereka yang punya pilihan. Kita cuma punya hari ini.”. Lampu merah menyala. Mereka kembali pada peran masing-masing, menunggu belas kasih yang tak pernah dijanjikan
Tahun baru itu punya siapa? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan sosial yang dalam. Setiap pergantian kalender dirayakan dengan kembang api, pesta, dan resolusi penuh harapan. Namun di balik sorak sorai itu, ada kenyataan yang berjalan tanpa jeda: orang-orang miskin tetap mengais di jalanan, pengemis masih mengulurkan tangan dengan tatapan lelah, dan mereka yang hidup di pinggiran moral maupun ekonomi terus bertarung demi sekadar seporsi nasi. Tahun baru datang sebagai simbol, tetapi tidak selalu sebagai perubahan.
Dalam lanskap kota-kota hari ini, kontras sosial semakin nyata. Di satu sisi, pusat perbelanjaan penuh diskon dan perayaan. Di sisi lain, trotoar tetap menjadi ruang hidup bagi mereka yang tidak punya pilihan lain. Pergantian tahun tidak otomatis mengubah struktur ketimpangan yang sudah lama mengakar. Kemiskinan bukan sekadar soal kurangnya uang, melainkan hasil dari sistem yang menormalisasi ketidakadilan. Ketika lapangan kerja menyempit, harga kebutuhan pokok naik, dan akses pendidikan tetap timpang, maka tahun baru hanya menjadi angka baru bagi mereka yang hidup dari hari ke hari.
Fenomena ini diperparah oleh cara masyarakat memaknai keberhasilan dan kegagalan. Narasi populer sering menempatkan kemiskinan sebagai akibat dari kurangnya usaha individu. Padahal, realitas sosial menunjukkan bahwa tidak semua orang memulai dari garis yang sama. Ada yang sejak lahir sudah berada dalam lingkaran keterbatasan, dengan pilihan yang sempit dan risiko yang besar. Dalam konteks ini, menyalahkan korban justru menjadi cara paling mudah untuk membebaskan diri dari tanggung jawab kolektif.
Sementara itu, ruang-ruang kekuasaan kerap jauh dari denyut kehidupan rakyat kebanyakan. Ketika kekuasaan dijalankan tanpa empati, kebijakan publik kehilangan rohnya. Korupsi dan penyalahgunaan wewenang bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi pengkhianatan terhadap harapan banyak orang. Setiap sumber daya yang diselewengkan berarti kesempatan yang hilang bagi mereka yang paling membutuhkan: layanan kesehatan yang lebih baik, pendidikan yang terjangkau, dan perlindungan sosial yang manusiawi. Dalam situasi seperti ini, tahun baru justru terasa ironis, dirayakan oleh mereka yang diuntungkan, tetapi menjadi beban bagi mereka yang terus dirugikan.
Di sisi lain, ada kelompok yang hidup di wilayah abu-abu moral karena tekanan ekonomi dan sosial. Pilihan hidup yang keras sering kali lahir dari keadaan yang keras pula. Menghakimi tanpa memahami konteks hanya memperpanjang jarak antara “kita” dan “mereka”. Pendekatan yang lebih manusiawi menuntut keberanian untuk melihat akar masalah: kemiskinan struktural, kekerasan, ketidaksetaraan gender, dan minimnya perlindungan sosial. Tanpa itu, solusi yang ditawarkan hanya akan bersifat sementara dan kosmetik.
Kajian kontemporer tentang kota dan kemiskinan menunjukkan bahwa ruang publik semakin eksklusif. Kota dibangun untuk konsumsi, bukan untuk keberlanjutan hidup semua warganya. Mereka yang tidak sesuai dengan citra “ideal” sering didorong ke pinggiran, baik itu secara fisik maupun simbolik. Tahun baru dalam konteks ini menjadi panggung besar yang menutupi retakan di bawahnya. Kita diajak merayakan optimisme, tetapi jarang diajak membongkar ketidakadilan yang membuat optimisme itu tidak merata.
Namun, pertanyaan “Tahun Baru Itu Punya Siapa?” tidak harus berakhir pada keputusasaan. Ia bisa menjadi undangan untuk refleksi dan tindakan. Tahun baru seharusnya menjadi momentum untuk meninjau ulang prioritas bersama: apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar menyentuh yang paling rentan, apakah kebijakan publik dirancang dengan mendengar suara mereka yang terdampak, dan apakah solidaritas sosial masih menjadi nilai yang hidup, bukan sekadar slogan.
Perubahan memang tidak terjadi dalam semalam, dan tidak selalu terlihat spektakuler seperti kembang api. Ia sering lahir dari kerja sunyi: kebijakan yang adil, pengawasan yang konsisten, partisipasi warga, dan empati yang dipraktikkan dalam keseharian. Tahun baru akan benar-benar bermakna ketika ia tidak hanya dirayakan oleh sebagian orang, tetapi dirasakan sebagai harapan nyata oleh mereka yang selama ini tertinggal.
Pada akhirnya, tahun baru adalah cermin yang memantulkan siapa kita sebagai masyarakat. Jika cermin itu menunjukkan ketimpangan, ketidakpedulian, dan keserakahan, maka tugas kita bukan memecah cermin, melainkan memperbaiki wajah yang terpantul di dalamnya.***
*Guru Besar Universitas Malahayati Lampung



