Pameran "Per-Empu-An" Angkat Peran Perempuan dalam Kebudayaan

Pameran "Per-Empu-An" Angkat Peran Perempuan dalam Kebudayaan
Foto bersama usai pembukaan pameran (Dok.Kombir)

Teraslampung.com, Bandarlampung --  Pameran seni rupa bertajuk Per-Empu-An: Cahaya dan Budaya dibuka di Ruang Apresiasi Taman Budaya Lampung, Senin, 1 Juni 2026. Pameran yang digagas Komunitas Bireo bekerja sama dengan Forum Perupa Lampung itu menampilkan karya-karya yang merefleksikan peran perempuan dalam kebudayaan, ingatan kolektif, dan realitas sosial.

Pembukaan pameran dilakukan oleh Firmansyah Y. Alfian. Sejumlah tokoh seni dan akademisi turut hadir, antara lain Helmy Azeharie, Pulung Swandaru, Sapto Wibowo, Doni Andrianto Basuki, dan Muprihan Thaib.

Kurator pameran, David, mengatakan karya-karya yang dipamerkan menghadirkan berbagai perspektif mengenai pengalaman perempuan melalui medium seni rupa.

“Seniman menghadirkan perspektif perempuan melalui bahasa visual yang beragam dan berlapis. Pendekatan ini memungkinkan pembacaan yang mendalam terhadap relasi antara tubuh, ruang, dan makna,” kata David saat memberikan pengantar kuratorial.

Menurut dia, karya-karya tersebut tidak hanya merepresentasikan pengalaman personal para seniman, tetapi juga menjadi refleksi atas posisi perempuan dalam kehidupan sosial dan budaya yang lebih luas.

Ketua Umum Komunitas Bireo, Ahmad Rio Nur Saputro, mengatakan pameran ini berupaya menempatkan perempuan sebagai bagian penting dalam proses pembentukan dan pewarisan kebudayaan.

“Ingatan perempuan, baik yang bersifat personal maupun kolektif, menjadi sumber narasi yang membentuk identitas budaya. Melalui karya seni, memori tersebut dihadirkan kembali dalam konteks kekinian,” ujarnya.

Selain pameran, penyelenggara menggelar diskusi publik bertema perempuan, cahaya, dan budaya. Diskusi menghadirkan Imas Sobariah, David, dan Joko Irianta sebagai narasumber.

Dalam diskusi tersebut, Imas Sobariah menyoroti pentingnya kesetaraan perempuan dalam ruang kebudayaan. Menurut dia, perempuan memiliki peran sebagai pencipta makna sekaligus penjaga nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.

“Perempuan bukan hanya bagian dari kebudayaan, tetapi juga penghasil makna dan penjaga nilai-nilai budaya. Cahaya menjadi metafora pengetahuan dan kesadaran yang lahir dari pengalaman perempuan,” kata Imas.

Pameran mendapat perhatian dari kalangan akademisi dan mahasiswa yang hadir dari berbagai perguruan tinggi di Lampung. Tingginya partisipasi generasi muda dinilai menunjukkan meningkatnya minat terhadap seni rupa sebagai medium refleksi sosial dan budaya.

Melalui kegiatan tersebut, Komunitas Bireo berharap dapat mendorong lahirnya komunitas seni rupa baru sekaligus memperkuat ekosistem kesenian di Lampung. Pameran Per-Empu-An: Cahaya dan Budaya diharapkan menjadi ruang pertemuan gagasan, ekspresi kreatif, dan nilai-nilai kemanusiaan yang relevan dengan perkembangan masyarakat saat ini.

(Christian Saputro)