Perpeloncoan di Fakultas Teknik Unila: Jangankan Mahasiswa Baru, Para Dosen pun Takut
BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com — Seorang dosen di Universitas Lampung mengungkapkan, selama ini nyaris tidak ada pihak yang berani mengungkap kasus perpeloncoan di arena Program Orientasi Pengenalan Perguruan Tinggi (Propti) di Fakultas Teknik...
BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com — Seorang dosen di Universitas Lampung mengungkapkan, selama ini nyaris tidak ada pihak yang berani mengungkap kasus perpeloncoan di arena Program Orientasi Pengenalan Perguruan Tinggi (Propti) di Fakultas Teknik Univesitas Lampung.
Bahkan, ketika ada anak dosen Unila yang menjadi mahasiswa baru menjadi korban perpeloncoan para mahasiswa senior pun kasusnya nyaris hanya ‘bisik-bisik’. Mereka takut kalau kasus kekerasan terungkap dan tersebar luas anaknya justru akan menjadi korban perpeloncoan selama setahun penuh.
Bukti ketakutan itu pun tampak ketika para orang tua menghadap Dekan Fakultas Teknik Unila, Dr. Suharno, Jumat pagi (12/9/2014).
Seorang dosen Unila yang diutus pejabat Unila karena keluarga pejabat Unila itu jadi korban perpeloncoan mengatakan, dirinya nyaris korban amuk mahasiswa. Para mahasiswa itu marah lantaran para orang tua mahasiswa baru mengusulkan agar malam keakraban tahun ini ditiadakan.
“Saya dikepung puluhan mahasiswa. Bayangkan, saya ini dosen tetapi diperlakukan begitu. Mereka juga nyaris berkelahi dengan para orang tua mahasiswa baru. Namun, dalam situasi yang nyaris chaos seperti tadi pagi, saya nekat jika mereka berani menghajar saya. Saat itu saya sudah tidak takut mati lagi,” kata dosen itu kepada teraslampung.com, Jumat malam (12/9/2014).
Dosen itu mengaku sudah lama mendengar aksi kekerasan terjadi pada saat pengenalan kampus bagi mahasiswa baru di Fakultas Teknik Unila. “Sepertinya tidak ada dosen di Unila yang tidak tahu, Pada 2011 tatun lalu bahkan para mahasiswa Teknik tawuran dengan mahasiswa FISIP. Beberapa bagian gedung FISIP yang belum selesai pembamgunannya dirusak. Tapi ketika itu kasusnya diselesasikan dengan perdamaian dengan alasan bentrok hanya karena salah paham,” kata dia.
Salah satu orang tua mahasiswa yang anaknya menjadi korban perpeloncoan mengaku, anaknya sempat minta izin kepadanya agar tidak melanjutkan ikut pengenalan kampus karena dipelonco kakak seniornya.
“Anak saya mengaku, semua mahasiswa baru harus siap dikerjai para seniornya, Para mahasiswa baru harus memanggil kakak senior perempuan dengan sapaan atu (kakak perempuan) dan senior laki-laki yay (kakak laki-laki). Mahasiswa baru laki-laki harus dipelontosi rambutnya. Kalau tidak menurut akan ditendang dan ditampar,” kata dia.
Dr. Budiono, dosen Fakultas Hukum Unila yang ikut dalam pertemuan antara pihak orang tua mahasiswa dengan Dekan Fakultas Teknik Unila pada Jumat (12/9), mengaku berdasarkan kesaksian para mahasiswa baru, ternyata aksi perpeloncoan tidak hanya melibatkan para senior yang masih kuliah.
“Patut diduga, alumni Fakultas Teknik pun ikut terlibat,” kata Budiono.
Akibat kekerasan yang dilakukan para senior dan alumni tersebut, setidaknya dua mahasiswa baru Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Unila harus dirawat di rumah sakit, yakni AD dan FH. AD dirawat di RS Urip Sumoharjo Bandrlampung, sedangkan FH dirawat di RS Bumi Waras Bandarlampung.
Propti di FT Unila pada tahun ini digelar sejak 25 Agustus hingga Jumat (12 September 2014).Propti diakhiri dengan malam keakraban. Malam keakraban biasanya dilakukan di luar Kota Bandarlampung. (Tim Teras)



