Paguyuban Ddayaningratan Malioboro Bangkit Kembali Jadi Tujuan Wisata

Paguyuban Ddayaningratan Malioboro Bangkit Kembali Jadi Tujuan Wisata
Sebagian anggota Paguyuban Djayaningratan usai acara syukuran.

TERASLAMPUNG.COM, YOGYAKARTA – Paguyuban Djayaningratan yang berlokasi di kawasan Jalan Dagen Malioboro, Kelurahan Sosromenduran, Kemantren Gedong Tengen, Kota Yogyakarta resmi bangkit kembali setelah sempat vakum sejak tahun 2020.

Bertempat di sekretariat Ndalem Jayaningratan (satu kompleks dengan SD Netral C Yogyakarta), paguyuban ini menggelar acara syukuran pada Sabtu (30/5/2026). Acara ini menandai momentum aktifnya kembali kepengurusan di bawah ketua baru, Budi Prayitno, sekaligus perayaan atas diperolehnya Nomor Induk Kebudayaan (NIK) resmi. Saat ini, mereka juga tengah merehabilitasi gedung secara swadaya untuk dijadikan ruang pameran Omah Seni Djayaningratan yang representatif.

Legalitas NIK Jadi Motor Penggerak Ekonomi dan UMKM

Ketua Paguyuban Djayaningratan yang baru, Budi Prayitno, menegaskan bahwa legalitas e-NIK yang telah dikantongi menjadi modal kuat untuk memajukan seni, budaya, dan mendongkrak ekonomi warga Sosromenduran.

"Tujuan kita murni untuk kemasyarakatan dan seni, terutama mengangkat UMKM di wilayah Sosrodipuran agar citra kita sebagai kampung wisata tidak hilang," ujar Budi.

Untuk memperkuat struktur seni, paguyuban ini bersikap terbuka dan merangkul tokoh luar, seperti seniman lukis Bang Rinaldy serta kurator Kang Jajang Kawentar. Fokus kegiatan paguyuban ini akan mencakup seni tari, seni rupa, batik, hingga pameran lukisan di kawasan Malioboro. Ke depan, mereka berharap mendapatkan dukungan pendanaan untuk menyelesaikan renovasi tempat.

Kebangkitan ini disambut antusias oleh tokoh pemuda setempat, Raffi dan Bhimo. Dua kelompok pemuda di wilayah tersebut kini bersatu dan siap mendukung penuh sebagai wadah ekspresi bagi anak-anak, ibu-ibu, hingga seniman lokal yang bakatnya sempat terpendam.

"Kami ke depannya bisa merangkul pemuda-pemuda untuk terjun mengaktifkan kegiatan di Djayaningratan ini. Pokoknya kami pemuda siap support," tegas Raffi didampingi Bhimo. 

Tantangan Digitalisasi dan Penguatan Kampung Wisata

Tenaga Ahli Pembinaan Kampung Wisata Kota Yogyakarta, Bayu Aji Radityo (Radit), menilai pembentukan indikasi ini sudah sangat baik. Namun, ia mengingatkan agar paguyuban ini segera menyatukan visi dan misi agar kegiatan tidak kembali menyusut setelah mendapatkan NIK. 

"Paguyuban seni budaya di kelurahan itu adalah wadah, yang menjual nantinya adalah kampung wisatanya," urai Radit.

Ketua Paguyuban Djayaningratan Budi Prayitno menerima secara simbolik Nomor Induk Kebudayaan dari Fajar Kurniawan S.IP. Anggota Komisi II DPRD Kota Yogyakarta. Sabtu, 30 Mei 2026 Dalam acara Syukuran Paguyuban Djayaningratan di Pendopo NDalem Jayaningratan.

Ia menyarankan beberapa langkah strategis perdana bagi paguyuban:

Fokus Kegiatan Produktif dengan membuat acara yang mampu mendatangkan tamu dan pendapatan bagi masyarakat serta pelaku seni. Digitalisasi Portofolio yaitu mendokumentasikan profil pelaku seni (lukis, patri kaca, tari) secara lengkap sebagai rekam jejak digital. Tak kalah penting memperluas Jaringan, dengan memanfaatkan NIK sebagai 'KTP Pelaku Seni' dapat menembus festival tingkat kota, provinsi, hingga nasional. Selain itu menggandeng pelaku UMKM lokal di setiap pagelaran seni, pungkas Radit. 

Dukungan Dewan, Dorong Status Cagar Budaya dan Kelas Wisata

Anggota Komisi II DPRD Kota Yogyakarta, Fajar Kurniawan, S.I.P., yang hadir pada acara syukuran tersebut, memberikan tanggapan sangat positif dan siap mengawal perkembangan Paguyuban Djayaningratan. Lokasinya yang strategis di dekat Malioboro dinilai potensial menjadi destinasi wisata baru bagi turis domestik maupun mancanegara.

Sebagai bentuk dukungan konkret, DPRD Kota Yogyakarta telah mendampingi pengurusan e-NIK dan berkomitmen membantu promosi melalui Dinas Pariwisata serta jaringan hotel sekitar. Fajar juga mengusulkan agar paguyuban membuka kelas pengalaman (experience class).

"Saya usul ke ketua paguyuban untuk buka kelas seni lukis atau membatik bagi wisatawan. Mereka butuh produk yang dibuat sendiri sebagai memori untuk dibawa pulang," kata Fajar. 

Terkait urgensi infrastruktur sekretariat yang saat ini sedang direhabilitasi, Fajar berencana mengusulkan bangunan Ndalem Jayaningratan tersebut agar ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Dengan status legal tersebut, Pemerintah Kota maupun Provinsi nantinya dapat memberikan perhatian reguler melalui anggaran renovasi dan pemugaran resmi.

Jajang R Kawentar