Musim Hujan Belum Usai, Bandar Lampung Perlu  Waspada dan Lebih Bijak Mengelola Air

Musim Hujan Belum Usai, Bandar Lampung Perlu  Waspada dan Lebih Bijak Mengelola Air

Oleh: Muhammad Hakiem Sedo Putra
Akademisi Bidang Sumber Daya Air

Kondisi cuaca di Kota Bandar Lampung hingga saat ini masih berada dalam fase musim
penghujan. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih kerap terjadi dan berpotensi
menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari genangan, banjir lokal, hingga gangguan aktivitas  masyarakat. Situasi ini menuntut kewaspadaan bersama, tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat.

Dari sudut pandang keilmuan sumber daya air, musim hujan tidak dapat dilihat semata sebagai peristiwa alam yang datang dan pergi begitu saja. Hujan merupakan bagian dari siklus hidrologi yang memiliki keterkaitan erat dengan kondisi lingkungan, tata kota, serta perilaku manusia.

Ketika hujan turun dalam intensitas tinggi dan durasi panjang, sementara daya dukung
lingkungan menurun, maka risiko bencana keairan menjadi sulit dihindari. Bandar Lampung sebagai kota pesisir dengan topografi beragam memiliki kerentanan tersendiri. Permasalahan drainase yang belum optimal, alih fungsi lahan, serta minimnya ruang resapan air
menyebabkan air hujan lebih banyak menjadi limpasan permukaan daripada tersimpan sebagai cadangan air tanah. Akibatnya, hujan lebat kerap berujung banjir, sementara pada musim kemarau justru terjadi kekurangan air bersih.

Kondisi ini seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Masyarakat perlu meningkatkan
kepedulian terhadap lingkungan, dimulai dari hal-hal sederhana seperti menjaga kebersihan
saluran air, tidak membuang sampah sembarangan, serta menggunakan air secara lebih bijak. 

Kesadaran bahwa musim hujan panjang sering kali diikuti oleh musim kemarau yang juga
berkepanjangan perlu ditanamkan sejak dini agar penggunaan air tidak bersifat konsumtif dan
boros. Pengelolaan air yang bijak bukan hanya soal menghemat, tetapi juga soal memahami bahwa air adalah sumber daya terbatas yang harus dijaga keberlanjutannya. Tanpa perubahan perilaku, ancaman krisis air domestik di masa depan bukanlah hal yang mustahil, terutama di wilayah perkotaan dengan pertumbuhan penduduk yang pesat.

Di sisi lain, peran pemerintah menjadi sangat krusial. Penataan tata kota yang berwawasan
lingkungan, perbaikan dan pemeliharaan sistem drainase, serta penyediaan infrastruktur
pengelolaan air hujan harus menjadi agenda prioritas. Pemerintah juga perlu memperkuat
edukasi publik mengenai risiko bencana keairan dan pentingnya konservasi air sebagai bagian dari adaptasi terhadap perubahan iklim.

Regulasi yang berpihak pada kelestarian lingkungan juga perlu ditegakkan secara konsisten.
Aturan tersebut tidak boleh dipahami sebagai beban bagi masyarakat, melainkan sebagai
instrumen perlindungan jangka panjang bagi kota dan generasi mendatang.

Musim hujan yang masih berlangsung ini hendaknya tidak hanya direspons dengan kewaspadaan sesaat, tetapi juga dengan upaya membangun kesadaran kolektif. Kolaborasi antara masyarakat yang peduli dan pemerintah yang responsif merupakan kunci untuk mewujudkan Bandar Lampung yang lebih tangguh, aman, dan berkelanjutan dalam menghadapi dinamika iklim yang semakin tidak menentu.***

*Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T., adalah dosen di Program Studi Rekayasa Tata Kelola AirTerpadu, Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Ahli dalam bidang hidroogi Forensik dan Sumberdaya Air. Aktif dalam riset pengelolaan sumber daya air, konservasi lingkungan, serta edukasi kebencanaan di masyarakat